Selasa, 10 Mei 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Asal Usul Nama Desa Galing"

Pada suatu malam menjelang datangnya bulan purnama, berarti para bujang dan dara di kampung itu akan melangsungkan acara ngamping. Seorang dara dari suatu keluarga tiga beranak meminta ayahnya membuat alu baru, karena alu mereka sudah lama dan sudah terasa pendek. Ayahnya menyanggupi dan berjanji besok pagi akan ke hutan mencari kayu galing untuk membuat alu. Si dara itu bernama Midah, sedangkan ayahnya bernama Pak Jupri sedangkan ibunya bernama Masnah.

Keesokan paginya setelah minum kopi dan ngenam (makan) pisang rebus, sang ayah dengan berbekal parang baduk pergi ke hutan untuk mencari kayu galing untuk membuat alu. Parang baduk adalah sejenis parang pendek untuk menebang atau memotong kayu. Kemudian sang ayah berangkat ke hutan yang letaknya di belakang ladang mereka.

Setelah berjalan seharian di hutan tersebut, ayah si Midah tidak juga menemukan sebatang pohon galing yang akan ditebang. Pak Jupri merasa kesal dan kelelehan, ia ingin istirahat namun tak bisa. Ia terus mencari pohon galing tersebut, karena ia tidak mau mengecewakan anak dara kesayangannya. Akhirnya hari menjelang sore, perutnya pun sudah terasa lapar, ia terpaksa menuju pulang dengan harapan esok akan mencari lagi ke hutan yang lebih dalam.

Sesampainya di dekat ladangnya Pak Jupri terperanjak (terpana), karena di depannya berdiri kokoh sebatang pohon galing yang sedang berbunga semerbak wanginya sampai menyengat hidungnya. Pak Jupri terpegun sejenak, kemudian terus berjalan menuju rumahnya. Di dalam hati Pak Jupri berkata:
“Issok akan ku tabbang pohon galing iye, sorenye barrok kubuat alok, dan baharinye pasti barrok selesai”, kata Pak Jupri di dalam hati.
“Anak dareku si Midah, pasti akan senang sekali, karena dapat alok baru kan ngamping nantek, dan permintaanyepun dah kupannohhek”, tambahnya.

Setelah sampai di rumah Pak Jupri segera mandi, kemudian minum dan makan malam bersama keluarganya. Malam itu Pak Jupri cepat pergi tidur karena capek seharian mencari kayu galing buat anak daranya. Sedangkan anak dan istrinya masih duduk-duduk dan berbincang-bincang di tengah rumah. Menjelang tengah malam Pak Jupri bermimpi, seorang kakek tua berjenggot panjang datang kepadanya dan memintanya jangan menebang pohon galing itu. Kakek tua yang berjenggot itu berkata kepada Pak Jupri.  

“Wahai cucokku, usahlah kau tabbang pohon galing iye, jikke urrang-urrang kampong ingin mendapatkan aek tawar pade saat kemarau, ketike aek sungai uddah menjadi masing, make ambeklah aek di tilage di bawah pohon galing iye”, ucap kakek yang berjanggut panjang itu yang tiada lain adalah Tok Janggut penunggu pohon galing itu.
“Bersihkanlah tilage iye dan rawatlah dangngan baik-baik, niscaye urrang kampong tidak akan kekurangngan aek sampai kapanpun”, tambah Tok Janggut menjelaskan kepada Pak Jupri.

Kemudian Pak Jupri terbangun dari tidurnya, ia mencoba mengingat-ngingat kembali mimpinya. Setelah semuanya diingatnya, Pak Jupri bangkit menuju siok (ruang dapur), ia mengambil air di tempayan dan membasuh mukanya (bepungngas). Setelah itu dia duduk di serambi (ruang tengah) sambil menghisap rokok nipah. Rokok nipah adalah rokok yang membungkus tembakaunya menggunakan daun pucuk nipah yang telah dikeringkan.

Pak Jupri berniat besok pagi akan melihat ke pohon galing tersebut, apakah benar ada telaga (perigi) di bawah pohon itu. Setelah merasa tenang, Pak Jupri tidur kembali. Namun, baru saja Pak Jupri terlelap, ia kembali didatangi oleh orang tua yang berjenggot panjang, dan mengatakan kepada Pak Jupri.

“Kau boleh pecayak, boleh juak daan, tappi... jike kau tattap akan nak nabbang pohon galing iye, niscaye urrang-urrang kampong ittok akan kesulitan mendapatkan aek tawar apebille dimusim kemarau nanteknye”, kata Tok Janggut kepada Pak Jupri.

Kemudian Pak Jupri terbangun dari tidurnya, Pak Jupri bangkit menuju siok (ruang dapur), ia kembali mengambil air di tempayan dan membasuh mukanya. Setelah itu ia tidur kembali dengan lelap, sampai anak daranya si Midah membangunkannya, baru Pak Jupri terbangun. Setelah bangun dari tidurnya, Pak Jupri langsung pergi mandi di sungai, setelah mandi ia minum kopi panas bersama pisang rebus yang sudah dipersiapkan oleh istrinya.

Setelah sarapan, Pak Jupri mengambil parang baduk dan langsung menuju pohon galing yang dilihatnya kemarin. Sesampainya di pohon galing tersebut, ia langsung mendekati pohon itu. Pak Jupri mencabut parang baduknya dengan niat untuk menabang pohon galing tersebut. Namun, baru saja ia akan mengayunkan parangnya ke pohon itu, seekor kodok tanah dipinggir telaga (perigi) di bawah pohon itu berbunyi.
“ie-ngat... ie-ngat... ie-ngat...” bunyi sang kodok.

Seolah-olah kodok itu menyuruhnya mengingat kembali tentang mimpinya semalam, dan menyuruhnya mengingat akan perkataan orang tua berjanggut dalam mimpinya. Pak Jupri menghentikan ayunan parangnya, kemudian ia membersihkan semak-semak disekitar pohon itu. Kini semuanya sudah bersih, maka tampaklah di bawah pohon itu sebuah telaga (perigi) yang cukup dalam berisi air yang amat jernih. Dirapikannya pinggir-pinggir telaga (perigi) itu, dan kayu-kayu kecil dipotong-potong, dan semak-semak ditebasnya. Kemudian telaga (perigi) itu dipagari oleh Pak Jupri agar kebersihan air telaga itu tetap terjaga.

Setelah semuanya selesai, Pak Jupri menebas jalan menuju ladangnya. Kini pekerjaan Pak Jupri sudah selesai membersihkan telaga (perigi) tersebut, ia pun akan kembali ke hutan mencari pohon galing untuk membuat alu pesanan anaknya si Midah. Baru beberapa langkah Pak Jupri memasuki hutan yang ditujunya, ia menemukan sebatang pohon galing yang pas seperti yang diharapkannya. Dengan didahului permintaan kepada pemiliknya, pohon galing itupun ditebangnya. Setelah ditebang, pohon itu dirapikan dahan-dahannya oleh Pak Jupri yang berserakan. Pohon galing itu dipotong sesuai dengan yang diperlukan oleh Pak Jupri, kemudian pohon itu dibentuknya sebagaimana sebuah alu.

Setelah selesai dengan mengucap terima kasih kepada sang pencipta, Pak Jupri terus pulang membawa alu yang belum sempurna dibuatnya. Sesampainya di rumah, alu yang baru setengah dibuatnya di hutan diletakkannya di bawah teras rumah. Kemudian Pak Jupri langsung mandi ke sungai. Setelah mandi, ia langsung pergi ke dapur untuk makan siang. Sedangkan nasi dan lauk pauk serta sayur sudah disiapkan oleh istri dan anaknya. Karena perutnya sudah lapar, maka tanpa menunggu istri dan anaknya yang masih asik membersihkan beras, Pak Jupri langsung makan. Setelah makan Pak Jupri langsung meneruskan pekerjaannya membuat alu hingga ke sore.

Setelah selesai, Pak Jupri mandi. Ketika malam hari selesai makan malam, ketika istri dan anaknya si Midah sedang berkumpul di serambi menikmati kopi panas dan tambol (kue), dengan bangga ia keluar sambil membawa alu yang telah selesai dibuatnya dan menyerahkannya kepada istri dan anak daranya. Istri dan anak daranya sangat senang sekali menerima alu tersebut. Mereka memuji ketulusan ayahnya dalam memperhatikan mereka, dan mereka juga memuji pekerjaan ayahnya yang sangat rapi dalam membuat alu tersebut. Menerima pujian dari istri dan anaknya, Pak Jupri menjadi serba salah, ia segera mengalihkan pembicaraan mereka dengan mengisahkan bagaimana kemarin malam ia bermimpi tentang orang tua berjanggut yang memperingatkannya, dan kemudian ia diperingatkan oleh kodok tanah ketika ingin menebang kayu galing tersebut yang dekat dengan ladangnya.

Mendengar kisah ayahnya, mereka menjadi tertegun. Mereka ingin segera melihat telaga (perigi) yang diceritakan oleh ayahnya. Kemudian Pak Jupri berkata kepada anak dan istrinya.
“Isok we kittak boleh meliat tilage atau perigi yang ayah kerjekan dari pagi sampai ke siang tadek, tappi jangan dolok nak diomong-omongkan ke urrang i. Mudah-mudahan ape yang dipesankan ke ayah lewat mimpi simalam ye, bennar. Sehingge urrang di kampong kitte tidak kesulittan nak incarek aek tawar dimusim kemarau”, kata Pak Jupri kepada anak dan istrinya.
“Aok di Yah, kamek daan ceritte dangngan urrang”, jawab istrinya. Sedangkan si Midah mengangguk-ngangguk.

Istri dan anaknya setuju dengan apa yang Pak Jupri katakan. Keesokan harinya, tiga beranak layaknya pergi ke ladang, para tetangga tidak ada yang mempersoalkan atau bertanya hendak kemana mereka pergi bertiga. Mungkin karena mereka sering pergi ke ladang bersama-sama. Sesampainya di ladang, ayahnya menunjukkan tempatnya seperti apa yang telah diceritakannya kepada anak dan istrinya.

Ketika sampai di telaga (perigi), airnya sudah penuh dan tampak jernih sekali. Pak Jupri mengambil sehelai daun galing yang telah gugur, dibentuknya daun itu menjadi pencedok untuk mengambil air telaga itu. Air telaga itupun dicedok oleh Pak Jupri. Kemudian air itu diminumnya sedikit demi sedikit dan dirasa-rasakannya. Ternyata airnya memang tawar, malah terasa seperti ada sedikit manis. Ia serahkan air itu kepada istrinya dan anaknya untuk mencoba air telaga tersebut. Anak dan istrinyapun merasakan hal yang sama. Mereka sangat senang dan berdo’a kepada sang pencipta mudah-mudahan apa yang telah dikerjakan oleh ayahnya menjadi kenyataan.

Hari demi hari terus berlalu, kisah telaga (perigi) itu pun hampir tidak lagi mereka ingat. Akhirnya sampailah pada musim kemarau, air sungai sudah mulai asin. Orang-orang di sini percaya kalau dimusim kemarau air asin dari Sungai Paloh menembus melalui bumi memasuki anak Sungai Sambas. Memang sungai ini ada keanehan, kalau dimusim kemarau, dua minggu saja tidak hujan sungai ini mulai asin airnya. Padahal di hulu dan di hilir airnya tidak pernah asin.

Ketika air sungai mulai asin inilah mereka teringat kembali akan telaga (perigi) itu. Mereka bertiga pergi mengambil airnya dan ternyata memang tawar airnya. Orang-orang bertanya kepada mereka, di mana mereka mengambil air tawar? Maka dengan singkat mereka menjawab “di galing”. Maksudnya di telaga di bawah pohon galing. Sehingga orang-orang kampung ikut mengambil air di bawah pohon galing tersebut.

Pada sore hari, karena banyak orang-orang yang mengambil air di telaga (perigi) tersebut, sepertinya air itu akan habis. Namun keesokan paginya, air telaga itu penuh kembali. Begitulah seterusnya, sehingga orang-orang di kampung itu tidak lagi kesulitan air tawar. Sejak dari itulah terdengar kabar bahwa mereka mengambil air di galing. Akhirnya orang-orang dari kampung tetanggapun datang untuk meminta air, dan menamakan kampung ini dengan nama Kampung Galing, dan nama galing terus dikenal hingga saat ini menjadi kecamatan, yaitu Kecamatan Galing.

KEPUSTAKAAN 

Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.

Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...