Mat Adi yang akrab disafa Long Mat Adi
Ular cobra adalah sejenis ular berbisa dari suku elapidae. Ular cobra biasanya disebut dengan nama ular sendok. Disebut ular sendok karena ular ini dapat menegakkan dan memipihkan lehernya apabila merasa terganggu oleh musuhnya. Leher yang memipih dan melengkung itu serupa dengan bentuk sendok atau irus. Ular cobra itulah yang telah menggigit seorang kakek-kakek di dusun kecil Dusun Sekadim Desa Pusaka, Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat Indonesia.

Kakek-kakek tua itu bernama Mat Adi sedangkan istrinya bernama Kiddah, telah digigit oleh seekor ular cobra hitam, kejadiannya pada hari Kamis tanggal 16 Mei 2013 pukul 16.000 wiba. Ular cobra yang sebesar jemari telunjuknya itu telah menggigit jemari tengah kaki sebelah kanannya. Sewaktu digigit ular jemari kaki kakek-kakek itu sedikit berdarah. Kakek-kakek itu berusia 70 tahun sedangkan istrinya berusia 65 tahun. Kakek-kakek itu digigit oleh ular cobra hitam sewaktu ia pulang kerja dari sawah. 

Jari kaki tengah yang digigit ular Cobra
Setelah mengetahui jemari tengah kaki kanannya digigit oleh ular cobra hitam, maka kakek itu bergegas pulang. Istrinya yang ada di rumah terperanjat ketika sang kakek mengatakan kepadanya ia digigit ular cobra hitam. Dengan bergegas istrinya memotong ujung rambutnya kemudian melilitkan ke jemari kaki tengah kaki suaminya, setelah itu ia mengambil daun atau batang bundung tua (pandan) untuk mengikat betis kaki kanan suaminya. Potongan rambut dan batang bundung kering diikatkan dengan kuat ke jemari kaki kanan dan betis suaminya.    

Orang-orang mulai berdatangan untuk membantu mereka, ada yang menyarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit, atau dibawa masuk ke dalam rumah. Akan tetapi ada orang yang melarang. Mereka mengatakan bahwa “pantang” jika seseorang terkena gigian ular dibawa masuk ke dalam rumah nanti bisa berakibat fatal (meninggal). Potongan ujung rambut dan batang bundung tua serta pasien yang digigit ular jangan dimasukkan ke dalam rumah adalah petua-petua orang tua-tua di Sambas sejak dahulu kala. Ketika digigit ular cobra hitam tersebut ia tidak merasakan apa-apa. Namun ia merasa takut dan cemas bahwa bisa itu akan merayapi aliran darahnya yang mengakibatkan kematian.

Ibu Kiddah merasa risau dengan keadaan suaminya yang semakin melemah, ia terus mencari paranormal untuk mengobati suaminya. Sekitar lima paranormal yang mengobati suaminya dengan meminumkan air putih yang sudah dijampi-jampi, yang disebut dengan air tawar oleh masyarakat Melayu Sambas khususnya. Enam gelas air tawar (air jampi) direguk habis oleh Mat Adi agar bisa ular cobra tidak menjalar keseluruh tubuhnya.
Batu Keramat Pnghisap Bisa ular Cobra

Tidak lama kemudian salah seorang warga menyuruh Mat Adi ke rumah Temol yang memiliki batu keramat yang dapat menarik (menghisap) bisa ular cobra. Batu ular itu disebut “batu bisa” oleh penduduk setempat. Setelah tiba di rumah Temol batu itu pun langsung disapukan ke jemari kaki tempat yang digigit ular cobra tadi. Bisa ular cobra yang menggigit Mat Adi pun terhisap oleh batu keramat punya Temol.

Namun, anak dan cucu dari Mat Adi ini masih ragu dengan kekuatan magis dari air jampi dan  batu bisa punya Temol. Mereka masih menginginkan kakeknya dibawa ke rumah sakit Pemangkat. Kemudian dengan meminta pertolongan H. Jinni untuk membawa Mat Adi dengan mobil kijang punya anaknya (Eman). Dengan segera Mat Adipun dibawa ke RSUD Pemangkat, setelah tiba di Rumah Sakit Mat Adi diberi pelayanan yang intensif. Mat Adi disuntik dengan tiga suntikan dibeberapa bagian tubuhnya, seperti jemari kakinya yang digigit ular cobra tersebut, kemudian dilengan kanannya, setelah itu dipantat kanannya sekaligus.

Setelah disuntik dan diberi obat yang cukup oleh dokter, Mat Adi pun disuruh pulang oleh pihak rumah sakit. Kata Dokter mengatakan kepada Mat Adi dan pihak keluarganya bahwa bisa ular cobra itu sudah tidak bahaya lagi. Mereka pulang dari rumah sakit pukul 20.00 wiba, dan sampai ke rumahnya sekitar pukul 20.30 wiba. Namun, setelah tiba di rumah Mat Adi tidak langsung masuk lewat depan rumahnya. Karena mereka masih percaya dengan pantang larang dari orang tua, yaitu tidak boleh lewat tuturan (depan atap rumah), jadi Mat Adi dan istrinya lewat samping rumahnya. Keesokan harinya pada hari Jum’at mereka melaksanakan tolak bala sebagai ucapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas pertolongan-Nya.

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours