Google ASAL-USUL BURUNG BANGAU MAKAN IKAN - Cakra Wawasan
News Update :
Klik Salah satu Link, untuk menutup BANNER ini...
Home » » ASAL-USUL BURUNG BANGAU MAKAN IKAN

ASAL-USUL BURUNG BANGAU MAKAN IKAN

Penulis : ANTS EDUCATION on Minggu, 12 Mei 2013 | 15.48

Para pembaca yang budiman, cerita “Burung Bagau Yang Kurus” ini adalah sebuah cerita pengantar tidur untuk anak-anak kita. Cerita “Burung Bangau Yang Kurus” ini diceritakan dari mulut ke mulut, dan akhirnya sampailah ke mulut masyarakat Kota Singkawang, dan akhirnya kepada penulis, entah dari siapa cerita ini bersumber pada mulanya. Cuma penulis pernah mendengar cerita ini diceritakan oleh datok, kakek ataupun nenek. Cerita ini sangat cocok sekali jika ada anak kita yang menjaga (mengasuh) adiknya dan ingin menidurkan adiknya, menceritakan cerita ini kepada adiknya.

Biasanya anak-anak kecil jika mereka asyik mendengar cerita, tidak terasa mereka sampai tertidur. Namun si pencerita atau si pendongeng, harus pandai menceritakan cerita tersebut, agar cerita tersebut seperti benar-benar terjadi.  

Jika ada kesamaan atau kemiripan cerita di bawah ini dengan cerita di kota lain atau di provinsi lain, penulis mohon maaf. Bukan maksud penulis untuk menjiplak atau mencuri karya orang lain. Tiada lain maksud penulis adalah untuk melestarikan cerita rakyat (dongeng) yang hampir punah ditelan zaman modern.

Tujuan lain dari tulisan ini adalah agar anak didik atau generasi penerus dapat mengetahui cerita-cerita rakyat yang disampaikan dari mulut ke mulut oleh orang-orang tua zaman dahulu. Para pembaca yang budiman, selamat membaca cerita “Burung Bangau Yang Kurus”.

Pada zaman dahulu kala, ketika segala binatang-binatang dan benda-benda alam masih pandai berkata-kata seperti manusia, maka hiduplah ditepi sebuah danau seekor Burung Bangau. Badan Bangau ini kurus sekali. Pada suatu pagi, ketika matahari baru sepenggalah tingginya, Burung Bangau itu berdiri di tepi danau. Ia mencari ikan yang kecil-kecil sambil berjemur di bawah sinar matahari pagi. Air danau tenang tidak beriak, karena tidak ada angin yang berhembus.

Di atas sana kelihatan seekor Burung Elang yang sedang melayang-layang. Burung Elang itu melihat dengan matanya yang sangat tajam ke permukaan danau, kalau-kalau ada ikan yang muncul ke permukaan danau.

Karena masih ada sisa-sisa embun pagi di permukaan danau, maka Burung Elang itu terbang lebih merendah. Saat Burung Elang itu melintas di depan Burung Bangau, berkatalah Burung Elang itu kepada si Burung Bangau.

“Hai Bangau, mengapa badanmu makin lama semakin kurus?”, tanya si Burung Elang kepada Burung Bangau.

“Bagaimana tidak jadi kurus, setiap hari makan nasi mentah”, jawab Burung Bangau itu bersedih.

“Baiklah, karena engkau sahabatku, aku kasihan melihatmu”, kata Burung Elang itu.
“Nanti kutanyakan pada nasi, megapa ia mentah melulu”, tambah Burung Elang, sambil pergi untuk menemui nasi.

Setelah bertemu dengan nasi, berkatalah si Burung Elang.
“Hai nasi, mengapa engkau mentah melulu? Kasihan sahabatku, si Burung Bangau menjadi kurus badannya”, kata si Burung Elang.

“Bagaimana saya tak mentah, saya dimasak setiap harinya dengan kayu yang basah”, jawab nasi kepada si Burung Elang.

“Oooo... begitu ya... Baiklah nanti akan kutanyakan kepada kayu”, kata Burung Elang itu.
Burung Elang itu tak ubahnya seperti detektif yang sedang mengadakan penyelidikan. Sang Elangpun mencari si kayu. Ketika si Burung Elang bersua dengan si kayu bakar, iapun bertanya.
“Hai kayu, kenapa engkau sering kali basah? Coba lihat, nasi selalu saja mentah”, tanya Burung Elang kepada kayu bakar.
“Bagaimana pula aku tak basah, aku selalu saja ditimpa hujan”, jawab kayu bakar.
“Ketika hari hujan, aku ditaruh di luar”, tambahnya.
“Kalau begitu, yang salah ini adalah hujan, gara-gara dialah kayu menjadi basah”, pikir Elang di dalam hati.
“Baiklah jika begitu, aku akan pergi menemui hujan”, kata si Burung Elang kepada kayu bakar.

Kemudian Elang itu pergi untuk menemui hujan. Untunglah musim hujanpun tiba, sehingga Elang itu dengan mudah untuk menemui sang hujan. Hujan tercurah dari langit dengan begitu deras. Setelah bertemu sang hujan, si Burung Elang bertanya kepada hujan.
“Hai hujan! Mengapa kamu terus menerus menimpa kayu bakar? Banyak yang telah menjadi korban gara-gara kamu! Kayu bakar basah, nasi mentah, dan si Burung Bangau menjadi kurus”, kata si Elang kepada hujan.
“Sa... sa... saya datang karena... di........ di... panggil oleh sang kodok! Kodok yang memangil-manggil saya untuk.... turun”, jawab hujan kepada Elang terbata-bata.
“Wah... wah... wah... bagaimana ini? Kenapa bisa begini, ya...?”, tanya si Elang tambah bingung.
“Coba kamu tanya si Kodok, mengapa ia memanggil-manggil aku”, suruh si hujan kepada Elang.
“Ok... aku akan menemui si Kodok”, ujar Burung Elang, dan iapun langsung pergi untuk menemui si Kodok.
Burung Elang berputar-putar di udara mencari si Kodok, tidak lama kemudian iapun menemukan sang Kodok. Setelah bertemu dengan si Kodok, Elang itu marah sekali. Ingin sekali ia menyambar Kodok tersebut untuk menjadi santapan siangnya. Untung saja ia ingat dengan pekerjaannya membantu si Burung Bangau.

   “Hei Kodok! Kau ini... mengapa memanggil-manggil hujan? Lihat! Sudah banyak yang menjadi korban secara berantai hanya karena kamu. Kayu bakar basah, hujan terus menerus, nasi menjadi mentah, dan Burung Bangau sudah kurus”, kata Elang kepada Kodok.

“Ooooo... itu?”, ujar Kodok.
“Itu apanya...?”, kata Elang.
“Coba berfikir tenang, bagaimana pula kami tidak memanggil hujan, ular-ular itu terus menerus mengejar kami! Siapa yang mau mati dimakan oleh si Ular. Kalau hari hujan, ular-ular itu tidak mau keluar dari lubangnya. Jadi kami bisa sedikit aman”, jelas si Kodok kepada ular.

“Ooooo... begitu, ya”, ujar Elang.
“Jadi, yang menjadi dalangnya adalah Ular”, tambah si Elang sambil pergi untuk menemui ular.
Tidak lama kemudian, si Elang berjumpa dengan si Ular. Si Elang meminta penjelasan kepada si Ular. Namun sebelumnya, si Burung Elang menceritakan kejadian demi kejadian yang dialami oleh teman-temannya secara berantai, khususnya si Burung Bangau. Setelah Burung Elang bercerita, si Ularpun berbicara kepada si Burung Elang.

“Apakah kamu tidak tahu?”, kata Ular kepada si Elang.
“Kami lapar”, ujar Ular-ular itu kepada si Elang.
“Tetapi, kamukan bisa cari makanan jenis lain, selain Kodok!”, kata si Elang kepada si Kodok.
“Tidak bisa...! Kodok memang makanan kami yang empuk dan gurih sejak nenek moyang kami”, jawab si Ular kepada si Elang.

“Jadi siapa sebenarnya yang salah?”, tanya si Elang pada si Ular.
“Entahlah....”, jawab si Ular singat.
Kemudian, ia kembali menemui si Burung Bangau. Si Burung Elangpun menceritakan semua permasalahannya dari awl hingga akhir.

“Lalu bagaimana jalan keluarnya?”, tanya Burung Bangau kepada si Burung Elang.
“Begini...”, kata Elang.
“Kamu suka makan ikan bukan?”, lanjutnya.
“Ya..., saya suka sekali”, jawab si Burung Bangau.
“Kalau demikian, sejak hari ini kamu dan teman-temanmu, tidak usah makan nasi lagi. Akan tetapi, makanlah ikan sebagai makanan pokok kalian”, kata si Burung Elang kepada si Bangau.

“Benarkah...?”, tanya si Bangau keheranan.
“Ya...”, jawab si Elang singkat.
“Baiklah, kami akan makan ikan sebagaimana apa katamu, Elang. Terima kasih atas bantuanmu, kini kami akan makan ikan sekenyang-kenyangnya, biar tubuh kami menjadi gemuk semuanya”, jawab si Burung Bangau kepada si Burung Elang.
Nah, pembaca yang budiman, itulah sebabnya atau asal-usulnya mengapa Burung Bangau memakan ikan. Sedangkan pada awalnya di zaman dahulu, Burung Bangau memakan nasi seperti layaknya manusia.    


 


Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker
thumbnail Title: ASAL-USUL BURUNG BANGAU MAKAN IKAN
Posted by:ANTS EDUCATION
Published :2013-05-12T15:48:00-07:00
Rating: 4.5
Reviewer: 7 Reviews
ASAL-USUL BURUNG BANGAU MAKAN IKAN
Agar Lebih Bermanfaat, Ayo Bagikan / Share artikel ini di Sosial Media anda.... :

Daftar Judul Yang Berkaitan Dengan Artikel di Atas...

Comments
0 Comments

Poskan Komentar

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Cakra Wawasan . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger