Hari Minggu, Elsa, Bagus, Dila dan Anis liburan ke kampung neneknya di Sambas Kecamatan Tebas. Mereka ke Tebas menggunakan dua buah sepeda motor, Elsa goncengan dengan Anis, sedangkan Bagus goncengan dengan Dila. Satu jam setengah tibalah mereka di Tebas Desa Pusaka Dusun Sekadim. Jarak tempuh dari Kota Singkawang ke Tebas Desa Pusaka Dusun Sekadim, kurang lebih 156 kg.

Setibanya mereka di kampung, rumah neneknya kosong. Kemudian mereka pergi ke kebun di belakang sekolah. Setibanya di kebun, ternyata kakek dan neneknya sedang memetik buah jeruk dan sayur kacang. Nenek dan kakeknya senang sekali, cucu-cucu mereka dating dari Kota Singkawang.

Ketika Bagus mengambil jeruk yang jatuh, tiba-tiba ia melihat hewan kecil berjalan pada jeruk yang diambilnya. Binatang atau hewan itu sangat kecil, hewan itu bukan virus, bukan planton, bukan bakteri. Bagus tidak pernah sama sekali melihat hewan itu, ia pun bertanya kepada kakeknya.
“Kek, hewan apa ini… kok kecil sekali? Tidak pernah kulihat hewan sekecil ini. Warnanya merah, Kek…!”, kata Bagus kepada kakeknya.

“Nama hewan itu adalah tungau… ia tumbuh dan berkembang di tempat yang lembat. Hewan tungau ini suka menggigit kita (manusia) atau hewan lain secara berkelompok. Biasanya jika pada tubuh kita, ia suka di lekuk-lekuk tubuh kita, misalnya, di selangkangan paha, ketek, pada srotum kita, atau pada “Mrs V”. Jika kita digigitnya terasa gatal dan sakit, serta susah untuk mencarinya. Biasanya kakek minta tolong sama nenekmu untuk mengambil binatang itu. Begitu juga dengan nenekmu minta bantuan sama kakek untuk mengambil binatang (tungau) tersebut”.

“Untuk membunuh hewan itu di tubuh kita. Kita bisa menggunakan minyak tanah, minyak makan, minyak talon. Oleskan minyak tersebut pada yang gatal, agar tungau ini mudah tanggal. Akan tetapi prosesnya sangat lama juga, karena tungau ini sangat kuat sekali menggigit tubuh kita”. Tambah neneknya.

“Apa nama hewan ini kek dalam bahasa Indonesianya atau bahasa latinnya?” tanya Elsa.
“Entahlah, kakek dan nenekmu tidak sekolah, coba kamu tanya dengan pamanmu (Sugianto, S.Pd.I) mungkin dia tahu, karena dia sekolah”, jawab kakeknya.

“Tidak menutup kemungkinan juga, Kek… paman tidak tahu, karena dia bukan kuliah dibidang ilmu IPA, Biologi atau jurusan Fisika. Pamankan Cuma jurusan Tarbiyah, bukan jurusan tungau”, gurau Dila.

Hari semakin tinggi, kini sudah semakin panas. Anis mengajak mereka pulang ke rumah neneknya. Setelah mengajak nenek dan kakeknya merekapun pulang ke rumah nenek dan kakeknya. Setelah tiba di rumah, kakeknya tidak diam atau langsung istirahat. Kakeknya mengambil sekarung padi dan ingin dirontoknya. Anis waktu itu bermain di sekam padi, kakinya terasa gatal. Kemudian ia menemui kakeknya dan menceritakan kepada kakeknya tentang kejadian tadi. Kakeknya bilang, bahwa hewan tadi adalah amak, amak padi yang paling kecil setelah tungau.

Jadi kata Dila, hewan yang paling kecil di dunia adalah tungau dan amak. Namun belum ada penelitiannya. Ayo pakar (biologi) ilmu ipa, apakah tungau dan amak hewan terkecil di dunia. Sementara aku ya,,, karena setelah ku pelajari tidak ada yang sekecil tungau dan amak yang tampak oleh mata.
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours