Beringin, yang disebut juga waringin atau kayu ara (bahasa Sambas) dan menurut Wikipedia (ki ara, ki berarti “pohon”). Pohon ini (beringin) dikenal sebagai tumbuhan pekarangan dan tumbuhan hias pot. Pohon Beringin dengan nama latinnya adalah “Ficus benjamina”  telah tumbuh sudah sejak lama di bumi Indonesia hingga usianya saat ini mencapai ratusan tahun seperti yang tumbuh di Keraton Yogyakarta. Beberapa jenis pohon beringin seperti “Ficus” dari suku ara-ara-an atau “Moraceae”.

Pohon beringin yang tumbuh dengan rindang dan dapat dapat tumbuh dengan tinggi menjulang sering kali dianggap suci atau angker oleh penduduk yang mendukungnya (penduduk setempat). Sesaji sering diberikan pada pohon beringin ini sebagaimana yang kita ketahui di Pulau Jawa. Pohon Beringin ini yang umurnya semakin tua dan membesar dianggap sebagai tempat kekuatan magis berkumpul. Banyak makhluk-makhluk astral yang menghuni pohon beringin ini.

Pohon Beringin yang tumbuh ditengah kota Singkawang dahulunya adalah sebuah pohon yang besar. Namun sekarang pohon itu menjadi kecil karena pertumbuhannya ditelan oleh waktu. Walau demikian, pohon itu tetap berdiri tegak sebagai penyambut tamu yang dating dari berbagai daerah di Indonesia.

Cerita dibalik pohon beringin tersebut mungkin sama dengan cerita dari daerah lain tentang keangkeran dan mistiknya yang mengandung magis. Menurut beberapa nara sumber yang kami temui bahwa mereka sering melihat kenampakan nenek-nenek tua yang sedang bermain dengan anak dan cucunya di pohon tersebut. Kenampakan itu sering terjadi pada larut malam sekitar pukul 01.00 dini hari hingga pukul 03.00 wiba (waktu setempat). Cerota lain bahwa ada salah seorang pemuda yang kencing secara tidak sengaja di samping atau disekitar pohon tersebut. Akhirnya ia (pemuda) tersebut mengalami gatal-gatal pada alat kelaminnya (zakar). Lama-kelamaan alat kelaminnya tumbuh koreng dan bernanah.

Sudah beberapa mantra dan dokter yang ia temui, namaun hasilnya nihil. Kemudian ia menemui seorang paranormal di daerahnya. Paranormal (dukun) tersebut mengatakan bahwa ia salah kerjaan, yaitu kencing sembarangan.

Kemudian pemuda itu minta maaf kepada pohon tersebut (nenek-nenek penunggu pohon beringin tua, ceritanya juga ada di internet “Misteri Beringin Tua Bikin Kemaluanku Membusuk Oleh Jemy Haryanto”). Berdasarkan pandangan mata batin, juga dapat terlihat bahwa penunggu pohon beringin tua itu ada. Namun ia tidak mengganggu orang, kecuali orang tersebut berbuat yang tidak-tidak.

Dengan ini, penulis menghimbau kepada kawan-kawan jagalah pohon beringin tua tersebut sebagai pohon yang dilindungi. Karena pohon beringin itu adalah saksi bisu perjuangan masyarakat Sambas (tempo dulu) sekarang ”Kota Singkawang”. Dan pula jangan kencing sembarangan serta jangan lupa untuk berdo’a jika buang air (air kecil atau air besar) yang  bukan tempatnya (di hutan, di sawah, di gunung, di laut, di sungai, dan lain-lainnya seharusnya permisi dulu, nanti pamali orang Jawa bilang).  




Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours