Sabtu, 18 April 2015

apakah Hukum Onani Menurut Islam Serta Kerugian Onani



Onani, tiga suku kata yang tidak asing lagi bagi kaum laki-laki, atau mungkin bagi kaum hawa-pun sudah bukan bahasa yang tabu lagi. Onani bukan hanya dilakukan oleh kaum adam (laki-laki), akan tetapi juga dilakukan oleh kaum hawa (perempuan). O-Na-Ni dalam arti kata plesetan adalah O= Oh, Na= Nikmatnya Ni= Ini (melakukan atau melayni diri sendiri). Dalam arti lain Onani disebut juga Swalayan. Swa artinya diri sendiri, sedangkan Layan adalah melayani, jadi swalayan adalah melayani diri sendiri. Dalam artian tersebut dapat kita simpulkan bahwa swalayan adalah melakukan perbuatan yang dapat memuaskan diri sendiri dengan cara melayani diri sendiri.

Onani nun jauh sebelumnya, berasal dari Yunani. Karena seorang pemuda bernama “onan” sering melakukan perbuatan tersebut. Pada waktu itu “onani” belum punya nama. Setelah ia memberitahukan perbuatannya dan diketahui oleh orang banyak, maka perbuatannya tersebut, disebut dengan “onani”.

Setelah kita mengetahui artian onani dan sejarah onani secara singkat, mari kita lihat dari sudut agama. Apakah onani itu haram? Ya, haram hukumnya, berdasarkan firman Allah swt dalam Al-Quran surah Al Israa' ayat 32 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Israa’: 32).

Berdasarkan ayat di atas sudah jelas sekali, bahwa mendekati zina saja itu tidak baik, apalagi melakukannya dengan pasangan yang tidak sah (melacur) atau pula selingkuh bahasa orang sekarang. Selingkuh diartikan dengan selingan keluarga utuh. Jika kita melakukan “onani” berarti kita telah melakukan zina tangan.

Setelah kita mengetahui hokum onani, mari kita lihat dari segi kesehatan. Dulu penulis pernah mendengar Dr. Boike mengatakan bahwa “onani” itu tidak berbahaya dan tidak mempunyai efek samping. Dan bukan hanya beliau yang mengatakan demikian, banyak pula artikel yang memuat tentang onani tersebut dengan mengatakan tidak berbahaya, yang ada hanya gangguan takut akan dosa atau merasa berdosa atau pula merasa bersalah dan lain sebagainya.

Namun, penulis berbeda pendapat dengan beliau-beliau atau para tokoh psikolog atau dokter, saya mengatakan bahwa onani itu berbahaya bagi kesehatan, apalagi onani itu dilakukan setiap hari tanpa dibarengai dengan makanan yang seimbang atau obat vitamin atau obat suplemen. Kenapa? Orang yang kawin saja, akan merasakan capek yang amat sangat ketika selesai melakukan sek, hormon-hormon habis, hormon memang berproduksi, akan tetapi ada batas-bats tertentu, semua produksi itu kan berdasarkan makanan orang tersebut, bagaimana jika makannya tidak teratur, teratur makannya, akan tetapi hanya nasi dan sayur doang. Nanti akan mengakibatkan sakit pinggang, daya ingat kurang, alat kelamin sakit, karena tidak memakai losen yang baik, ini menggunakan sabun B29, Odol, sampu, resik (enak), dan lain-lain, dan akhirnya setelah lanjut usia, mau kecing sakit (kencing pakai slang). Itulah bahayanya “onani” jika terlalu sering bias lumpuh. Tidak kuat jalan Boy. Ok itu saja, jika anda tidak percaya, boleh buktikan sendiri, mengapa Islam ada siklus haid atau siklus jima’ menurut nabi atau yang diajarkan Nabi. Itulah jawabnya, agar hormon bisa berproduksi dengan normal dan baik, agar hormone-hormon yang lain tidak ikut digunakan dalam proses pnyemprotan air mani yang keluar saat onani. Perhatikan lagi, perbedaan orang yang melakukan sek dengan orang yang jarang melakukan sek.

Jika Nabi melakukan jima’ itukan seminggu dua kali, malam Jum’at dan malam Minggu, dan mana pula KB-KB-an waktu itu, tapi anaknya tidak ramai-ramai tu, jadi bagaimana ia melakukan KB, ya di atur jarak (maksudnya melihat dari siklus haid si istrilah), masalahnya kita bukan Nabi, pasti begitu jawabnya ya, ya iya lah… tapi kita harus mencontoh yang baik, jangan mencontoh yang jelek. Sebenarnya contoh-contoh diet, makan seimbang, empat sehat lima sempurna, dan lain-lainnya, semua itukan sudah diajarkan Nabi Muhammad saw, kitanya aja yang kurang percaya dan tidak menghiraukannya.

Ini, setelah Mas Dedy diet ala OCD, baru ikut-ikutan (tagliq), padahal pada zaman Nabi sudah diajarkan pada umatnya, kita aja yang acuh-acuh, ya khan?Menurur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...