Selasa, 02 Juni 2015

Mengapa Allah disebut Maha Kaya?


Allah Subhanahu Wataala adalah Tuhannya umat Islam. Umat Islam mengerjakan sholat lima waktu sehari semalam sebagai perwujudan sujud kepada Sang Pencipta, yaitu Allah Azza Wazalla. Allah disebut dengan Maha Kaya adalah karena rumahnya banyak. Rumahnya ada di mana-mana, disetiap dusun, di setiap desa, disetiap kecamatan, kabupaten, provinsi, negara, dan bahkan dunia. Oleh sebab itulah Allah SWT dijuluki dengan Maha Kaya. Kita (manusia) hanya ngontrak di dunia ini, setiap hari kita harus bayar dengan amal ibadah kita kepada Allah sebagai imbalan atau harga kontrakkan kita.

Seharusnya manusia sadar diri, bahwa dia hidup hanya ngontrak dan sementara. Bayarlah uang kontrakan itu walaupun harus nyicil. Bukti lain banyak tentang kekayaan Allah Swt tersebut.  Yang dimaksudkan dengan rumah Allah di atas adalah tempat ibadah, yaitu mushola, langgar, atau masjid.  Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia! Kalian adalah fakir kepada Allah. Adapun Allah, maka Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15).

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menerangkan: “Kalian fakir kepada Allah” artinya kalian membutuhkan kepada-Nya. “Adapun Allah, maka Dia Maha Kaya” artinya tidak membutuhkan ibadah kalian. “lagi Maha Terpuji” yaitu senantiasa terpuji di hadapan makhluk-Nya karena segala bentuk ihsan/kebaikan yang dicurahkan-Nya untuk mereka (lihat Zaadul Masir, hal. 1160).

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menerangkan: Kebutuhan setiap hamba untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (baca: kebutuhan terhadap tauhid) adalah kebutuhan yang tidak bisa diserupakan dengan sesuatu apapun. Walaupun hal itu bisa saja diserupakan dari sebagian sisi dengan kebutuhan badan terhadap makanan, minuman, dan nafas (udara). Akan tetapi sebenarnya antara kedua hal ini terdapat perbedaan yang sangat banyak. Karena sesungguhnya jati diri seorang hamba tersimpan di dalam hati dan ruhnya. Sementara tidak akan baik hal itu tanpa pertolongan dari (Allah) sesembahannya yang sejati, yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. Hatinya tidak akan pernah merasa tenang kecuali dengan dzikir kepada-Nya. Tidak merasakan tentram kecuali dengan mengenal dan mencintai-Nya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...