Di usiaku 22 tahun aku menyukai seorang gadis, sebut saja namanya Denia (bukan nama sebenarnya). Denia seorang gadis cantik nan ayu dengan body yang indah seperti gitar biola telah menawan hatiku. Rumah Denia dengan rumahku sangat dekat, kurang lebih 150 meter dari rumahku. Setiap hari ketika ia pulang sekolah slalu kutunggu di pos kamling tidak jauh dari rumahnya. Denia sekolah di salah satu SMP di Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas. Kebetulan juga waktu itu Denia masuk siang, jadi pulang sekolahnya sore pukul 17.00 wiba. Jarak dari rumah Denia ke sekolah kurang lebih 30. dengan mengendari oplet Denia ke sekolah, sedangkan dari rumahnya menuju jalan raya ia berjalan kaki. Dari rumahnya ke jalan raya kurang lebih 3 km.

Seperti biasa aku menunggunya di pos kamling. Sore itu hujan rintik, Denia belum saja terlihat, aku semakin gelisah. Soalnya tidak jauh dari pos kamling tersebut terdapat kuburan desa yang paling angker. Setiap malam ada saja orang-orang yang lewat selalu ditakuti oleh makhluk-makhluk gaib tersebut. 
 
Singkat cerita, malam itu aku diminta oleh Denia untuk megajarinya ngaji, karena Denia ngajinya masih terbata-bata. Denia minta izin dengan orang tuanya agar aku yang mengajari Denia ngaji. Waktu itu bapak dan ibunya sedang di dapur, sedangkan aku menunggu diruang tengah sambil nonton televisi. Denia pun menyampaikan maksudnya kepada kedua orang tuanya. Aku penasaran, kukecilkan suara televisi, dan kudengar apa yang mereka bicarakan. Kedua orang tua Denia mengatakan “bahwa aku tidak layak untuk mengajari Denia dan aku juga tidak layak untuk mendampingi hidup Denia”. Aku jadi sedih, dan Denia juga sedih. Ia keluar menhampiriku dengan deraian air mata.
Saat itu, aku hanya bisa menenangkan hatinya.
“Jangan sedih, tidak apa-apa, Abang sadar siapa Abang”, kataku kepada Denia.

Aku tahu mengapa kedua orang tua Denia mengatakan kalimat semacam itu kepada Denia. Kawan mau tahu kenapa? Karena aku cacat tulang belakang (bongkok) sejak dari usiaku 9 tahun karena dipukul oleh sepupuku sendiri yang berusia 15 tahun. Dan pula usiaku sudah tua, selisih usiaku dengan Denia 10 tahun. Waktu itu Denia baru berusia 12 tahun sedangkan usiaku 22 tahun. Denia lah cinta pertamaku. Dialah yang mengerti aku, dan aku juga mengerti akan dia. Apa yang ia inginkan selalu saja aku turuti.

Singkat cerita lagi, hubungan kami semakin akrab dan lebih dekat. Akan tetapi aku tidak pernah sama sekali mendekapnya, mengecup pipi atau bibirnya, membelai rambutnya, apalagi yang itu. Dia gadis murni, aku sudah berjanji pada diriku sendiri waktu itu, aku tidak akan menyentuh tubuhnya hingga dia menjadi istriku sah sah. Tiga tahun berlalu sudah, sekarang ia sudah kelas 3 SMP. Dia sudah suka keluar malam bersama teman-temannya yang cewek atau yang cowok dari desa tetangga. Ia sering berandang ke rumahku, akan tetapi hanya mengatakan ia akan pergi dengan teman-temannya nonton ben atau nonton pameran, serta nonton layar tancap.

Aku tidak bisa keluar malam, karena aku sering sakit-sakitan. Aku mengerti dengan kehidupan remajanya, ia butuh teman, ia butuh pergaulan yang lebih, ia butuh lebih dari yang aku berikan kepadanya. Setiap malam aku menangis, aku sedih karena aku tidak lagi bersamanya. Aku dekat dengan Denia, akan tetapi terasa jauh sekali. Denia mempunyai banyak teman laki-laki, sedangkan aku tidak ada sama sekali.

Singkat lagi ceritanya, dihari-hariku aku selalu menangis,karena cemburu. Hanya diary usanglah yang menamani aku curhat. Setelah lulus SMP, Denia masuk salah satu SMU di Pemangkat, ia kos disana ditempat keluarganya. Kami semakin jarang ketemu, kini Denia semakin mempesona, tubuhnya “wah” menawan sekali, apalagi ....nya menawan mataku, hingga aku terpana karenanya. Aku sadar, kami telah jauh. Apa yang ada dihatinya waktu itu aku tidak tahu. Denia jika datang dari sekolah 1 kali dalam satu minggu main ke rumahku. Ia bercerita mengenai sekolahnya dan teman-teman lelakinya, mungkin ia hanya ingin menyakiti hatiku.

Pada malam minggu, aku memberanikan diri untk mengajaknya keluar malam. Ia menyetujui ajakanku. Namun katanya, ia minta izin dulu dengan orang tuanya, silakan kataku. Pada waktu itu aku sudah siap-siap dengan pakaian kemeja, sepatu, dan lain-lainnya yang “wah” juga. Aku sudah membayangkan “asik sekali pacaran dengan gadis kecil waktu dulu kini sudah tumbuh dewasa dan bahenol sekali”. Ternyata semua itu hanya mimpi. Ia dilarang oleh kedua orang tuanya keluar bersamaku. Aku sedih, aku nangis sesunggukan setelah mendengar ucapan dari bibir Denia yang kini sudah merekah. Ingin sekali aku mendekapnya, ingin sekali aku mengecupnya, ingin sekali aku membelai pipinya yang tembem, ingin sekali aku membelai rambutnya yang hitam panjang lagi mengurai bak mayang di terang bulan purnama.
“Tidak apa Nia, esok-esok bisa ‘kan?” kataku kepada Denia.
“Insya Allah, Bang...”, katanya.

Hanya kalimat itulah yang terucap dari bibirnya, ia pun pergi meninggalkanku sendiri di pinggir jalan. (keadaan disekelingku tidak perlulah aku ceritakan, jika diceritakan nanti ia seperti Novel, aku hanya ingin cerita sedikit saja ni, tak apa ya Gan).

Singkat lagi Gan... aku pulang dengan sedih, aku menangis di kamar. Kemudian aku tulis dibuku diaryku yang usang tentang kisah malam ini.

Waktu terus berjalan, kini ia sudah kelas dua SMA. Malam itu di samping rumahku lagi ada acara hura-hura anak muda. Mereka para remaja dan remaji lagi ngedance RNB, aku hanya mengintip dari balik tirai kaca samping rumahku. Kulihat ada Denia di sana dengan baju kaos lengan pendek warna putih dan celana ¾ lagi goyang-goyang pinggul dengan laki-laki, kulihat ia melihat ke arah rumahku. Namun ia tidak tahu bahwa aku sedang mengintipnya.

Aku sangat sedih waktu itu, tidak terasa air mataku membasahi pipiku yang sudah mulai mengering karena usiaku semakin berambah. Bayangkan saja ia sudah kelas 2 SMA. Sedangkan dulu baru kelas 1 SMP, jadi sudah berapa tahun. Aku duduk di ruang tengah dengan deraian air mata. Aku sembunyikan air mataku dari adik-adikku yang sedang memperhatkan tingkahku. Sebenarnya mereka tahu, aku suka akan Denia.

Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba ia datang ke rumahku denan mengucapkan salam. Aku terkejut mendengar salam darinya. Kuseka air mataku, akupun keluar menemuinya. Ia duduk diteras di sampingku.
“Nari yok,,,” ajaknya.
“Tidak bisa”, jawabku singkat.
“kenapa, malu!”, katanya.
“Tidak,,,!”, jawabku.
“Lalu,,,kenapa?”, tanyanya pengen tahu.
“Sakit...!”, tambahnya.
“Iya...”, jawabku sedih.
“Kenapa mata Abang basah...?” tanyanya lagi.
“Mana,,, tidak apa-apa, kok”, elakku.

Singkat cerita (tak perlulah dialognya, aku sedih aja) kira-kira 10 menit kami bicara. Deniapun permisi.

“Bang, Denia ke sana dulu, ya”, ucapnya.
“Iya, hati-hati aja, ya. Banyak lelaki tu yang ingin menggodamu”, ucapku.
“Cemburu, ya”, katanya sambil tersenyum manja.
“Enggak...” jawabku menyembunyikan kata hatiku yang penuhdengan rasa cemburu dan benci. Ingin rasanya kurobek-robek hatinya, agar ia tahu tentang perasaanku saat itu.
Singkat lagi Sob,,,

Denia kuliah di salah satu perguruan tinggi Kota Pontianak, sedangkan aku melamar honor di salah satu SMP Negeri di Kecamatan Tebas, yaitu SMP Negeri 4 Tebas di kampungku (Sekadim).

Singkat lagi Sob, banyak kisah pilu selama dia kuliah ni, karena dia di Pontianak dan aku di kampung. Aku hanya pemuda kampung yang tua, sedangkan dia semakin cantik, jikadia datang dari pontianak biasanya dengan mobil bersama teman-teman kuliahnya. Dia juga sudah punya pacar kaya dan punya mobil.

Kini 4 tahun berlalu sudah, ia sudah hampir tamat kuliah. Akupun pindah ke kota singkawang pada tahu 2008, aku memberanikan diri untuk kuliah. Aku juga akan membuktikan kepadanya, kepada kedua orang tuanya, bahwa aku si cacat juga mampu untuk menjadi Sarjana.

Dengan membuatkan mata, aku hijrah ke kota Amoy, di Kota Amoy, nasibku juga tidak berjalan mulus, sedih dan pilu silih berganti. Kedua orang tuaku dengan berat hati melepaskanku pergi, sukur saja aku tidak lari bagai waktu dulu di usiaku 15 tahun. Aku pernah lari lho Sob, tapi ketangkap di pasar semparuk oleh bapakku.

Dikota Amoy, aku tinggal di rumah orang anak angkat ibuku, sebut saja namanya Firmnasyah. Di rumah ini lah aku tinggal untuk menuntut ilmu. Di sini aku bantu-bantu merekalah, dengan mencuci pakaian, piring, pingan mangkok, nyapu, ngepel, ngasuh anak kecil, semuanyalah.

Aku kuliah, di kampus ini, aku juga banyak mengalami cerita sedih. (tutup buku aja).
Singkat cerita kami masing-masing dengan hidupnya, Denia di Pontianak, sedangkan aku di Singkawang. Niatku adalah “aku akan membuktikan kepada Denia dan kepada keluarganya, bahwa aku juga bisa Sarjana” akan ku lamar dia nantinya maksudku. Meskipun ia saat ini tidak mencintaiku lagi.

Singkat cerita lagi Sob,,, Denia sudah menjadi sarjana, ia bertugas di salah satu SMK di Kabupaten Sambas, sedangkan aku baru saja semester 2. aku kuliah pada tahun 2008, sedangkan aku lahir 1977, jadi aku kuliah di usia 31 tahun.

Singkat cerita lagi, entah mimpi apa aku malam itu. Aku ditelpon oleh adiknya bahwa kakaknya telah meninggal dunia, yaitu cinta pertamaku “Denia”, meninggal dilindas oleh mobil truk dengan muatan yang cukup banyak. Dia dari arah Sambas menuju ke arah Pontianak, rencana ya akan ke Pontianak. Aku dengar dari orang-orang kampung bahwa ia bentar lagi akan menikah.

Setelah adiknya meberitahuku, aku juga ditelpon oleh adikku, adikku juga mengatakan hal yang sama. “cewek abang meninggal” kata adikku. Aku sedih sekali, karena selama ini Sob, kami tidak saling mengatakan kata cinta, hanya hati dan tingkah kamilah yang seolah-olah saling mencintai. Aku bergegas pulang ke kampungku di Sekadim, untuk melihat dia yang erakhir kalinya.

Singkat aja ya Sob...
Denia dikebumikan dengan tenang, ia pulang dengan senyman yang manis, seakan-akan berkata padaku, kenapa lambat sekali tuk katakan cinta kepadaku,,,kini aku telah pergi tuk meninggalkanmu selamanya. Relakan aku pergi, bang....
Aku sedih...sob,

Setelah kepergiannya, malam harinya, aku bermimpi bertemu dengannya, ia berkata kepadaku “aku mencintai Abang” abanglah yang membuat aku seperi ini, aku kuat dan kekar serta berani karena abanglah yang selalu mendorong aku, tapi kini kita sudah berbeda alam. Abang teruskanlah cita-cita abang jangan kecewakan aku...aku akan selalu dihati abang dan menanti abang di sana”.

Aku tersadar....semuanya hanyalah mimpi...
Singkat lagi sob...
Satu mingu aku mengalami hal yang sama seolah-olah aku pacaan dengan dia. Dia selalu megirimiku syair atau surat suara hati dari sorga yang disampaikan oleh malaikat Jibril...
Udah dulu ya sob...
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours