sumber gambar: indoteknik.com
Satu lagi tumbal dari Pertembangan Emas Tampa Izin yang (PETI) yang berada di desa Serindang Setia Masa di lereng gunung Pelanjau berdekatan dengan Desa Batu Mak Jage. Tempat ini yang dulunya asri dengan berbagai pepohonan tumbuh dengan subur menghiasi lereng-lereng bukit dan Gunung Pelanjau yang penuh dengan mistis. Karena di sekitar Gunung Pelanjau terdapat sebuah batu keramat yang melagenda disebut penduduk dengan nama “Batu Nek Jage”.

Entah siapa yang memulainya untuk membuka lahan yang berhektar-hektar untuk Pertambangan Emas Tanpa Izin itu. Dari hari ke hari tempat itu semakin ramai dikungjungi oleh masyarakat di sekitar Desa Serindang, dan bahkan dari Kecamatan Selakau pun berdatangan untuk mncari rezeki dengan mendulang emas yang konon menurut cerita penduduk hasil tambang emas di tempat itu sangat banyak.

Dari hari ke hari tempat di mana lokasi PETI itu seperti layak sebuah pasar, dari anak-anak hingga kakek-kakek, dari gadis hingga ibu-ibu datang ke tempat (PETI) itu untuk mencari rezeki. Kini alam disekitar tempat PETI telah hancur, pohon-pohon bertumbangan, tanah yang dulunya rata dan  alami kini telah berlobang-lobang seperti sarang ngengat, serta air bertakung di mana-mana. Lobang-lobang itu seperti telaga angker dengan kedalaman 8-15 meter, berdiameter antara 70-100 centimeter  (1 meter). 

Biasanya para pendulang mendapatkan hasil berkisar Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta) perharinya, tergantung pada nasib dan retak tangan (garis tangan atau tuah). Bahkan ada yang dapat membeli sepeda motor Vixson, Thunder, Beat, Revo, membelikan istrinya perhiasan seperti gelang, cincin, giwang. Dan ada pula dengan hasilnya mendulang untuk menyekolahkan anak-anaknya kejenjang yang lebih tinggi mulai dari SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi (Kuliah), dan banyak lagi yang lainnya. Namun dibalik hasil mereka yang memukau itu, ada “maut” yang selalu mengintai mereka setiap harinya. Mengapa? Karena dengan kedalaman lobang yang berkisar 8-15 meter itu mereka selam tanpa menggunakan alat bantu pernafasan sedikitpun. Serta dengan air telaga yang begitu keruh berwara putih kental atau kecoklat-coklatan.

Beberapa bulan kemudian, ada dari beberapa penyelam mendapat ide baru. Mereka menyelam menggunakan alat bantu pernafasan dengan menggunakan kompresor untuk memompa ban mobil, ban sepeda motor, ban sepeda dan lain sebagainya. Para pendulang tidak lagi memikirkan keselamatannya, yang mereka pikirkan saat itu adalah hasil emas yang sangat menjanjikan demi anak dan istri serta keluarganya. Bayangkan mereka menyelam dengan kedalaman 15 meter dengan menggunakan udara dari kompresor. Para penyelam (pendulang) menyelam di dalam telaga itu berkisar 1 sampai 4 jam hanya dengan bantuan udara kompresor. Sedangkan udara dari kompresor itu bukan oksigen yang baik untuk paru-paru mereka. Namun mereka tidak lagi menghiraukan semua itu, yang penting bagi mereka adalah “duit”.

Perlu diketahui, di dalam tanah yang 8-15 meter itu seperti sarang semut yang berliku-liku lobangnya. Biasanya para penyelam masuk dari lobang A, bisa tembus (keluar) dari lobang B, atau lobang C. Berarti di bawah sana seperti goa (arung), hanya menunggu waktu akan drop (runtuh atau amblas) ke bawah.    

Lobang semakin bertambah, satu persatu korban berjatuhan tertimbun tanah dompeng. Jika seseorang yang sudah tertimbun tanah dompeng tidak pernah bisa diselamatkan lagi. Jika sudah ada yang menjadi korban ditempat itu, maka hasil emas yang akan mereka peroleh semakin bertambah dari biasanya. Dengan melihat para korban yang berjatuhan seolah-olah penunggu tempat tersebut mencari “tumbal”.

Pendulang yang sudah menjadi korban berasal dari Desa Serindang, Desa Penage, Desa Maktangguk, dan dari desa yang lain. Para korban PETI tersebut dari anak yang masih bujang (lajang)  hingga sudah berkeluarga dari anak 1 sampai anak 4. Dengan melihat korban yang berjatuhan semakin betambah, di mana peran pemerintah setempat dan pemerintah terkait?
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours