Berdasarkan judul di atas, mengapa Muharram disebut bulan Muharram? Lucu dan pastinya itu adalah pertanyaan anak PAUD atau pertanyaan anak TK, dan mungkin pertanyaan anak SD serta tidak menutup kemungkinan Mahasiswa. Sebuah pertanyaan yang “bodoh” (mungkin), mengapa Muharram disebut bulan Muharram? Mengapa penulis membuat artikel ini, ya karena banyak diantara siswa SMP dan SMA serta anak SD, yang bertanya kepada penulis dan kepada masyarakat dilingkungannya.

Bulan Muharram disebut bulan Muharram adalah karena pada bulan itu, adalah bulan yang dihormati dan tidak boleh melakukan peperangan, diharamkan untuk berperang, haram sama juga artinya dengan dilarang ataupun tidak boleh dilakukan. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran Surah At-taubah ayat 37, yang artinya “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu* adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. At Taubah: 37).

Keterangan*: maksudnya “Muharram, Rajab, Zulqaedah dan Zulhijjah adalah bulan-bulan yang dihormati dan dalam bulan-bulan tersebut tidak boleh diadakan peperangan. Tetapi peraturan ini dilanggar oleh mereka dengan mengadakan peperangan di bulan Muharram, dan menjadikan bulan Safar sebagai bulan yang dihormati untuk pengganti bulan Muharram itu. Sekalipun bulangan bulan-bulan yang disucikan yaitu, empat bulan juga. Tetapi dengan perbuatan itu, tata tertib di Jazirah Arab menjadi kacau dan lalu lintas perdagangan terganggu.

Perhatikan firman Allah swt, yang artinya “Bulan haram dengan bulan haram*, dan pada sesuatu yang patut dihormati**, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Baqarah: 194).

Keterangan* Kalau umat Islam diserang di bulan haram, yang sebenarnya di bulan itu tidak boleh berperang, maka diperbolehkan membalas serangan itu di bulan itu juga.
Keterangan** Maksudnya antara lain ialah: bulan haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah haram (Mekah) dan Ihram.

Dalam suatu riwayat dikemukakan peristiwa sebagai berikut: Pada bulan Dzulqaidah Nabi SAW dengan para shahabatnya berangkat ke Mekah untuk menunaikan umrah dengan membawa qurban. Setibanya di Hudaibiah, dicegat oleh kaum Musyrikin, dan dibuatlah perjanjian yang isinya antara lain agar kaum Muslimin menunaikan umrahnya pada tahun berikutnya. Pada bulan Dzulqaidah tahun berikutnya berangkatlah Nabi SAW beserta shahabatnya ke Mekah, dan tinggal di sana selama tiga malam. Kaum musyrikin merasa bangga dapat menggagalkan maksud Nabi SAW untuk umrah pada tahun yang lalu. Allah Swt membalasnya dengan meluluskan maksud umrah pada bulan yang sama pada tahun berikutnya. Turunnya ayat tersebut di atas (S. 2: 194) berkenaan dengan peristiwa tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.)

Itulah sebabnya, mengapa bulan Muharram disebut bulam Muharram.


Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours