Waktu itu hari mendung, aku tersesat dari kumpulanku di suatu kota yang masih asing bagiku. Kota ini, dimana tempat aku tersesat dan membawa diri

Waktu itu hari mendung, aku tersesat dari kumpulanku di suatu kota yang masih asing bagiku. Kota ini, dimana tempat aku tersesat dan membawa diri karena kemiskinan hidup di desa yang jauh dari perkembangan negara Indonesia ini, disebut orang-orang dengan nama “Kota Amoy” atau nama lainnya adalah Kota Singkawang atau Seng Ke Jong bahasa cina kek nya. Aku terlantung-lantung di kota ini, tapi aku bukan gembel atau gepeng, aku manusia biasa saja yang serba kekurangan dan tidak punya apa-apa. Aku lari dari rumah, tapi permisi dengan ibu dan bapakku, aku mohon do’a restu kepada mereka agar aku sukses di rantau.
Ketika aku sudah lelah berjalan, tiba-tiba hari hujan dengan deras. Aku berteduh dibawah pohon yang rindang, namun aku tetap kebasahan. Sesaat tanpa aku sadari, karena aku asik melamun dan menghayal kapan hujan ini akan berubah menjadi butiran-butiran emas 24 karat, agar aku cepat kaya dan akan kubantu seluruh orang miskin di Indonesia ini, khususnya di kampung halamanku. Dan akan kubantu presiden dan antek-anteknya agar mereka tidak korupsi lagi, karena yang mereka korupsikana itu adalah bagian dari uangku, titik peluhku dan keringat darah kedua orang tuaku.
Tiba-tiba muncul dihadapanku seorang gadis kecil memberiku sebuah payung, ia tersenyum kepadaku. Hatiku bertanya “siapakah gadis kecil ini? Mengapa ia sudi membantuku, sedangkan ia tidak mengenaliku sama sekali?” Lamunanku sesaat enyah entah kemana. “Ambillah, Bang... hujan semakin deras, mungkin dengan payung ini dapat membantu abang”, katanya kepadaku. Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih kepadanya. Belum sempat aku bertanya siapa namanya, ia pergi begitu saja meninggalkanku dengan menaiki sebuah mobil kijang berwarna hijau. Mobil kijang itu melesat begitu cepat dalam curahan hujan yang begitu deras.
Setelah mendapatkan payung tersebut, aku melanjutkan perjalananku dalam derasnya hujan. Langkahku terhenti ketika aku melihat sebuah masjid yang begitu indah dengan menara yang tinggi menjulang berwarna hijau. Orang bilang nama masjid itu “Masjid Raya Kota Singkawang”. Akupun mampir di Masjid untuk sholat Luhur. Di dalam sholatku, aku bermunajat kepada Tuhan, agar kehidupanku lebih baik dari sekarang ini. Setelah aku selesai sholat, aku termenung dengan duduk diteras masjid. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang gadis kecil yang menepuk bahu kananku. Aku terkejut... “astarfirullahul ‘azim”, ucapku. Gadis kecil itu tertawa melihatku yang terperanjat seperti jantungan. Wajah gadis kecil itu tidak asing bagiku, ternyata dia yang meberiku payung.
“Sendirian...” tanyaku.
“Tidak...! bersama bapak, tu di sana”, jawabnya.
“Sedang apa di sini?” tanyaku kembali.
“Tidak apa-apa, cuma main aja”, jawabnya manja.
“Main?! Dimasjid kok main, emangnya bapakmu tidak sholat?”, tanyaku sambil menoleh ke arah bapaknya yang sedang berbicara dengan teman-temannya.        
“Sudah tadi...”, jawabnya sambil menatap ke seluruh tubuhku. Aku pura-pura tidak tahu kalau dia sedang melihat tubuhku yang aneh, yang selama ini mungkin tidak pernah dilihatnya sama sekali. Maklum aku kan cacat, jadi dia merasa heran dengan pemandangan yang sedang berlangsung di depan pelupuknya.
“Namamu siapa?”, tanyaku membuyarkan pandangannya padaku.
“E...e... Putri ...”, jawabnya agak grogi.
Tidak lama kemudian, bapaknya datang menghampiri kami, dan salaman padaku seraya menyebutkan namanya.
“Sapari...” katanya.
Akupun menyebutkan namaku yang tidak kalah bagus dengan namanya.
“Sugianto” jawabku.
“Dari mana”, tanyanya.
“Dari Tebas, Pak!”, jawabku singkat.
“Sedang apa, banyak sekali bawaan barangmu?”, tanyanya pengen tau.
“Tidak apa-apa, Pak... Biasa seperti ini”, jawabku mengalihkan pandanganku ke masjid.
“Sepertinya, anakku suka padamu. Kamu penyayang ya, sama anak-anak?”, tanyanya.
“Tidak Pak, mungkin anak bapak yang berlebihan, mungkin dia melihat saya seperti orang aneh atau asing yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Jadi dia pengen lebih tau tentang saya, lihat saja pandangannya bila menatap saya. Seolah-olah dia mau tahu banyak tentang saya, mengapa tubuh saya seperti ini, apa penyebab tubuh saya seperti ini, siapa pelaku yang menyebabkan tubuh saya seperti ini. Mungkin seperti itulah yang ada dalam pikirannya, Pak”, jelasku kepada bapak itu.
“Ya, mungkin saja”, katanya.
Aku mulai resah, aku ingin segera meninggalkan bapak itu. Aku merasa tidak enak, anaknya selalu menatapku. Seolah-olah aku pencuri dimatanya. Sedangkan baru saja jumpa disaat hujan, entah apa mimpi anak itu, ucap hati kecilku.
“Maaf, Pak.. saya ada urusan, saya permisi Pak”, kataku kepada bapak tersebut.
Akupun melangkah sambil menenteng tasku yang penuh dengan baju-naju yang sudah lusuh dan usang. Sekitar sepuluh langkah aku meninggalkan mereka, tiba-tiba anak kecil itu memanggil aku.
“Bang... tunggu...” katanya.
Aku terkejut, dan menoleh ke arahnya. Anak kecil itu Putri  berlari kecil kearahku. Akupun melangkah mendekatinya.
“Ada apa, Dik?” tanyaku.
“Ini, dompetnya jatuh, kok uangnya hanya sedikit, mana mau makan?” tanya anak kecil tersebut.
Waduh usil sekali bocah ini, ucap hati kecilku.
“Tidak apa-apa, yang penting bisa makan”, jawabku.
“Mana bisa mau makan, uangnya hanya sedikit”,
“Makkasih, ya...Abang pulang dulu”, ucapku pada anak kecil itu dan segera permisi.
Tiba-tiba bapaknya memanggilku.
“Tunggu....”, teriaknya.
“Apa lagi, ni...!”, ucap hati kecilku.
Diapun menghampiriku, begitu pula aku.
“Ada apa, Pak... ada yang bisa saya bantu?”, tanyaku kepada bapak Sapari.
“Mau ke mana kamu”, tanyanya.
“Mau pulang, Pak”, jawabku singkat.
“Sini, duduk sebentar”, ajaknya sambil menuntunku ke teras masjid. Dan kami pun duduk di sana.
“Ada apa, Pak?” tanyaku heran dan bingung. “Ada apa dengan bapak ini, apa ada yang salah dengaku”, ucap hati kecilku.
“Maaf, ya...saya langsung aja, tanpa basa-basi. Begini... Saya tahu, kamu musafir dan tidak tahu ke mana yang akan dituju. Kamu ingin mencari perubahan dalam hidup, dalam pekerjaan, dan kamu ingin berubah serta punya cita-cita yang tinggi, yaitu ingin jadi “orang”.
Aku terdiam, dari mana dia bisa tahu, sedangkan aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepadanya. Wajahku mulai berubah menjadi agak sedih, tapi aku tetap tidak mau menangis di depannya. Sedangkan dia bukan siapa-siapaku, aku harus tegar seperti “Tegar si pengamen”. (maaf waktu itu belum ada tegar kali ya). Aku berusaha menyembunyikan air mata di bawah pelupukku.    
“Iya...!”, jawabku singkat.
“Bagaimana jika kamu tinggal di rumah saya?”, tanyanya kepadaku.
Aku hanya diam, kemudian bapak itu berbicara lagi.
“Akan saya jadikan kamu anak angkat. Bagaimana, mau?”, ajaknya padaku.
Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus memenuhi ajakannya atau sebaliknya, menolak. Aku dihampiri oleh anak kecil itu, kemudian ia duduk disampingku. Dan berkata kepadaku.
“Ayo lah, Bang... ikut bersama kami... tidak apa, bapakku baik, kok...” ajaknya kepadaku.
Dalam diam aku berpikir, krenyat-krenyit dahiku memikirkan antara menolak dan ikut bersama mereka.
“Malam ini kamu tidur di mana?”, tanya bapak Sapari memecahkan lamunanku.
“Tidak tahu, Pak...”, jawabku singkat.
“Maka dari itu, ikutlah dengan bapak, untuk sementara kamu ikut dengan kami, setelah itu, kamu pikirkan setelah kamu di rumah bapak. Bagaimana, Bang...?” tanyanya.
Sesaat aku terdiam. Kemudian....
“Iya, lah, Pak... saya ikut dengan bapak”, jawabku.
Aku setuju dengan ajakan bapak Sapari dan anaknya Putri . Anaknyapun tersenyum kepadaku, dan akupun membalas senyumannya. Kemudian tanpa rasa malu dan ragu ia menggenggam tanganku dan meneteng aku menuju mobil mereka.
“Naik mobil, Pak...?”, tanyaku kepada Pak Sapari.
“Iya, memang kenapa?”, tanyanya.
“Saya tidak bisa naik mobil Pak, mabuk... saya tidak pernah naik mobil... maklum saya orang kampung, Pak”, kataku kepada bapak Sapari.
“Saya dari sini kesitu saja (sambil menunjuk ke arah pasar) sudah mabuk, Pak”, tambahku.
Putri tertawa, ia mentertawakan aku.
“Hha... ha... ha... ha ... wong deso ya, Bang...”, gledeknya.
“Iya...”, jawabku.
“Saya jalan kaki saja ya, Pak... saya sudah biasa jalan kaki”, kataku.
“Jauh, Bang... rumah kami jauh dari sini... tidak apa-apa, Bang. Masa mau jalan kaki, Bang?” ucap Putri kepadaku.
“Tidak apa-apa Dik, Abang sudah biasa jalan kaki di kampung”, alasanku kepada Putri.
“Iya sih, Bang... itukan kampung, ini kan kota”, tambah Putri kepadaku.
“Tidak apa-apa, Bang... Cuma dekat kok, rumah bapak kira-kira 5 km lah dari sini”, kata Pak Sapari kepadaku.
“Kamu tahan saja muntahnya, jika mau muntah,,, muntahkan saja. Di mobil bapak kantong ada, kantong roti Kak De!i”, kata bapak Sapari mencoba menenangkanku.
“Kak De, Pak...siapa itu?”, tanyaku kepada Pak Sapari.
“Ya ini, Kak De...”, jawab Pak Sapari kepadaku sambil menepuk pundak Putri dengan perlahan-lahan.
“Oh... jadi base (nama panggilan dalam bahasa Sambas, anak nomor tiga) Adik ini Kak Longya... jadi saya memanggilnya dengan sebutan Kak Longsaja ya, Pak”, kata ku kepada Pak Sapari.
“Ya, terserah Abang, mau panggil Putri juga boleh, Kak Long juga boleh... ya terserahlah”, katanya.
“Panggil dengan Kak Long aja bang... Putri tidak mau jika dipanggil Putri”, sahut Putri.
“Ayo lah, Bang cepat... jangan pikir-pikir lagi”, desak Putri kepadaku.
Putri terus menarik-narik tangan ku, kami semakin dekat dengan mobil kijang warna biru. Kemudian Putri membuka pintu dan menyuruhku masuk ke dalam mobil. Keringat jagung mulai keluar dari dahiku.
“Bismillahi raohmanirrohim”, ucapku.
Sedangkan Putri mentertawakanku. Mungkin selama ini ia tidak pernah melihat orang kampung yang sebodoh ini dan senorak aku, pikirku. Aku duduk dipinggir sekali, kaca jendela aku buka lebar-lebar agar udaranya masuk dengan leluasa. Putri duduk disampingku, kami duduk di belakang bapaknya. Bapak Sapari nyetir dengan santai, gas pun ditancap, mobilpun berjalan dengan laju. Baru saja sekitar 1 kilo-an, kepalaku sudah pusing tujuh keliling. Tubuhku terasa oleng mau roboh, kepalaku berat sekali, sedangkan perutku terasa penuh oleh angin yang sewaktu-waktu akan keluar lewat mulutku membawa segala yang ada di dalam perut ini, aku mau muntah.
Aku mengambil plastik di dekatku, yang sejak dari tadi sudah Putri siapkan di dekatnya. Aku sudah tidak tahan lagi menahan gas yang akan keluar dari mulutku.
“Oooeekkkk....”, aku muntah di dalam kantong berwarna hitam.
“Iiiii....”, ucap Putri sambil menoleh ke arahku.
Aku jadi malu kepadanya, anak sekecil dia tidak mabuk, sedangkan aku diusia 30 tahun saat itu, mabuk. Kata orang-orang minum hanya seteguk, mabuknya sebotol. Tanpa aku kira sama sekali, dan tanpa aku sadari, karena aku masih konsen dengan rasa mualku yang mau muntah. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menempel di leherku. Putri mengurut-ngurut leherku dan mengusap belakangku agar aku tidak muntah.
“Entah apa yang ada dalam benak anak kecil ini, selama ini aku tidak pernah diberlakukan seperti ini oleh anak-anak sekecil dia, atau oleh orang-orang dewasa, gadis-gadis dewasa (cewek), kecuali ibu dan adik-adik perempuanku. Jika aku ke mana-mana hanya cacian yang kudapatkan, serta sorotan tajam sebuah penghinaan ditambah dengan gelak tawa yang mencomoh. Tapi kali ini,,, kenapa lain, ya”, ucap hati kecilku.  
“Udah... udah ... Kak Long... tidak usah...!”, ucapku kepadanya.
“Kenapa? Biar Putri bantuin, agar anginnya keluar dan Abang tidak muntah lagi”, jawabnya kepadaku.
Aku jadi tidak enak sendiri. Aku jadi malu kepada bapaknya yang sejak dari tadi melirik ke arah kami. Entah apa yang ada dalam pikiran bapak Sapari, mudah-mudahan tidak berfikir yang bukan-bukan.
“Sudahlah, Long... sekarang sudah agak baikan... Abang sudah tidak mual lagi”, ucapku kepada Putri, padahal semua itu boong belaka. 
“Yang bener...!”, katanya sambil tersenyum ke arahku.
“Iya.. iya ... benar kok”, kataku.
“Tidak apa-apa, sebentar lagi kita datang kok, ke rumah bapak... ya sekitar ½ km lah, kira-kira”, kata Pak Sapari menambahkan.
Mobil terus melaju, aku hanya diam mengatur napas dan perasaanku. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa mabuk ini. Tapi kepalaku berat sekali, semakin kubawa tidur semakin berat, dan mau muntah. Kutahan muntahanku yang berikutnya di dalam mulutku, agar aku tidak ketahuan mau muntah lagi. Namun,aku sudah tidak tahan lagi, mulutku sudah penuh, dan..... aku muntah lagi. Kini kantong plastik hitam sudah penuh dengan muntahanku, dan kubuang lewat jendela kaca.
Namun, apa yang terjadi, ketika aku membuang muntahanku lewat jendela kaca, ada orang yang sedang bersepeda dibelakang kami. Dan... akhirnya muntahanku mengenai tubuh orang tersebut. Karena aku mendengar orang itu teriak, dan kulihat dari kaca belakang. Bapak Sapari berkata kepadaku.
“Makanya, Bang... jika ingin membuang muntahan atau apa, lihat-lihat dulu, nanti bisa mengenai orang lain. Ternyata benarkan, muntahan lagi... pasti orang itu marah-marah dan mengumpat-ngunpat kita”, kata Pak Sapari kepadaku.
“Iya, Pak. Maaf... saya tidak tahu, Pak”, ucapku dengan penuh sesal.
Sedangkan Putri asik mentertawakan aku, karena keculunanku.
“Hha... ha ... ha... ha ... makanya bang lihat-lihat”, katanya.
“Iya, esok-esok tidak lagi, dech... “, jawabku pada Putri sambil menyeka keringat kasarku dengan tangan yang sudah gemeteran karena manahan lapar dan loyo.
“Dasar kampungankan, norak”, ucap hati kecilku.
Tidak lama kemudian, mobil yang melaju belok kanan dan berhenti.
“Sheeeetttt” mobil distop. Aku terhenyak ke depan lalu ke belakang.
“Kenapa, ni... kenapa berhenti? Mogok, ya...?”, tanyaku.
“Tidak... kita sudah sampai, Bang”, jawab Putri kepadaku sambil membukakan pintu mobil buatku.
“Ini rumah, Bapak. Silakan masuk...”, ajak Pak Sapari.
“Kak Longe e... ajak Abangmu masuk ke dalam, dan langsung bawa ke kamar atas, ya”, tambah Pak Sapari kepada Putri.
“Iya, Pak...”, jawabnya.
“Ayo Bang... cepetan”, ajaknya Putri.
Meskipun agak pusing dan lemah, akupun turun dari mobil. Aku melihat sekelilingku, kulihat rumah yang begitu besar dengan dua lantai. Halamannya juga luas yang penuh dengan bunga serta beberapa batang pohon rambutan serta satu batang pohon asam.
“Wahhhhh... besar sekali rumah ini, ya... dua lantai lagi, halamannya luas, bunga-bunganya banyak, ada rambutan dan ada pohon asam”, ucapku.
“Ahhh Abang, jangan bengong lagi lah, ayo kita ke atas...”, ajak Putri sudah tidak sabar.
Putri menarik tanganku yang sudah kering dan berbulu halus. Sebelum ke atas, bapak Sapari memperkenalkan aku sama istrinya.
“Bu, ini Bang Anto, ia seorang musafir dari Tebas, kami bertemu di Masjid Raya, namun sebelumnya di depan CV. Arli Kak Long telah melihat dia dan memberinya payung, karena dia berteduh di bawah pohon ketapang. Setelah itu kamipun meninggalkannya, ternyata di Masjid Raya kami berjumpa lagi, karena bapak menemui teman bapak dari Sambas, yaitu Nono. Bapak kasihan melihatnya, jadi untuk sementara waktu biar bang Anto ini tinggal bersama kita, terserah dia lah nanti, apakah ia mau tinggal atau bermalam saja di rumah. Karena menurutnya dia tidak tahu tempat yang akan ditujunya, dan di mana akan tidur malam nanti. Jadi bapak ajak lah ia ke rumah. Kebetulan Kak Longpun senang dengan bang Anto ini. Bagaimana Ma...bolehkan...?”, jelas Pak Sapari kepada istrinya.
Akupun salaman dengan istri Pak Sapari, sambil kusebutkan namaku, dan ku cium tangannya sebagi wujud penghormatanku kepadanya. Istri pak Saparipun menyebutkan namanya.
“Anto, Bu... orang-orang di kampung sering memanggil saya dengan Bang Anto”, kataku memperkenalkan diri.
“Nama ibu, Juraida, panggil saja saya Ibu Juraida atau Ibu, itu sudah cukup”, jawabnya kepadaku.
“Bagaimana, Bu... Boleh Bang Anto tinggal di rumah kita?” tanya Pak Sapari kepada istrinya.
“Boleh saja, tidak apa-apa, malahan ibu jadi senang ada kawan di rumah, bisa bantu-bantu ibu apa yang patut dan apa yang bisa dikerjakan. Anak-anak ibu juga butuh guru atau teman mereka bermain di rumah, karena kami juga jarang di rumah”, jawab ibu Juraida sambil tersenyum manis.
“Terima kasih, Bu”, jawabku.
“Bentar, ya Ibu siapkan dulu kamarnya, Bang Anto tidur di kamar atas saja”, kata Ibu Juraida.
“Terima kasih, Bu... Bu maaf ni, ada wc ndak Bu...”, tanyaku.
“Ada, Abang kenapa? Pusing...?!”, tanya Bu Juraida kepadaku.
“Iya, ma... Abang mabuk... dari tadi dia mabuk”, kata Putri kepada ibunya.
“Ooo... begitu ya,,, tidak apa nanti setelah makan, minum obat ya...”, kata ibu Juraida kepadaku  sambil berjalan ke atas (ke lantai dua) untuk membereskan tempat tidurku.
Aku bergegas ke belakang, aku muntah. Oooekkkkk.... habis sudah apa yang ada di dalam perutku. Tubuhku semakin lemah karena dehidrasi dan kurang makan. Setelah membersihkan mulut dan tubuhku, aku menemui pak Sapari.
“Kak Long, antar Abangmu ke kamarnya”, suruh Pak Sapari kepada Putri.
“Iya, Pak...”, jawab Putri.
“Mari Bang, kita ke atas”, ajak Putri kepadaku.
Tanganku ditarik oleh Putri, aku mengikut saja kemana ia akan membawaku. Aku bagaikan sapi yang dicucuk hidungnya, apapun yang akan terjadi aku sudah pasrah. Mungkin ini sudah takdirku yang harus aku jalani. Sesampainya di kamar.
“nah... ini kamar Abang”, ucap Putri kepadaku.
“Besar sekali kamarnya...! wah bagus ya...”, ucapku.
Aku melihat-lihat keluar dari balik jendela kaca, ramai sekali orang-orang berkendaraan terlihat jelas, dengan pemandangan Gunung Roban dan Gunung Jempol serta Gunung Sari terlihat jelas yang sedang dilintasi oleh awan-awan putih. Aku membaringkan tubuhku di springbats, karena aku kecapean karena mabuk dan melakukan perjalanan jauh. Baru saja aku berbaring, terdengar teriakan dari bawah.
“Kak Long, ajak Abangmu makan dulu ni, nasinya sudah disiapkan, setelah itu baru istirahat”, kata Ibu Juraida dari bawah.
“Ya, Ma...bentar lagi”, sahut Putri pada ibunya.
“Ayo, Bang kita makan dulu, biar hilang lelah dan letihnya”, kata Putri kepadaku sambil menarik kedua tanganku.
“Mari...”, jawabku sambil menuruti gerak Putri.
Kamipun ke bawah untuk makan. Aku makan dengan lahap sekali, karena aku sangat lapar. Menunya sih tidak cukup banyak, hanya indomie goreng, cencalok, sambal terasi, lalap pucuk pepaya, ikan goreng, dan ayam masak semur. Mungkin ini lauk mereka siang tadi pikirku. Setelah makan aku minum obat yang diberi oleh Ibu Juraida. Setelah minum obat aku pun istirahat di kamarku yang telah disiapkan oleh Ibu Juraida. Aku tertidur dengan pulas..... insaAllah bersambung pada jilid 2....
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours