Selasa, 10 Mei 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Asal Usul Pikah Kera Belanda di Sambas"

Selama dua abad kesultanan Sambas berdiri, selalu dirongrong oleh berbagai kekacauan baik yang datangnya dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kedaulatan sering dilanggar sehingga menimbulkan beberapa kali peperangan. Sampai penutup abad ke-18 Belanda dan Inggris hanya berhasil melakukan perniagaan yang tidak mengikat.
Hubungan antara kesultanan Sambas dengan Belanda dan Inggris tidak terlalu akrab.
Inggris dan Belanda selalu berusaha menuntut pembagian tanah yang lebih luas untuk kantor dagang dan benteng (loji) sehingga timbul pertengkaran antara Sultan Sambas dan Inggris yang meminta tidak hanya hak monopoli dalam perdagangan, juga meminta tanah pemukiman didaerah Paloh “Tanjung Datuk”.
Permohonan mereka ditolak oleh Sultan Sambas. Alexander Hare, wakil pemerintah Inggris yang datang menemui Sultan Sambas pada tahun 1812 mengira akan dengan mudah mendapat beberapa bidang tanah di Sambas, mereka merasa kecewa atas sikap tegas Sultan terhadap mereka.
Pada masa itu Negeri Sambas dalam keadaan sangat lemah, karena secara berturut turut sejak tahun 1789 sampai dengan tahun 1791 diserang oleh pasukan Siak Sri Indrapura. Di dalam negeri mendapat gangguan dari Kongsi-kongsi pertambangan emas orang Cina.
Pada tahun 1811, Sultan Abu Bakar Tajudin I menerima laporan dari rakyatnya (nelayan penangkap ikan), bahwa di kuala Sungai Sambas Kecil telah berlabuh sebuah kapal asing milik East Idian Company kepunyaan Inggris yang amat mencurigakan. Kedatangan kapal Inggris itu ternyata untuk menuntut tanggung jawab dari Pangeran Anom yang telah menyerang kapal Inggris di perairan Banjarmasin dalam tahun 1789. Inggris memberitahukan agar Sultan Sambas mau memenuhi permintaan Inggris terhadap daerah Paloh.
Dalam upaya Sultan Sambas mempertahankan negerinya dari serangan pasukan Inggris itu, diperintahkan kepada panglima dan rakyatnya bersiap siaga membuat kubu pertahanan di sebelah kiri dan kanan Sungai Sambas Kecil dan dan menimbun batu batu besar ke dalam sungai tersebut untuk menghadang kapal-kapal Inggris yang berusaha masuk menelusuri alur sungai Sambas Kecil. Karena timbunan batu tersebut kapal Inggris yang besar tak bisa masuk melalui sungai Sambas Kecil.
Pasukan Ingris dan Belanda terus berusaha ingin masuk ke Sambas, mereka ingin menghancurkan Kesultanan Sambas. Berpuluh serdadu Belanda dan Inggris berada dikapal dengan senapan yang siap untuk berjuang mati-matian. Kapal Belanda pada waktu itu bernama Sari Borneo di bawah pimpinan seorang Kapten. Karena Kaptennya sangat berambisi untuk ke Sambas, batu yang besar di tengah sungai tersebut ditabraknya berkali-kali dengan kapal. Namun semua itu sia-sia belaka, yang terjadi bahkan sebaliknya, kapal mereka (Sari Borneo) pecah dan karam di Sungai Sebatok.
Para serdadu berusaha menyelamatkan diri dan barang-barang mereka, termasuklah Kaptennya.  Mereka yang menyelamatkan diri dikutuk atau disumpah oleh Sultan Sambas menjadi Pikah. Pikah adalah sejenis kera berwarna pirang hidungnya besar. Dan sejak itupula tempat terjadinya kapal Belanda sampai sekarang diberi nama kampung Sebatu (karena alur sungainya dipenuhi batu).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...