lasung labban
Di Kabupaten Sambas saat ini banyak sekali benda-benda keramat peninggalan Nek Datok atau Kesultanan Sambas atau Nek Datok, Nek Aki serta Nek Uan. Beberapa peninggalan yang bersejarah itu terkadang sudah dilupakan oleh beberapa masyarakat yang ada di Kabupaten Sambas. Mengapa masyarakat meninggalkan benda-benda keranat tersebut? Karena masyarakat sudah kurang mempercayai dengan adanya tahyul-tahyul, agama atau keimanan masyarakat di Kabupaten Sambas pada umumnya sudah semakin meningkat, kebiasaan lama warisan leluhur sudah mulai berkurang, dan yang pastinya pengaruh kemodernan zaman yang paling mempengaruhi. 


Beberapa benda peninggalan leluhur yang terlupakan oleh generasi sekarang adalah, penandor, lassong, dan alok. Ketiga benda tersebut sudah jarang atau langka terlihat di rumah masyarakat Sambas pada umumnya. Kenapa? Karena untuk membuat beras tidak lagi menggunakan lassong atau alok, sekarang sudah ada yang namanya huler gabah, mesin untuk membuat beras. Alok atau Lassong biasanya terbuat dari kayu yang keras dan tahan, yang paling terkenal adalah Alok Galing, Lassong Labban. Maksudnya, Alok terbuat dari kayu Galing, sedangkan Lassong terbuat dari kayu Labban.
alok galing

Dulu, di Kecamatan Galing untuk membuat Alok Galing sangat susah, karena pada pohon Galing ini terdapat penunggu, hingga pohon ini tidak boleh ditebang, jika ditebang, maka penduduk setempat akan kekurangan air pada saat kemarau yang panjang. Dengan adanya sumur mata air yang terdapat pada pohon Galing ini, maka semua penduduk yang berada di Desa Galing serta desa tetangga tidak kekurangan air. Sejak itulah nama Kampung Galing diberi nama dengan Desa Galing oleh masyarakat setempat dan sekitarnya. Sekarang kampung atau Desa Galing sudah menjadi sebuah kecamatan dengan nama Kecamatan Galing. Untuk mengetahui cerita asal-usul nama Kampung Galing klik disini “Asal Usul Nama Desa Galing”.

penandor
Ketiga benda tersebut hanya dibiarkan begitu saja di luar rumah atau pada batang pohon pisang, sebagaimana yang terdapat pada rumah Bapak Sapari Abdul Latif yang berdomisili di Desa Pusaka, Dusun Sekadim, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Benda keramat tersebut sangat disayangkan sekali dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan sama sekali. Benda keramat tersebut adalah warisan tiga keturunan dari Nek Datoknya, Nek Akinya, serta bapaknya, baru ke Bapak Sapari. Kini warisan itu terlupakan begitu saja tinggal menunggu untuk dimakan rayap atau anai-anai.

Diharapkan pada generasi saat ini dan yang akan datang harus dapat melestarikan khazanah peninggalan Nek Datok pada masa lalu. Jika di rumah sudah tidak mampu untuk menyimpannya, simpan saja di Muzeum Sambas atau disumbangkan pada Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas sebagai kenang-kenangan atau bukti sejarah peninggalan leluhur tetua-tetua terdahulu.

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours