Selama ini, orang-orang jarang sekali sholat atau beribadah di Masjid. Sholat lima waktu sering dilakukan hanya di rumah saja. Sholat lima waktu biasanya dilakukan bersama keluarga di ruang tengah atau di dalam kamar khusus untuk sholat berjama’ah. Seminggu sekali baru sholat di masjid yang berada tidak jauh dari tempat tinggal.
Namun, jika sesekali kita ke Sambas, banyak orang berdatangan dari mana saja untuk berziarah ke Istana Kesultanan Sambas. Menurut Edi salah satu pengunjung yang berasal dari Pontianak mengatakan, ia bersama keluarga ke Sambas khususnya ke Istana untuk berobat, mohon pada datok untuk menyembuhkan adiknya yang sakit. Juru kunci istana akan mengatakan kepada Datok maksud dan tujuan dari pengunjung. Setelah mendapatkan pesan atau petunjuk dari Datok, maka juru kunci istana akan menghabarkan ikhwal kepada keluarga pasien. 
Setelah semuanya selesai, pihak keluarga mampir sebentar di masjid Jami’ untuk sholat, baik itu sholat dhuha, tahayatul masjid, mutlaq, atau sholat fardhu. Di dalam sholat, mereka bermunajat kepada sang pencipta yaitu Allah Subhanahu Wata’ala untuk memohon kesembuhan atau berkah. Setelah beberapa bulan kemudian, jika apa yang telah mereka minta terkabul, maka mereka akan kembali lagi ke Sambas untuk membayar niat mereka. Mereka akan menceritakan hal ekhwal mereka kepada handa taulan mereka. Akhirnya beramai-ramailah mereka ke Istana Kesultanan Sambas untuk ziarah dan memohon keberkahan.     
Sekarang ini Masjid Jami’ Keraton Sambas adalah salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid Jami’ dengan nama lain Masjid Agung Sulthan Muhamad Tsafiudin II berada di komplek Keraton Kesultanan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Masjid Jami’ atau Masjid Agung Sulthan Muhamad Tsafiudin II ini didirikan pada 1 Muharram 1303 H, bertepatan dengan 10 Oktober 1885 M. Masjid Jami’ ini adalah masjid tertua di Kalimantan Barat.
Masjid Jami’ Keraton Sambas ini awalnya merupakan rumah Sulthan yang kemudian dijadikan musholla. Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 Masehi. Kemudian masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sulthan Muhammad Safiuddin dan dikembangkan menjadi Masjid Jami’ dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 Masehi.
Jumlah tiang tengah bagian dalam Masid Jami’ berjumlah delapan batang yang bermakna pendirinya adalah Sultan yang ke-8 atau Sulthan ke-14 garis Kesultanan Sambas. Kesemua bahan bangunan Masjid Jami’ ini terbuat dari bahan kayu belian (kayu besi).



sumber foto : firyalaulia.blogspot.com
Jika saudara datang bersama keluarga ke Istana jangan lupa untuk sholat di Masjid Jami’ Kesultanan Sambas, disinilah tempat kita bermunajat kepada Allah, bukan kepada Datok Sulthan kita memohon dan meminta. 
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours