sumber foto : mabmonline.org
Makan saprahan dua kata yang mempunyai makna yang cukup besar. Makna dari kata makan adalah memasukan sesuatu makanan ke dalam mulut sebagai pelepas rasa lapar yang dirasakan oleh makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Saprahan atau nyaprah dalam bahasa Sambas dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia mempunyai makna makan bersama-sama atau makan berjamaah dengan jumlah 5-6 orang. Jadi dapat disimpulkan dari kata makan saprahan adalah makan bersama-sama dengan duduk di lantai pada suatu acara dengan jumlah 5-6 orang. Makan nyaprah juga dapat dilakukan di rumah kita sendiri bersama keluarga, bapak, ibu, kakak, abang, atau adik-adik yang lain. Begitu juga jika kita kedatangan tamu, kita ajak dia makan bersama-sama dengan nyaprah duduk bersila di lantai.

Makan saprahan biasanya pada saat acara perkawinan, tepung tawar, sunatan, pindah rumah, dan lain-lainnya. Lauk-pauk dalam acara makan saprahan itu sebanyak 5-6 perkara, tergantung niat dan kemampuan dari tuan rumah. Biasanya ayam 2 macam, sapi 1 macam, sayur, telur, sambal, lalap (pecel atau rujak). Dan pada setiap acara menunya bervariasi, tergantung pada keuangan dan niat dari tuan rumah, yang pastinya 4 sehat 5 sempurna (ditambah air susu).

sumber foto : www.equator-news.com
Bagi masyarakat Melayu, khususnya Sambas dan Singkawang tentu tidak asing lagi dengan budaya saprahan atau makan besaprah. Saprahan dalam adat istiadat Melayu berasal dari kata saprah yang secara harfiah berarti berhampar, yaitu budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang tersiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

Tradisi makan saprahan memiliki makna duduk sama rendah berdiri sama tinggi ini. Prosesi saprahan begitu kental dengan makna filosofis, intinya menekankan pentingnya kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan sosial, serta persaudaraan. Budaya saprahan ini masih banyak ditemui di daerah pinggiran, terutama pada acara perkawinan tradisional. Para tamu atau undangan biasanya hadir dengan berbaju talok belanga’ atau memakai jas dan sarung. Mereka duduk bersama sama undangan lain di tarup (tempat khusus undangan yang berbentuk bangunan memanjang) secara berhadapan memanjang mengikuti arah tarup.

Tradisi saprahan dalam suatu upacara perkawinan khas masyarakat Melayu Sambas biasanya dibuka dengan lagu-lagu ceria, diiringi alat musik tanjidor. Tamu yang boleh duduk di barisan atau sap paling atas hanya mereka yang sudah bergelar haji, hajah, atau orang yang berilmu. Selain di Sambas, tradisi saprahan juga dikenal di wilayah Kalimantan Barat lainnya, seperti di Pontianak, Mempawah, dan Ketapang. Namun di tiap-tiap daerah, cara penyajian serta jenis makanannya berbeda. Khusus di Pontianak, makan saprahan hanya digelar untuk perjamuan para kerabat keraton.

Setidaknya ada empat keistimewaan nilai yang didapatkan dalam kegiatan makan besaprah ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

1.            Kesederhanaan melalui makan besaprah ini terlihat sebuah kesederhaan yang tercipta, yaitu dengan duduk secara bersama-sama dilantai dengan lauk dan sayur yang apa adanya. Setiap orang dengan berbagai latar belakang, kaya atau miskin, muda atau tua, mempunyai jabatan atau tidak, makan makanan yang sama,tidak ada yang diistimewakan.
2.            Kebersamaan dan kekeluargaan, makan besaprah menjalin kebersamaan dan kekeluargaan yang merupakan modal penting untuk menjaga kita tetap saling mengenal.
3.            Persatuan, Semakin baik kita mengenal sesorang lain maka hubungan emosional kita dengan orang tersebut akan baik dan akan berpengaruh pula kepada rasa persatuan dan kesatuan kita.
4.            Solidaritas, dengan terjalinnya dan kesatuan dan persatuan rasa solidaritas akan timbul dengan sendirinya.

Dengan adanya empat keistimewaan mengenai makan bersaprah, maka mulai dari sekarang mari kita lestarikan makan besaprah sebuah budaya khas seluruh Melayu khususnya di Kabupaten Sambas bumi Terigas.
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours