Selasa, 19 Mei 2015

Sambas Jawai 3 Kali Lebaran Dalam Setahun


Jawai adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sambas, provinsi Kalimantan Barat. Penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, atau pedagang kelontong serta menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri. Perkampungan ini agak terisolasi, karena jarak tempuh yang kauh dan sakit karena kondisi jalan yang rusak. Jika dari Pontianak jaraknya ±200 km, dan seseorang perlu naik angkot sebanyak dua kali ditambah naik kapal motor atau feri dipelabuhan Biji Piay (Bigek Piay) Tebas Kuala.

Nama Jawai (Kecamatan Jawai) berasal dari nama pohon yang berdaun rimbun yang mana oleh masyarakat diberi nama pohon jawai yang tumbuh ditepi pantai atau muara sungai Desa Bukit Raya. Kecamatan Jawai secara resmi berdiri pada tanggal 17 Agustus 1957 dengan Ibukotanya Desa Sentebang. Kecamatan Jawai merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Sambas dengan luas wilayah pada waktu itu (sejak berdirinya) ± 376,27 Ha dengan membawahi 20 desa.

Sesungguhnya ada yang menarik dan unik di Kecamatan Jawai ini yaitu lebarannya tiga kali. Selama ini kita mengetahui bahwa, lebaran di Indonesia atau di dunia itu khusus yang beragama Islam lebarannya dua kali, yaitu Lebaran Idul Fitri yang dilaksanakan pada 1 Syawal dan Lebaran Idul Adha yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jadi, yang dimaksud dengan lebaran tiga kali di Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas adalah:

1.      Lebaran syawal atau Idul Fitri yang dilaksanakan pada setiap 1 Syawal secara umumnya.
2.      Lebaran haji atau Idul Adha yang dilaksanakan setiap 10 Dzulhijah pada umumnya.    
3.      Lebaran asyura atau Muharram yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharram tahun hijriyah, hanya khusus di Kecamatan Jawai dan sekitarnya yang melakukan lebaran tersebut.

Biasanya dalam perayaan hari lebaran yang ketiga, yaitu hari raya Muharram, masyarakat membuat kue sama dengan lebaran Idul Fitri atau Idul Adha, akan tetapi biasanya ditambah dengan ketupat berkuah, baik ketupat lontong, ketupat pullut (ketan) dengan ratteh (poprice diberi gula putih atau gula merah dengan dicampur parutan kelapa muda (setengah tua), atau dengan sirondeng (abon). Wahhh enak sekali rasanya dihari lebaran 1 Muharram ini di Jawai, dan pula jika ada masyarakat yang punya niat, biasanya “makan” nasi lauk ayam dan sebaginya.

Perayaan hari raya 1 Muharram ini dilaksanakan oleh bapak-bapak dari rumah ke rumah, (door to door) biasanya mereka saling pelukan, salaman dan bersilaturahmi antara tua dan muda, serta kaum kerabat yang jauh. Kerabat-kerabat yang berdomisili di kecamatan lain, biasanya berdatangan ke Jawai ini untuk merayakan hari raya 1 Muharram. Dengan adanya hari raya 1 Muharram ini dapat meningkatkan silaturahmi yang lebih erat antara keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Sebelum hari raya tiba, masyarakat (bapak-bapak dan ibu-ibu) sibuk sekali. Bapak-bapak mencari daun kelapa muda untuk dibuat ketupat, sedangkan ibu-ibu sibuk membuat kue di dapur. Ada juga bapak-bapak yang memotong itik atau ayam untuk hari raya 1 Muharram sebagai sedekah pada orang-orang disekitar rumahnya. Serta mengundang sanak saudara yang dari kecamatan lain agar dating ke Jawai untuk merayakan hari raya 1 Muharram yang mulia. 

Jadi, berdasarkan keterangan di atas, maka di Kecamatan Jawai dilaksanakan raya tiga kali dalam setahu. Jika anda ingin merasakan tiga kali raya dan ingin merasakan hari raya 1 Muharram di Jawai (Kecamatan Jawai) datanglah ke Kecamatan Jawai sambil menikmati keindahan panorama Pantai Puteri Serai dengan pasir putih yang memanjang jauh ke laut pantai selatan.

Datang ya… jangan tak datang ….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...