Senin, 30 Mei 2016

Dibilang Muntahan Kucing? Kok Enak rasanya????? Penasaran


Bubur Pedas
Di era Presiden Soeharto dengan programnya tranmigrasi, banyaklah orang-orang dari Jawa yang ditranmigrasikan ke seluruh Indonesia tidak luput pula Pulau Kalimantan, khususnya Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Sambas, Kecamatan Subah, Kecamatan Sajingan, dan Kecamatan Tebas. Begitu juga dengan guru-guru PNS (Pegawai Negeri Sipil), yang ditugaskan jauh dari tanah kelahirannya, ada yang dari NTT, Jawa, NTB, dan banyak lagi yang lainnya. Orang-orang Jawa, NTT, atau NTB yang datang ke Kabupaten Sambas itu masih kaku  dan tidak mengetahui bahasa Sambas. Mereka perlahan-lahan mulai belajar dengan budaya setempat, mereka bergaul, bermain, belajar bersama-sama.

Kebiasaan orang-orang Sambas, biasanya jika mereka ngumpul-ngumpul suka bikin (buat) acara. Biasanya mereka suka membuat bubur pedas. Masing-masing dari mereka membawa sayur mayurnya, bahkan mereka sudah patongan (berisan), sedikit sorang (dibagi rata). Ada yang bawa midding (pakis), ada yang bawa kangkung, ada yang bawa kemilek (ketela rambat), dan lain-lainnya.

Mereka bekerja tidak kenal lelah, begitu juga masyarakat yang datang baru. Mereka ikut bekerja sambil memperhatikan apa yang akan terjadi. Setelah semuanya selesai dan sudah dihidangkan. Dipanggillah tamu-tamu dari jauh tersebut. Sebut saja nama Domi (bukan nama sebenarnya red), ia kemudian duduk bersila menghadapi makanan tersebut yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Domi termenung, ia bengong… ia berbisik pada teman disebelahnya “ini bubur pedas apa muntahan kucing?” ucap Domi. Temannya tersenyum, Domi dengan tidak mengurangi rasa hormat orang Melayu menolak makanan bubur pedas itu. Domi merasa jijik karena bubur pedas itu menurutnya seperti “muntahan kucing”.   

Seiring dengan waktu, setiap acara orang-orang Sambas selalu membuat bubur pedas. Domi yang selalu bergaul dengan orang Melayu mulai berani untuk mencicipi walau sedikit atas desakan teman-temannya. Pertama sekali ia ragu, baru saja dicicipinya ia muntah... karena ia merasa jijik dan ingat dengan “muntahan kucing”.

Beberapa bulan kemudian ada orang memberi Domi bubur pedas, akan tetapi ia tidak ada di rumah. Sedangkan waktu itu rumahnya tidak dikunci, orang tersebut menaruh bubur pedas itu di atas meja makannya. Domi datang dari kerja dan perutnya lapar sekali. Ia bergegas naik dan dilihatnya ada “sesuatu” di atas meja. Kemudian dengan lahapnya ia memakan bubur pedas itu hingga habis, tiada lagi yang tersisa bahkan Domi menghirup habis air di mangkok bubur pedas tersebut.

Setelah makan bubur pedas, Domi main ke rumah temannya. Temannya bilang kepada Domi.
“Uddah kau makan ke bubbor paddasmu e, bagaimane rasenye, nyaman ke...?”
“Sudah kamu makan ka bubur pedasmu tu, bagaimana rasanya, enak ka...?”
“Da-an e, mane ade...!”.
“Tidak tu, mana ada...!”.
“Adeee, ade tadek kutaruh diatas mejemu e”.
“Adaaa, ada tadi kutaruh duatas mejamu tu”.
“iye ke...?!”,
“Itu ka...?!”,
“Iye di we, ape uddek...?”.
“Itu lah, lalu apa...?”
“Ternyate bubbor paddas nyaman i... maseh ade ke...?”
“Ternyata bubur pedas enak ya... masih ada ka...?”

Sejak dari itu “muntahan kucing” menjadi menu utama bagi si Domi di Kabupaten Sambas, akhirnya iapun kawin dengan gadis Sambas dan menetap di Sambas hingga sekarang.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...