Kamis, 15 Januari 2015

SMS, Saro’an Makan Syakban Sebuah Tradisi Di Bumi Terigas Yang Lagendaris


ilustrasi menu makan sya'ban
sumber foto : info-sambas.blogspot.com
Syakban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan hijriyah. Nama bulan Sya’ban berarti “pemisahan”, disebut demikian karena orang-orang Arab saling berpencar dan berpisah pada bulan ini untuk mencari air. Sebelum bulan Sya’ban adalah bulan Rajab dan setelah Sya’ban adalah bulan suci Ramadhan (bulan puasa) yang sangat mulia. Yang mana di bulan suci Ramadhan ini umat Islam di seluruh dunia di wajibkan berpuasa selama satu bulan penuh.

Khusus di bulan Sya’ban di Kabupaten Sambas, di bumi Terigas mempunyai keunikan tersendiri dalam pelaksanaan di bulan Sya’ban ini, yaitu tradisi makan saprahan bulan Sya’ban dari rumah ke rumah bagi yang mampu. Orang Sambas pada umumnya menyebut bulan Sya’ban ini dengan nama bulan Ruwah atau bulan Arwah. Pada bulan ini bagi orang-orang yang keluarganya sudah pulang kerahmatullah, maka di rumah tersebut akan melaksanakan Sya’banan, para remaja biasanya menyebut bulan Sya’ban ini dengan nama “SMS” kepanjangan dari “sarok-an makan Sya’ban”.

Sarok-an makan Sya’ban atau tradisi sedekah nasi di Bumi Terigas adalah tradisi yang legandaris. Mengapa disebut dengan tradisi yang lagendaris? Karena suasana atau acara makan ini sudah dilakukan sejak zaman kesultanan Sambas hingga sekarang masih dilakukan atau dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Sambas. Biasanya pada sebuah keluarga akan mengadakan acara makan Sya’ban itu pada siang hari, atau sore, serta pada malam hari, dengan mengundang anggota keluarganya baik yang dekat maupun jauh dan para tetangganya. Jika pelaksanaan makan Sya’ban pada siang hari, maka bagi ibu-ibu makannya pada pukul 09.30 atau jam 10.00 wiba, sedangkan jika malannya sore hari, maka ibu-ibu makannya pada pukul 16.00 atau 16.30 wiba, yang disebut oleh orang sambas dengan sarok-an tidak kemallam-an balik (pulangnya tidak sampai malam hari/waktu magrib).

Acara makan Sya’ban itu dilakukan secara saprahan yang merupakan ciri khas suatu acara yang bersifat religius masyarakat melayu Sambas. Jika di Kabupaten Sambas acara makan-makan selalu dilaksanakan dengan acara saprahan, seperti acara sunatan, pernikahan, tepung tawar, antar uang atau ngantar cikram, syukuran, arisan, dan lain-lainnya.

ilustrasi saprahan makan sya'ban
sumber foto : remajapaloh.blogspot.com
Biasanya tradisi sedekah nasi atau sarok-an makan Sya’ban (SMS) ini dilakukan oleh semua orang, namun besar kecilnya acara tersebut tergantung dari ekonomi yang dimiliki oleh orang tersebut. Biasanya sebuah keluarga yang memiliki uang yang banyak (budget) besar mengadakan tradisi Makan Sya’ban ini lebih besar porsinya (jumlah saprahan atau jumlah hidangan yang akan disuguhkan kepada tetangga yang diundang) dan mengundang banyak warga. Patokan dalam menentukan porsi hidangan yang akan disuguhkan adalah Saprahan. Satu saprahan biasanya mencapai 6 orang. Biasanya masyarakat mengadakan Sedekah Nasi ini 10 atau 20 saprah bahkan lebih, tergantung dari budjet masing-masing.

Bagi keluarga yang mempunyai biaya kecil, biasanya cukup mengundang seseorang yang dianggap ahli dalam agama untuk membacakan do’a pada acara Makan Sya’ban tersebut. Pelaksanaan Sarok-an Makan Sya’ban (SMS) ini dilaksanakan selama satu bulan penuh sejak awal bulan Sya’ban hingga akhir bulan Sya’ban. Namun 1-15 hari bulan Sya’ban masyarakat sangat jarang sekali yang melakukan Ngeluarkan Sya’banan. Maksud dari ngeluarkan adalah seseorang yang melakukan acara makan-makan, baik itu makan Sya’ban atau acara lainnya. Pada hari ke 15-25 setelah acara Nispu Sya’ban barulah masyarakat ramai yang melaksanakan ngeluarkan Sya’ban. Pada hari yang 5 terakhir inilah yang tidak teratur lagi, biasanya Pak Lebai (orang yang membaca do’a) menjadi bingung, dalam pembagian waktunya. Biasanya dalam satu Rt itu, 2-3 orang yang ngeluarkan Syakban dengan waktu yang sama.

Pada bulan Sya’ban ini, masyarakat atau penduduk Kabupaten Sambas makan dengan kenyang-kenyang, pada bulan Ramadhan, mereka berlapar selama satu bulan, setelah itu pada bulan Syawal, mereka pesta dengan takbir keliling. Alllahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...