Sekolah adalah tempat dimana siswa atau anak-anak menuntut ilmu, sedangkan di sekolah juga ada guru yang memberikan atau mentranfer ilmunya kepada anak didik atau murid-muridnya. Di sekolah juga pasti terdapat kantin sekolah yang dibuat secara pribadi atau memang sudah dibuat oleh pemerintah. Jika sudah dibuat oleh pemerintah, maka orang (ibu-ibu kantin) langsung menempati kantin tersebut. Dan jika di sekolah tersebut belum ada kantin, maka orang-orang yang akan berjualan di sekolah-lah yang membuat kantin dengan dana mereka sendiri (swadaya). Bagi ibu-ibu kantin yang berjualan di kantin sekolah, maka akan memberikan kompensasi buat sekolah sebagai uang kebersihan sebesar Rp. 3000,00 s.d Rp. 5.000,00. dengan adanya kantin sekolah, anak-anak tidak lagi jajan dikantin luar sekolah. Jadi keamanan bagi anak-anak insya Allah bisa dikontrol.

Alkisah disuatu sekolah di Kalimanatan Barat (identitas dirahasiakan) terjadi salah paham antara ibu-ibu kantin dengan pihak sekolah. Permasalahannya berawal dari pemagaran halaman sekolah oleh pihak sekolah (pegawai yang disuruh oleh bapak kepala sekolah). Sekolah memang pada awalnya pada tahun 1999 sudah dipagar, akan tetapi hanya menggunakan kawat berduri. Lama kelamaan kawat berduri itu semakin tua dan berkarat, akhirnya pagar itu putus.

Jika diperhatikan, di sana sini pagar sudah banyak yang putus. Sekolah yang tidak mempunyai pagar kawat itu sudah lama sekali kurang lebih 7 tahun. Kini dengan adanya Kepala Sekolah yang baru, mengambil inisiatif untuk memagar ulang dengan menggunakan kawat bekas yang masih bagus. Kenapa sekolah itu dipagar? Karena banyak anak-anak yang keluar masuk dari pagar yang bolong. Sedangkan mereka lewat dari samping atau dari belakanag rumah penduduk. Dan pula, jika ada anak atau siswa yang terlambat, maka siswa tersebut masuk dari pagar yang bolong, bukannya dari pintu yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah (pintu utama). Begitu juga dengan siswa yang ingin bolos, itulah sebabnya mengapa sekolah itu dipagar.  

Akan tetapi permasalahannya tidak berhenti disitu saja, mengapa? Karena ibu-ibu kantin biasanya masuk lewat pagar yang bolong, mengingat dekatnya jarak tempuh ke kantin mereka di belakang sekolah. Jika pagar itu ditutup, maka jarak tempuh mereka akan menjadi jauh. Oleh sebab itulah pihak ibu kantin mohon kebijaksanaan dari Kepala Sekolah agar pada jalur (jalan) mereka dibuatkan pintu. Dan pula pihak ibu kantin akan bertanggungjawab atas pintu tersebut (dikunci) oleh ibu kantin jika proses keluar masuknya mereka.

Setelah dimusyawarahkan sesama ibu kantin, dalam hal permohonan pintu untuk keluar masuknya ibu kantin mengangkut barang dagangan serta keluar masuknya ibu-ibu kantin. Mereka ada yang setuju dan ada yang tidak, bagi yang tidak setuju, menyarankan kepada yang setuju, silakan saja untuk menghadap Kepala Sekolah, mungkin akan dipertimbangkannya, kata salah seorang ibu kantin.    

 Setelah melakukan mediasi atau negoisasi (permohonan) oleh salah satu keluarga dari ibu kantin menghadap Kepala Sekolah, dengan mengutarakan atau menyampaikan inspirasi dari ibu-ibu kantin, akan tetapi hasilnya nihil. Kepala Sekolah masih tetap bulat dengan keputusannya, katanya “semua ini adalah keputusan atau kebijakan sekolah (kebijakannya). Bagi yang setuju dengan kebijakan sekolah, silakan jualan di kantin tersebut, jika tidak setuju atau keberatan dengan kebijakan sekolah, maka silakan buat kantin di luar sekolah”.    

Dengan mendengar keputusan dari Kepala Sekolah, yang tegas, dapat disimpulkan “kurang bijaksanya kepala sekolah dal hal pemagaran”.

Maksud dari ibu-ibu kantin adalah panggil kesemua ibu-ibu kantin tersebut, dan bicarakan dengan 12 mata (ibu kantinnya ada 5 orang/lima kantin). Ini tidak ada sama sekali pemeberitahuan, yang ada hanya dari mulut ke mulut. Seorang pemimpin bisa juga blusukan seperti Jokowi, dalam hal ingin mengetahui kebijakan apa yang harus dilakukan demi kemajuan dan bebersihan sekolah.

Menurut Kepala Sekolah, hal pagar dan kantin serta keluar masuknya ibu-ibu kantin dari pagar yang bolong, tidak ada hubungannnya. Akan tetapi menurut pendapat kesemua ibu-ibu kantin, meskipun tidak ada hubungannnya, harus dibicarakan secara kekeluargaan. Jangan dengan perasaan kebencian atau sentimen kepada salah satu ibu kantin, atau ke semua ibu-ibu kantin. Kenapa bisa seperti itu? Karena dia (beliu kepala sekolah) itu adalah Kepala Sekolah baru di sekolah tersebut. Jika ternyata semua itu benar, karena sentimen, maka biar saja Allah Yang Maha Kuasa membalasnya. Dan jika kami yang salah (kata ibu-ibu kantin) kami minta maaf yang sebesar-besarnya.

Pernah kepala sekolah itu bilang, kata salah seorang dari ibu kantin tersebut, atau kata salah satu pegawai dari sekolah tersebut. “Barang siapa yang tidak mentaati peraturan atau tata tertib kantin di sekolah kami, maka dengan tidak mengurangi rasa hormat, “keluar” dari dalam lokasi sekolah, dan silakan buat kantin di luar sekolah yang lebih aman, atau lebih bagus. Akan tetapi anak-anak tidak boleh jajan di luar selagi belum pulang sekolah”.


Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours