Kamis, 16 Juli 2015

Tradisi Kue Pasung, Simbol Alat Membelenggu Setan



sumber foto : winnyasaari.wordpress.com
Pada bulan yang penuh berkah dan mulia ini, banyak orang-orang berlomba-lomba untuk beramal sebanyak-banyaknya. Karena di bulan ini pintu sorga dibuka selebar-lebarnya, sedangkan pintu neraka ditutup sekuat-kuatnya. Pada bulan puasa ini, ibu-ibu rumah tangga pada sibuk untuk membuat kue atau menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Biasanya kebiasaan orang-orang kampung pada bulan yang penuh rahmat ini saling berbagi kue (senukaran) saling tukar kue.

Kue yang dibuat oleh masyarakat untuk berbuka puasa itu bermacam-macam diantaranya kue lapis, donat, bakwan, dokok-dokok, copan, bingka, dan banyak lagi yang lainnya. Begitu juga dengan kebiasaan masyarakat yang tinggal di tanah Borneo, khususnya Pantai Utara Kabupaten Sambas Tanah Terigas. Masyarakat yang tinggal dipedesaan biasanya membuat kue untuk berbuka puasa adalah apam (apam), otak unte (bubur sumsum), kelappon pancit (ondel-ondel), ukkal inti (dokok-dokok), ukkal pissang (naga sari), passong (kue pasung), dan yang tak kalah pentingnya adalah bubur pedas khas Sambas yang tidak terlupakan, dan banyak lagi kue-mueh yang lainnya.

Bermacam-macam kue dihidangkan pada saat ingin berbuka puasa, air liurpun tumpah dan bercucuran, apalagi melihat kue pasung yang berwarna merah dan putih. Jika kue pasung dibuat dengan warna merah, berarti rasanya manis, jika kue pasung tersebut warnanya putih, maka rasa pasung itu lemak-pedas (dicampur dengan cabe rawit yang dipotong-potong kecil) biar hot. Dengan membuat kue pasong ini, semangat para penduduk atau masyarakat semakin kuat, karena sebentar lagi hari raya akan datang. Kue pasong ini adalah simbol dari berakhirnya bulan Ramadhan, seperti tak ubahnya sholat tarawih, semakin hari semakin sedikit.
sumber foto : mabmonline.org

Kue pasong sangat digemari oleh masyarakat di Kabupaten Sambas, makna lain dari tradisi buat kue pasong pada nujuhlikur ini adalah masong antu (atau membelenggu setan). Karena disimbolkan dengan kata “pasong”. Pasong berarti mengikat atau memelenggu setan, seperti layaknya orang gila yang dipasung di dalam bilik atau kurungan 2 x 3. dengan membuat kue pasong, maka akan berakhirlah bulan Ramadhan yang penuh dengan Rahmat dan nikmat. Karena di bulan ini, semua agama, semua suku ikut merasakannya. Klik di sini “Tradisi Nujuhlikur, Penutup Bulan Ramadhan”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...