Selasa, 19 Mei 2015

PKS “Partai Korupsi Sapi, Pejabat Koruptor Sejahtera” atau “Pejabat Korupsi Sengsara” serta “Pemerintah Kerugian Sapi”


Saat ini Indonesia bagai tidak pernah lepas dari masalah, belum hilang satu masalah, datang lagi masalah yang baru. Belum sempat tuan-tuan hakim terlelap, datang lagi berkas-berkas baru yang harus diselesaikan dengan segera. Satu persatu senarai koruptor di Indonesia ini bertambah, bukannya menipis, tapi bertambah. Bukannya jera, tapi di sulle (bahasa Sambas= tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku, atau tidak lagi mendengarkan ajakan atau himbauan, ada peraturan, langgar saja). Bahkan nilai nominalnya semakin bertambah, berapa banyak negara ini kerugian?.

Dulu, dia..... siapa saja..... tidak tahu yang namanya korupsi, ketika belum menjabat, teriak-teriak..., setelah ada jabatan, pangkat atau kedudukan, diam saja. Korupsi merambah dari atas ke bawah atau sebaliknya dari bawah ke atas. Tidak ada lagi yang tersisa jika bicara lembaga (dinas swasta atau negeri), dari presiden hingga kepala keluarga.

Rakyat setiap tahunnya bayar pajak demi kesejahteraan bangsa ini, rakyat Indonesia pada khususnya. Namun, amanah dari rakyat disalah gunakan. Kali ini partai PKS yang selalu di sorot, belum lama yang lalu partai Demokrat. Kasus Demokrat hilang di media televisi atau gosip. Indonesia suka bergosip. Belum hilang kasus baru, muncul masalah baru, KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) pusing tujuh keliling.

Partai Keadilan Sejahtera yang selama ini menjadi contoh atau figur dari yang lainnya, karena kebersihannya, namun kini PKS (Partai Keadilan Sejahtera) menjadi “Partai Korupsi Sapi, Pejabat Koruptor Sejahtera” atau “Pejabat Korupsi Sengsara” serta “Pemerintah Kerugian Sapi”. Dengan banyaknya pelesetan-pelesatan yang diargumenkan oleh masyarakat Indonesia saat ini, membuat nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi rusak pamornya di hati masyarakat.

Bagi caleg-caleg PKS khususnya dan bagi caleg-caleg partai lain pada umumnya, apa yang terjadi pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau Partai Demokrat dapat dijadikan pelajaran, agar tidak mengulangi lagi perkara seperti di atas. Atau mungkin pelajaran yang diambil kebalikannya, korupsinya bahkan lebih lehai (hebat) lagi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...