Allah adalah tuhannya umat Islam. Semua umat Islam yang ada di dunia ini menyembah Allah Subhanahu Wata’ala lima waktu sehari semalam dengan ditambah sholat-sholat sunat yang lainnya. Akan tetapi apakah selama ini kita pernah memikirkan, ketika menghadap Allah kita hanya biasa-biasa saja (santai). Ambil contoh misalnya:

1.            Sholat dengan cepat.
Perhatikan, ketika orang sholat mungkin termasuk kita (mungkin), kita sholat dengan cepat tidak menghiraukan salah satu rukun sholat, yaitu tumani’nah. Sholat itu adalah dialog kita dengan Allah SWT, bacalah dari setiap arti dari bacaan sholat termasuk surah Al-Fatihah dan bacaan yang lainnya. Bandingkanlah ketika kita sholat dengan ketika kita menghadap orang-orang berpangkat, pejabat-pejabat atau guru, serta kepala sekolah. Kita bicara dengan sopan, hormat, tunduk, dengan adab yang sangat sopan, harus pakai saya. Tapi ketika kita sholat, kita baca Al-Fatihah dengan cepat, pakai singkat (bacaan yang tiga kali dibaca satu kali), semua bacaan dibaca dengan cepat. Waktu sholat biasanya dilakukan selama lima menit, akan tetapi lima menitpun tidak sampai.

2.            Sholat hanya dengan memakai pakaian yang biasa-biasa saja.
Perhatikan, ketika orang sholat mungkin termasuk kita (mungkin), ketika sholat hanya dengan memakai pakaian yang biasa-biasa saja. Tidak menggunakan pakaian yang rapi, bersih, putih, baju muslim, baju baru, tidak menggunakan wewangian (minyak wangi non alkohol), dan lain sebagainya.

Mereka berkata, “terlalu ribet ustazd” bagaimana ketika waktu kita kerja atau dinas, Ustaz? Masalah kerja atau dinas, tidak menjadi soal, akan tetapi ada dari individu yang lain, dia membawa kain (sarung) untuk sholat bagi yang laki-laki. Sudah dibawanya dari rumah. Yang pastinya “mau atau tidak”nya kita ini. Lalu bagaimana dengan kami ustaz, yang perempuan ini? Bagi yang perempuan tidak masalah, mereka kan menggunakan mukena, jadi semua pakaiannya kan terlindungi oleh mukena.

Coba kita bandingkan, jika kita mengadap atau menemui pacar atau pejabat. Kita memakai baju yang cantik, indah, rapi, bersih, wangi, disetrika, dengan gaya dan penampilan yang gagah, yang imut, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana kita menghadap Allah? Secara umum (tidak semuanya) memakai baju yang lusuh, tidak disetrika, tidak memakai wewangian, pakai kaos kutang (blong), dan lain sebagainya.

Pernah kita ketika sholat memakai baju baru yang baru kita beli hari ini? Mungkin kita sholat dengan menggunakan baju baru hanya pada saat sholat Id. Coba sekali-kali gunakanlah atau pakailah baju baru ketika sholat (baju yang baru dibeli), katakan pada Allah “ya Allah, ni rezeki dariMu, hamba belikan baju baru, terima kasih atas pemerianMu ya Allah, semoga baju baru ini (baju ini) mendatangkan rahmat dan kebaikan bagiku”, begitu bahasanya atau yang lainlah kata-katanya sesuai dengan maunya kita.

3.            Sholat tidak berdo’a atau wirid.
Ketika mereka selesai sholat, mereka cepat-cepat keluar dari masjid. Mereka tidak lagi berdo’a atau wirid kepada Allah SWT. Allah berkata bahwa kita “sombong”, kita mau meminta kepada-Nya. Orang termiskin di dunia ada tiga, yaitu ketika ada orang yang mengucapkan salam, ia tidak menjawab salam, ketika ada orang mengucapakan shalawat, ia tidak menjawab shalawat, dan yang ketiga, apabila dia selesai sholat, dia tidak berdo’a kepada Allah. Maka berdo’alah dan berwiridlah agar kita tidak termasuk orang-orang yang miskin.

4.            Sholat mengingat-ngingat yang lain.
Banyak orang (termasuk saya) apabila dalam sholat sering teringat sesuatu dan bahkan tidak diingat sama sekali, pikiran itu kadang saja datang dengan sendirinya tanpa dipikirkan. Namun ada juga sebagain orang yang memikirkan atau menghayalkan sesuatu dalam sholat.

5.            Perintah Allah selalu diabaikan.
Perintah Allah selalu kita abaikan, misalnya sholat, sering kita tunda-tunda, tunggu sebentarlah, masih ada waktu, tunggu lima menit lagi lah, masih ada waktu, sholatkan hanya lima menit, pasti tidak ketinggalan, kita termasuk orang-orang yang telah melalaikan sholat, kita yang rugi, dalilnya ada. Coba bandingkan dengan perintah atasan, guru, bupati, pak pati, pak camat, bu camat, pak kades, bu kades, dan lain sebagainya. Semuanya kita patuhi, kita ikuti, meskipun hati kita tidak suka.

Coba kita lihat lagi, dengan perintah pantat. Kita patuh sekali dengan perintah pantat, sehingga kita abaikan perintah Allah SWT. Walaupun waktu apa, jika sudah perintah pantat, kita akan lari atau permisi mau kebelakang. Perintah orang tua, sama dengan perintah Allah yang sering kita abaikan. Jika perintah atasan, tidak dapat kita hindari, disuruhnya ini dan itu, kita patuhi, namun hari merongos. Ridho Allah, rhido orang tua....

Semoga bermanfaat buat kita semua. 

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours