Diberdayakan oleh Blogger.

Reading Vaginal Wash For junior high and high school children
ilustration

Reading Vaginal Wash For junior high and high school children
 
The vagina is very sensitive to viruses, or acid substances. If exposed to the virus, the vagina will smell unpleasant, but this vagina has a distinctive odor (a special vaginal odor). I do not know what it smells, the important thing is different from the others. Which certainly makes our husband's nose more aroused when menciunya. Do not let him not touch what we have. Because this is his.

Then when we wash our vagina, what readings should we read in an Islamic way? Allah Subhanahu Wata'ala in Al-Quran Surah Al-Maa'idah verse 6, which means "O you who believe, if you want to do the prayer, then wash your face and your hand up to the elbow, and sweep your head and (wash) your feet up to your ankles, and if you junub then take a bath, and if you get sick [403] or on the way or back from the toilet (toilet) or touch [404] women, then you get no water, then bertayammumlah with soil good (clean); Wipe your face and hands with the ground. God does not want to trouble you, but He wants to cleanse you and perfect His favor for you, so that you may be grateful "(Surah Al Maa'idah: 6). Description: [403]. Meaning: pain that should not hit the water. [404]. Meaning: touch. According to the jumhur is: touch the middle part mufassirin is: fuck.

Regarding the above verse or argument that is the verse 6 of Al-Maa'idah, then let us wash if junub, or from toilet (defecation or small water), touching women, if for menstruation women his name. If menstruation women, also must bathe mandatory. If the man from the toilet is urinating, then wash the vagina by reading the prayer. while the prayer that is read is as follows: "Allahumma Tohir Qolbi, Minannifaqi Wahisin Farzi Minal Fawahis". If we do not fix the water to wash the vagina, then it should be washed with a tissue. The important thing was washed.


Malay Reading or Mantra Wash the Vagina
ilustration vagina

The reading is as follows:
"Ambit sage in pera-u, Sage tucked away luan, Sengaje I marsehkan kelaminku, From the unclean I spend". This means in the Indonesian language "Take the saga in the boat, Saga stored at the end of the bridge, I deliberately clean my dark, from the unclean I remove".
It is the first mantra or reading, while For the second spell it is as follows: "My aek kucci, the urn of the jar wearing tuala, sengaje me holy, semuanye karne Allah Ta'ala", meaning in Indonesian is as follows "Airku si holy water, take the urn with tuala (towel), deliberately I washed, all because of Allah Ta'ala ".

Once you know the mantra or reading to wash the vagina in Malay, you may practice this reading or it is not up to you. You may believe it's okay. Because it is just an old mantra, before the villagers know the name of school and religious science. Because before Islam entered Sambas in particular, Sambas residents or people are Hindus. So the spells are still there that preserve it and some are already throwing it with a new reading according to the Shari'a (fiqh). If reading according to the science of fiqh is as follows: "Allahumma Tohir Qolbi Minannifaqi Wahisin Farzi Minal Fawahis".

Another case with you reading the spell above, before reading your spell first read "bismillah" after that read "mantra" then end with reading shalawat Prophet, which read is as follows: "allahumma sholli ala saydina Muhammad, wa'ala ali saydina Muhammad ". Well, that's two reading or spell melayu vagina melay, the mantra is like pantun gan. But instead of like a regular pantun, the sacred mystical value is great in this mantra, as long as we believe and believe. If you do not believe it, go back to a real religion.



Medications or ingredients for treating gallstones are as follows:

1. 7 corncobs that still have no seeds.
2. 20 pieces of cat whiskers.
3. 3 cups of tea.
4. A little salt.

7 corncobs and 20 leaves of cat whiskers are chopped or boiled with three glasses of water with a little salt of iodized to boil. Keep the amount of boiling water into 1 cup. After being a glass, the water was removed. Do not forget to boil or chop the spices into a mug or pot made of clay or made from stanles. In order for the efficacy of the stew is good quality and good.

If everything is done, then the traditional medicine is ready to serve as a medicine to treat gallstones. These drugs can be given to the patient three times a day, provided that: morning-day-night with the size or measure of 1 cup of tea for adults.

I hope you get better soon. Amen. If ill continues, contact your local doctor.

Our duties only share knowledge with you, hopefully our article useful for us all.



Asal Usul Nama Kampung Buluh Enggadang: Sugianto, S.Pd.I
Menyungkur ikan di sungai

Asal Usul Nama Kampung Buluh Enggadang

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Buluh Enggadang merupakan salah satu dusun yang ada di Kecamatan Tebas. Sedangkan desanya adalah Desa Serumpun Buluh. Desa Serumpun Buluh mempunyai dua dusun, diantaranya Dusun Buluh Enggadang dan Dusun Buluh Parit. Kedua dusun tersebut dipisahkan oleh lahan pertanian yang menghijau dari timur ke barat. Kehidupan masyarakat dari kedua dusun tersebut adalah bertani dan berkebun.
Nama kampung Buluh Enggadang tidak asing lagi ditelinga masyarakat di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Akan tetapi tidak banyak dari masyarakat yang mengetahui asal usul nama kampung Buluh Enggadang tersebut. Bahkan masyarakat setempat pun belum tentu mengetahui bagaimana kisahnya bermula. Apalagi anak-anak generasi baru seperti sekarang ini.
Pada jaman dahulu, Buluh Enggadang ini masih belum mempunyai nama. Dusun ini sangat ditakuti oleh orang-orang yang sedang lewat. Karena dusun tersebut terkenal dengan keangkerannya. Dusun Buluh Enggadang ini sepertinya dihuni oleh berbagai makhluk astral (hantu). Mahkluk astral tersebut banyak sekali, seperti kuntilanak, pocong, hantu kambek, hantu jiradak, timaloi, dan banyak lagi hantu yang lainnya.
Meskipun dusun tersebut banyak hantunya, akan tetapi ikan-ikan di sungai tersebut sangat banyak. Orang-orang dari mana pun suka mencari ikan di dusun tersebut. Ikan-ikan tersebut sepertinya tidak mau pindah dari sungai dusun itu. Ikan-ikan yang diambil oleh orang ialah ikan gabus, ikan betok, ikan seluang, ikan senyaringan, ikansampul layang, dan ikan yang lainnya.
Sahdan kisahnya bermula, tersebutlah seorang kakek suka sekali mencari ikan di muara kampung tersebut. Sahdan kakek itu bernama “Latip”, atau pun “Long Latip” nama panggilannya. Meskipun kakek tersebut sudah cukup tua, akan tetapi tubuhnya masih terlihat kekar. Mungkin dimasa mudanya kakek tersebut suka sekali berolahraga, seperti silat. Ia mencari ikan ditemani oleh istrinya yang bernama Linah, atau “Nek Linnah” nama pangilannya.  
Nek Linnah dan suaminya tinggal di hilir yang lumayan jauh dari dusun tersebut. Mereka tinggal hanya berdua dengan kehidupan yang sangat sederhana sekali. Untuk kelangsungan hidup mereka sehari-hari, mereka hanya mencari ikan di Sungai Sebangkau. Karena di Sungai Sebangkau banyak sekali ikannya. Khususnya mereka mencari ikan di muara dusun tersebut (muara Buluh Enggadang sekarang).
Pagi itu di rumah Long Latip, ia sedang membuat alat untuk menangkap ikan. Alat itu bernama “langgai”. Langgai adalah alat untuk menangkap ikan secara tradisional yang terbuat dari kain kasa dan dua batang bambu. Langgai atau melanggian di pasang di tengah muara sungai ketika air sungai surut atau pun saat pasang. Istri Long Latip, Nek Linnah terkadang pun ikut membantu suaminya untuk menjahit kain kasa tersebut. Kain kasa yang digunakan kurang lebih panjangnya 5-10 meter.
Selain langgai atau alat melanggian, Long Latip juga mempunyai alat untuk menagkap ikan lainnya, seperti alat sero, ancau, bubu, rawai, jala, alat untuk nogok, dan lain-lainnya. Begitulah keseharian mereka jika mereka tidak turun ke sungai untuk mencari ikan. Terkadang mereka juga pergi ke sawah atau pun keladang. Meskipun mereka tidak banyak mempunyai lahan pertanian. Lahan yang mereka kelola hanyalah dua borongan saja (3.600m²).
Setelah perlengkapan untuk menangkap ikan selesai, Long Latip mencari umpan di hutan sagu di seberang sungai. Umpan yang dicari adalah ulat sagu dan urai-urai. Urai-urai adalah hewan yang menyerupai cacing dengan kulitnya yang agak kasar dan lebih besar serta panjang dari cacing. Sedangkan saat itu istrinya sedang memasak di dapur.    
“Bu, aku pergi dulu ya ke hutan. Aku ingin mencari ulat sagu buat umpan mencari ikan tilan. Jika musim hujan seperti ini, ikan tilan pasti banyak mencari makan”, ucap Long Latip kepada istrinya.
“Iya Long... tapi jangan lama-lama, Long. Karena cuaca kurang bagus ni, sepertinya akan turun hujan”, jawab istrinya berpesan kepada Long Latip.
“Iya, Bu”, jawab suaminya sambil melangkah menuju halaman rumah.
Kemudian Long Latip pun menuju sampannya yang tertambat di limbungan. Limbungan adalah tempat menyimpan sampan yang dibuat di tepi sungai agar sampan terlindung dari panas dan hujan. Long Latip mendayung sampannya menuju seberang sungai untuk mencari ulat sagu atau pun urai-urai. Karena ulat sagu dan urai-urai sangat disukai oleh ikan tilan. Tidak lama kemudian Long Latip pun sampai diseberang sungai. Kemudian ia mencari-cari sagu yang sudah busuk. Pada batang sagu yang sudah busuk pastinya banyak ulatnya.
“Nah, ini dia batang sagu yang aku cari, pasti ulatnya banyak sekali”, ucap Long Latip ketika menemukan batang sagu yang sudah busuk.   
Kemudian Long Latip pun mengambil ulat sagu tersebut satu-persatu. Ulat sagu itu ditaruh ke dalam tempat yangsudah disiapkan oleh Long Latip dari rumah.
“Banyak sekali ulatnya, ini bisa digunakan dalam tiga hari. Lepas memasang tajur nanti aku akan mencari ikan ke muara disebelah hulu. Pasti ikan-ikannya juga banyak ni”, ucap Long Latip kegirangan. Ia mengatur rencananya untuk mencari ikan agar bisa dijual kepada tetangga.
Kini ulat sagu sudah habis diambil oleh Long Latip. Kemudian ia pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia mengajak istrinya ke sungai untuk mencari ikan.
“Bu, apakah semuanya sudah siap?”, tanya Long Latip kepada istrinya.
“Sudah, Long... tapi tunggu sebentar Long. Aku menyiapkan bekal dulu buat kita makan atau pun minum nanti di sana”, ucap istrinya sambil menyiapkan bekalan.
“Oo... Iya, Bu”, jawab suaminya.
“Jangan lupa air kopi yang banyak ya”, tambahnya pula.
“Beressss Long...:, jawab istrinya sambil menyiapkan makanan atau bekal buat nanti.
Setelah semuanya beres, mereka pun menuju limbungan sampan.
“Ayo Long, sekarang semuanya sudah siap ni. Sebentar lagi air akan surut, kita harus menuju muara disebelah hulu”, kata istrinya kepada Long Latip. Nek Linnah memanggil suaminya dengan sebutan “Long”. Long atau Allong dalam bahasa daerah Sambas adalah sebutan atau panggilan (base) anak paling tua atau anak nomor satu baik laki-laki ataupun perempuan.     
“Iya, Bu... Pasti di sana banyak ikannya, Bu. Kita harus cepat, Bu. Sebelum orang-orang mendahului kita untuk memasang langgian kita ini”, ucap Long Latip.
“Iya, Long”, jawab istrinya sambil mendayung sampannya dengan kencang.
Sampan dikayuh dengan laju sekali mengikuti arus sungai yang berliku-liku. Suara nyanyian burung mengiringi laju sampan mereka. terkadang beberapa orang yang lewat menyapa Long Latip dan istrinya.
“Ooo Pak Long, ke mana hari ni mencari ikannya?”, tanya orang tersebut.
“Nunnn kami ke arah hulu”, jawabnya sambil melaju.
“Jauhnya, Pak Long”, jawab orang tersebut. Akan tetapi sapaan orang tersebut sudah tidak dihiraukan lagi oleh Long Latip dan istrinya. Mereka terus mendayung sampannya agar cepat sampai ke tempat yang mereka tuju. Tidak lama kemudian, sampailah mereka dimuara yang banyak ikannya itu. Kemudian Long Latip memasang langgiannya dengan dibantu oleh istrinya yang tercinta. Melanggian adalah menangkap ikan dengan cara menghadang sungai dengan galah atau buluh yang dilengkapi dengan kain kasa seperti pasung (kerucut) sepanjang lima atau pun sepuluh meter.
Sekitar 10-15 menit langgian itu dihunjamkan ke dasar sungai menghadang ikan-ikan agar masuk ke dalam alat tersebut. Langgian itu pun diangkat dengan perlahan-lahan oleh Long Latip. Banyak sekali ikan yang masuk ke dalam langgian mereka. Hasil ikan yang didapat oleh Long Latip bermacam-macam, ada anak tapah, ikan betutu, betok, ikan ruan (gabus), seluang, kaloi (gurami), dan banyak lagi ikan yang lainnya. Biasanya ikan yang mereka dapatkan dalam satu kali pergi melanggian itu sekitar 10-20 kg. Ikan-ikan tersebut kemudian mereka jual kepada tetangga atau pun orang-orang dikampung sebelah.
Selain melanggian, Pak Long Latip merawai ikan subbong, masang togok, atau pun ngancau nyarok (udang kecil). Ngancau adalah mengambil anak udang dengan menggunakan kain karung goni yang dibuat seperti limas. Selain itu pula kegiatan Long Latip dan istrinya adalah masang pukkat (jaring ikan), atau pun menjala ikan serta nyacak atau pun najor mencari ikan tillan waktu air mau pasang disekitar batang nipah.          
“Sepertinya ikan yang kita dapat sudah banyak, Bu. Anak ikan tapah pun ada juga ni kita dapat. Ada lima ekor ni, Bu”, kata Long Latip kepada istrinya.
“Wah, sip lah tu, Long. Mak Su pasti mau membelinya nanti, tu. Jika begitu kita istirahat dulu lah Long. Ibu pun rasanya sudah lapar ni. Hari pun sudah siang. Kita angkat dulu melanggian kita ini, Long”, jawab istrinya.
“Baiklah, Bu. Bapak pun juga sudah lapar, ni”, jawab suaminya sambil mengangkat melanggian mereka ke dalam sampan.
“Alhamdulillah, Bu... lumayan ikan yang kita dapatkan hari ini. Cukuplah untuk kita tukarkan dengan beras kepada tetangga atau kita jual kepada Mak Su”, kata Long Latip kepada istrinya.
“Iya, Long... Alhamdulillah, Allah maha kuasa selalu melimpahkan rezeki kepada hamba-hambaNya yang berusaha”, tambah istrinya.  
“Kita makan dulu, Long”, ucap istrinya sambil memberikan nasi kepada suaminya.
“Iya Bu”, jawab suaminya sambil mengambil nasi dari tangan istrinya.
Mereka pun makan dengan lahap sekali. Sambal belacan (terasi) tidak luput dari incaran Long Latip dan istrinya. Jika tanpa sambal terasi rasanya makan tidak sah atau pun nasi terasa hambar. Menu siang yang telah disiapkan oleh Nek Linnah adalah sayur oseng kacang panjang, pindang ikan gabus dan anak tapah, serta sambal terasi serta ulam petai. Enak sekali mereka makan siang itu, maklum ikan yang mereka dapatkan juga sudah banyak.
“Setelah makan, apakah kita langsung pulang atau masang tajur, Long?”, tanya istrinya sambil membetulkan dudukya. Mungkin kaki Nek Linnah lagi kesemutan.
“Kita masang tajur, ya. Soalnya kan ulat sagu sudah bapak ambil. Jika tidak diumpankan, nanti ulatnya bisa mati atau pun menjadi impidang”, jawab suaminya sambil melahap ikan tapah tersebut.
“Ohh... Iya lah, Long... Mungkin kita akan mendapatkan 2,3 ekor ikan tillan, atau pun 2,3 kilo ikan gurami”, jawab istrinya sambil menghabiskan nasi dipinggannya.
“Insya Allah, Bu”, jawab suaminya.      
“Bu, tolong tuangkan air kopi ke dalam gelas”, pinta Long Latip kepada istrinya. Dengan cekatan Nek Linnah menuangkan air kopi kesukaan suaminya. Air kopi pun segera diberikan Nek Linnah kepada suaminya. Kemudian Long Latip menghirup air kopi buatan istri kesayangannya.
“Enak sekali air kopi buatanmu, Bu. Kalah enak air kopi buatan si Amoy di pasar Semparuk, Bu. Bagus ibu bikin warung kopi saja, pasti laris”, goda Long Latip kepada istrinya. 
“Bapak bisa saja. Jika ibu jualan kopi, siapa yang akan membantu bapak mencari ikan”, jawab istrinya.
“Oo.. Iya ya... Bapak lupa, Bu”, jawab suaminya.
“Bapak hanya gurau, Bu”, tambahnya.
“Sudahlah Long, sekarang kita kemaskan semuanya barang-barang kita ni. Kita lanjutkan dengan tugas kita berikutnya, yaitu mencari ikan tillan atau pun ikan gurami”, ajak Nek Linnah kepada suaminya.
“Oke, Bu. Segera dilakukan”, jawab suaminya sambil mengemaskan langgian dan ikan-ikan hasil tangkapan mereka. 
“Esok-esok kita ke sini lagi, Long”, jawab istrinya.
“Insya Allah, Bu. Jika tempat ini tidak didahului oleh orang lain”, jawab suaminya.
“Jika tempat ini didahului oleh orang, maka kita ngilir, Bu. Di hilir juga terdapat muara yang banyak ikannya seperti muara sungai ini. Di sebelah barat sana, Bu”, kata Long Latip kepada istrinya.
“Muara apa namanya, Long?”, tanya istrinya mau tahu.
“Banyak orang bilang, sebagaimana yang bapak dengar, orang menyebut muara itu dengan nama “Muara Senganda”, jawab suaminya.
“Tapi, di Muara Senganda itu sepi, Bu. Banyak hantunya. Ya sama seperti muara ini. Entah apa nama muara ini, ya Bu?”, kata suaminya.
“Entahlah, Long... Apa nama muara ini kita juga tidak tahu”, jawab istrinya.    
“Iyalah, Bu”, jawab suaminya.
“Mungkin kitalah yang pertama sekali mencari ikan dimuara ini. Karena sejak dari dulu orang-orang masih belum ada yang mencari ikan dimuara ini. Mungkin mereka takut akan keangkeran kampung ini”, tambah suaminya.
“Iya lah Long. Pastinya kita lah yang pertama sekali menemukan muara yang banyak ikannya”, jawab istrinya.
“Sekarang semuanya sudah beres, Bu. Ayo kita ke hilir, kita cari tempat yang bagus untuk memasang tajur”, ajak suaminya sambil mendayung sampan ke hilir.  
Kemudian mereka pun menuju hilir untuk memasang tajur. Dalam perjalanan mereka ke hilir, mereka berjumpa dengan beberapa orang yang juga sedang mencari ikan. Mereka sudah saling mengenal, karena keseharian mereka bekerja di sungai mencari ikan. Sebut saja nama mereka Parri, Ammun, dan Masri. Mereka bertiga dari kampung yang berbeda dan teman dari Long Latip. 
“Mau ke mana, Long. Sepertinya terburu-buru?”, tanya salah satu temannya “Ammun” namanya.
“Mau memasang tajur, Mun”, jawab Long Latip.
“Bagaimana hasil tangkapan hari ini, Long. Banyak?”, tanya Pak Parri.
“Adalah sedikit, cukuplah buat masak dan dijual kepada tetangga”, jawab istri Long Latip.
“Coba lihat, Long”, kata Pak Masri ingin melihat hasil tangkapan Long Latip melanggian di muara tersebut.
Kemudian Nek Linnah pun melihatkan hasil tangkapannya kepada Pak Masri dan teman-temannya. Mereka keheranan meihat hasil tangkapan Long Latip dan istrinya.
“Wowwww... banyak sekali Long, ikan yang didapat”, kata Pak Masri sambil memegang ikan tersebut.
“Iya ya... ada udang, ada anak ikan tapah, ada gabus, dan macam-macam ikannya”, kata Pak Ammun sambil menoleh Long Latip.
“Di mana Pak Long memasang langgiannya?”,tanya Pak Masri pula.
“Itu, di muara yang angker!”, jawab Nek Linnah.
“Ohhhh...”, jawab Pak Masri.
“Pantesan, ternyata ditempat itu”, ucap Pak Ammun pula.
“Sesekali kita juga bisa ngadang (melanggian) ditempat itu. Bolehkan, Long kami ngadang (memasang langgian) di tempat itu. 
“Boleh-boleh saja. Apa salahnya, tempat itu bukan punya kami. Mungkin kami lah yang suka nogok di tempat itu. Tapi, tempat itu bukan punya kami. Lagi pula, kami pun tidak tahu tempat itu punya siapa dan orang mana”, jawab Long Latip.
“Iya lah, Long. Bukan apa, Long. Karena kami lihat Pak Long suka sekali nogok di tempat itu.jika nanti kami ngadang di sana, takutnya nanti Along marah atau pun apa”, kata Pak Masri kepada Long Latip.
“Tidak... tidak, Masri. Biasa-biasa saja lah. Karena rezeki sudah ada yang ngatur. Kita manusia hanya bisa berusaha dan berencana. Tuhan juga yang megatur dan mengabulkannya”, kata Long Latip menjelaskan.
“Tidak apa-apa, Masri, Parri, Ammun. Jika kalian ingin ngadang, melanggian, najor, di tempat itu. Tidak apa-apa. Kami tidak marah atau pun berkecil hati kepada kalian”, kata Nek Linnah menimpali.
“Dan, jika ada orang lain yang ingin ngadang atau pun melanggian di tempat itu, kita pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena muara itu tempat umum”, tambah Nek Linnah.
“Iya lah Long, jika demikian adanya”, ucap Pak Parri.
“Jika begitu, kami jalan dulu, Long. Kami igin memancing udang ke hulu sebentar”, kata Pak Masri.
“Semoga Pak Long dan Mak Long, hasil tangkapannya makin banyak”, ucap Pak Ammun sambil mengayuh sampannya meninggalkan sampan Long Latip dan istrinya.
Teman dari Long Latip semakin jauh meninggalkan mereka. Mereka bertiga akan memancing udang ke arah timur. Di hulu banyak orang memancing udang. Mungkin di hulu udangnya besar-besar. Sedangkan Long Latip dan istrinya asik dengar pekerjaanya yaitu memasang tajur ikan tillan dan ikan gurami. Ikan tillan dan ikan gurami sangat disukai oleh orang-orang. Rasa dagin dari ikan tillan dan gurami ini sangat gurih dan manis.
Dalam perjalanannya ke hulu, Pak Masri dan Pak Parri serta Pak Ammun berjumpa dengan teman-temannya yang lain. Sambil berkayuh perlahan, mereka menceritakan hasil tangkapan ikan Long Latip dan istrinya yang banyak. Teman-teman mereka jadi penasaran, mereka juga ingin mencoba untuk mencari ikan di muara tersebut.
“Eh tau tidak, tadi kami kan berjumpa dengan Long Latip. Ia habis pulang dari ngadang ikan di muara sungai yang angker itu. Banyak sekali ia mendapatkan ikan. Ada ikan tapah, ikan gabus,ikan gurami. Dan, bahkan udang juga ada”, kata Pak Ammun memulai ceritanya.
“Yang benar kamu, Mun”, tanya salah satu temannya. Sebut saja namanya Amir (Pak Amir).
“Ya benar, Mir. Dia tidak bohong. Banyak sekali Long Latip dapat ikan. Aku juga tertarik ingin ngadang ikan di tempat itu. Kali-kali saja aku juga akan dapat banyak ikan seperti Pak Long Latip”, kata Pak Parri.
“Iya kan, Mun”, tambah Pak Parri kepada Pak Ammun.
“Iya...!”, jawab Pak Ammun singkat.
“Kamu sama aku saja, Parri”, ajak Pak Masri menawarkan diri untuk melanggian di muara sungai tersebut.
“Aku juga tertarik ingin melanggian di muara itu. Aku juga sudah membuat langgian kemarin”, kata salah satu temannya, yaitu Pak Yani. 
“Bagus sekali itu, Pak Su Yani. Aku dan istriku juga sudah membuat langgian semalam. Akan tetapi, belum jadi, Pak Su”, kata salah satu teman mereka, yaitu Pak Tamren memanggil Pak Yani. Su atau Pak Su adalah base atau gelaran panggilan dalam bahasa daerah Sambas.
“Nanti, kapan-kapan kita coba bergantian ngadang di muara tersebut. Mungkin hasil tangkapan kita juga lebih banyak dari Long Latip”, kata Pak Yani.
“Aku rasa sudah terlalu jauh kita ke hulu”, ucap Pak Masri sambil menghentikan sampannya.
“Iya ya... kita memancing udang disini saja, Su”, ucap Pak Tamren kepada Pak Su Yani.
“Iya lah... kita memancing disini saja”, tambah Pak Parri sambil mencari tempat yang cocok untuk memancing udang.
Kini mereka sudah mendapatkan tempat yang cocok untuk memancing udang. Udang di hulu Sungai Sebangkau memang banyak dan besar-besar. Orang-orang kampung biasanya suka memancing udang ke hulu sungai. Umpan yang mereka gunakan adalah cacing nipah. Cacing nipah dalam bahasa daerah sambas disebut dengan “kapang”. Sedangkan cacing nipah atau kapang dalam bahasa Indonesia disebut dengan cacing paleleo. Cacing nipah ini sangat panjang bisa mecapai 1-1,5 meter.
Cacing nipah ini sangat disukai oleh udang. Jika kita menggunakan umpan cacing nipah, maka kita akan mendapatkan udang lumayan banyak. Selain cacing nipah yang bisa digunakan sebagai umpan untuk memancing udang. Anak udang yang masih kecil pun bisa dijadikan sebagai umpan. Anak udang yang masih kecil itu dalam bahasa Sambas disebut nyarok. Selain nyarok, cacing tanah juga bisa digunakan untuk umpan memancing udang. Akan tetapi, jika kita sudah menggunakan cacing nipah sebagai umpan. Maka, selera makan udang dengan cacing tanah akan berkurang. Ternyata udang juga punya selera makan yang luar biasa.     
Banyak sekali mereka mendapatkan udang. Baik udang yang masih kecil atau pun udang yang masih besar. Jika udang yang sudah besar atau udang A, disebut dengan udang Ranggah. Harga udang sangat mahal, makanya banyak orang-orang yang mencari udang dengan cara yang dilarang oleh pemerintah. Banyak dari mereka menggnakan obat atau pun racun (tuba).
“Wah, banyak sekali udang yang kau dapat?”, kata Pak Parri kepada Ammun.
“Kamu juga banyak mendapat udang yang besar”, jawab Pak Parri.
“Kawan-kawan, yok kita pulang. Hari sudah sore ni, mari kita jual udang kita ke Tauke Pak Basri”, ajak Pak Yani kepada teman-temannya.
“tunggulah sebentar. Aku membereskan pancingan ku dulu ni”, kata Pak Tamren minta tunggu kepada teman-temannya.
“Cepat sedikitlah kamu menggulung tali pancinganmu, Tamren”, kata Pak Ammun.
“Iya, nanti keburu sore”, tambah Pak Yani.
“Sip lah, semuanya sudah beres ni”, jawab Pak Tamren.
“Jadi, kapan kita ngadang di muara itu?”, tambahnya pula.
“Lain kalilah Tamren”, jawab Pak Masri sambil mengayuh sampannya menjauhi teman-temannya.
Kini mereka menuju ke rumah tauke yang membeli udang. Biasanya tauke yang membeli ikan itu adalah orang tionghoa. Akan tetapi tauke yang membeli udang mereka adalah orang melayu. Biasanya tauke tersebut menjual ikan yang dikumpulnya dari nelayan lokal dijualnya ke Selakau atau ke Singkawang. Begitu juga dengan Long Latip, biasanya ia juga menjual hasil tangkapannya ke tauke tersebut selain dijual pada tetangganya.
“Bu, sekarang sudah sore ni. Kita pulang, yok!”, ajak Long Latip kepada istrinya Nek Linnah.
“Iya lah Long. Ikan yang kita dapatkan pun sudah banyak ni”, jawab istrinya.
“Nanti kita berhenti dulu ke rumah Mak Su ya... Bapak mau menjual ikan ini kepada Mak Su”, ucap Long Latip.
“Iya lah Long. Ada juga kan kita belanja nanti di toko”, ucap istrinya.
“Ada juga buat kita beli garam dan kopi serta yang lainnya”, tambahnya pula.
“Iyalah”, jawab suaminya singkat sambil mengambil pengayuh (dayung sampan).
Kemudian mereka pun membereskan segala perlengkapan memancingnya. Baik umpan atau pun tajur yang mereka bawa. Setelah semuanya beres, sampan pun dikayuh oleh Long Latip menuju ke rumahnya. Namun sebelumnya mereka mampir di rumah salah satu warga yang mereka sebut dengan “Mak Su”. Mak Su lah yang membeli ikan tillan serta ikan gurami hasil tangkapannya. Sedangkan ikan udang dijual kepada tauke yang membeli udang. Ikan senyaringan atau pun ikan batok dijualnya kepada tetangga.  
Tidak lama kemudian mereka pun sampai ke rumahnya. Nek Linnah menuju dapur untuk menyimpan belanjaannya. Kemudian Nek Linnah dan suaminya membersihkan tubuh mereka di sungai depan rumahnya. Karena seharian mereka di laut mencari ikan tubuh mereka terasa panas dan harus disegarkan. Setelah mandi dan sholat, Nek Linnah segera ke dapur untuk memasak. Sedangan suaminya duduk santai di ruang tengah sambil ngopi. Long Latip lagi menghayal tentang ikan-ikan yang akan masuk ke dalam langgiannya esok hari.
“Esok di mana lagi aku dan istriku akan mencari ikan? Dan di muara mana lagi yang banyak ikannya? Setahu aku, cuma di muara itu yang paling banyak ikannya. Tapi mengapa ya, di muara itu banyak sekali ikannya? Apakah di muara itu adalah sebuah lubuk? Mungkin di muara itu terdapat lubuk buaya. Konon kata orang tua-tua, jika banyak udang dan ikan ditempat tersebut, pasti ada lubuknya. Paling tidak, lubuk buaya. Pasti lubuk buaya ada di tempat itu”, ucap hati kecil Long Latip sambil mereguk air kopi yang disajikan oleh istrinya.     
“Jika benar itu adalah lubuk buaya. Mengapa aku dan istriku selama ini tidak pernah diganggu oleh penghuninya? Mungkin, buaya itu kasihan kepadaku. Atau mungkin, ia memang sengaja memberi aku rezeki. Ahh.. mana mungkin, buaya kok gitu”,ucap hati Long Latip. Long latip merenung sesaat, seolah-olah ia lagi membayangkan lokasi di muara tersebut.
“Aku baru ingat sekarang. Disekitar muara itu terdapat pohon dungun, mungkin disitulah lubuknya. Tidak jauh dari pohon dungun itu, di bawahnya pasti. Ya... ya... ya... sudah terjawab sekarang. Disitu terdapat lubuk yang banyak ikannya. Mungkin itu lubuk buaya”, tambahnya pula sambil menghirup air kopi.
“Ada apa Long, sepertinya memikirkan sesuatu yang amat penting?”, ucap istrinya memecah lamunan Long Latip. 
“Ahh ibu, buat aku jadi terperanjat!”, jawabnya.
“Apakah makanan kita sudah siap, Bu. Aku sudah lapar sekali ni, Bu”, tambahnya pula mengalihkan pertanyaan istrinya.
“Bapak... Aku bertanya lain, dijawabnya lain”, rajuk istrinya.
“Tidak apa-apa kok, Bu. Hanya memikirkan esok kita ke mana?”, jawabnya.
“Ohhh... gitu ya”, jawab istrinya sambil menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Long, nasinya sudah siap ni... Ayo kita makan”, ajak istrinya.
Kini nasi beserta lauk-pauknya serta sayurnya sudah tersaji dengan rapi. Tidak ketinggalan sambal terasi kegemaran Long Latip turut disajikan istrinya. Air putih pun sudah disiapkan oleh Nek Linnah agar suaminya tidak kejangngallan makannya. Biasanya Long Latip suka kejangngallan saat makan. Kejangngallan dalam bahasa daerah Sambas adalah makanan atau minuman yang terhalang dikerongkongan.
“Enak sekali makananmu, Bu. Seperti rasa masakan di restoran, Bu”, ucap Long Latip memecah keheningan di rumahnya.
“Ada-ada saja, Long”, jawab istrinya sambil tersenyum.
“Iya, benar kok”, jawab suaminya.
“Sudah lah, Long. Sekarang makan saja nasinya. Nanti keburu dingin, jadi tidak enak. Kita harus segera istirahat. Esok kita mau bekerja lagi”, ucap istrinya sambil mengambil ikan buat disantap.
“Baik, Bu”, jawab Long Latip singkat.
Mereka pun makan dengan lahap sekali. Karena mereka bekerja seharian penuh membuat mereka sangat lapar. Seekor demi seekor, ikan dilahap oleh Long Latip dan istrinya. Sayur yang tersaji pun ludes dimakan oleh Long Latip. Suap demi suap Nek Linnah memakan nasi dipiringnya dengan penuh nikmat. Seakan-akan mereka makan di hotel berbintang lima.
Kini selesai sudah mereka makan. Setelah itu mereka berdua bersembang-sembang di ruang tengah. Long Latip dan istrinya membicarakan masalah ikan dan langgian. Kapan lagi mereka akan ngadang ikan di muara tersebut. Sudah lama rasanya mereka bersembang, kini mata keduanya sudah lima wath. Mata Nek Linnah serasa beraattttt sekali. Susah rasanya mau dibuka, begitu juga dengan mata Long Latip.
“Long, aku sudah ngantuk ni. Kita tidur yok!”, ajak istrinya sambil bangun dari duduknya.
“Ayolah, Bu. Aku juga sudah mengantuk ni... Mataku beraatttt sekali. Susah rasanya mau dibuka”, jawab suaminya sambil bangun pula.
Mereka pun menuju kamar. Sesampainya di kamar, mereka pun merebahkan tubuhnya pada kasur yang amat empuk. Kasur tradisional dengan kabu-kabu bunga ilalang. Hanya sesaat mata mereka lena ketika kepala mereka menyentuh bantal. Setelah itu, mereka pun tertidur dengan pulasnya. Hembusan angin malam membuat bulu roma jadi merinding. Begitu juga dengan tubuh Long Latip dan istrinya. Suara jangkrik yang bersahut-sahutan mengiringi mimpi Long Latip dan Nek Linnah. Ditambah lagi dengan nyanyian si burung hantu. Malam semakin mencekam, Nek Linnah dan Long Latip semakin larut dalam mimpinya.
Keesokan paginya seperti biasa Long Latip menyiapkan peralatan untuk pergi ke sungai. Barang-barang yang disiapkan seperti; langgian, pukkat (jaring), ancau, tajor, jale (jala), semuanya sudah disiapkan. Bahkan, “Mata Pancing Mania Mantap” pun sudah disiapkan oleh Long Latip. Sedangkan Nek Linnah menyiapkan perlengkapan bekal makan siang. Bekal makan siang  seperti;  nasi, sayur, ikan pindang, atau ikan goreng, serta sambal terasi jeruk kecil. Siang nanti mereka akan makan besar.
Setelah semuanya beres, baik Long Latip maupun Nek Linnah dalam mengurusi perlengkapan mereka masing-masing. Mereka pun menuju sampan di mana sampan itu ditambatkan. Setelah semuanya siap, Long Latip pun mendayung sampannya menuju sungai besar. Sungai besar tersebut bernama Sungai Sebangkau. Disebut Sungai Sebangkau, karena muara sungai tersebut bermuara di Desa Sebangkau Kecamatan Pemangkat.
Setelah berada di sungai, Long Latip menuju muara tersebut. Akan tetapi, ternyata Long Latip dan istrinya lambat satu dayung. Mereka kalah cepat dalam hal mendayung. Karena di muara tersebut sudah ada orang yang ngadang. Orang tersebut bukan teman-temannya Long Latip. Orang tersebut merupakan dari kampung lain yang juga mengetahui bahwa di muara tersebut banyak ikannya. Kemudian Long Latip pergi ke hilir. Ia menuju muara Sungai Senganda yang juga tidak kalah angker dan ikannnya juga banyak.
Long Latip dan istrinya memeriksa tajur yang kemarin mereka pasang. Satu persatu tajur diambil oleh Long Latip. Banyak sekali mereka mendapatkan ikan. Setelah mereka mencari tajur, mereka memasang jaring disekitar muara tersebut. Ketika mereka asik memasang jaring, mereka ditemui oleh satu keluarga dalam satu sampan. Sepertinya satu keluarga itu datang dari jauh, karena banyak sekali bekal yang mereka bawa.
“Assalamualaikum, Pak”, kata orang tersebut mengucapkan salam kepada Long Latip dan istrinya.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarkatuh”, jawab Long Latip bersama istrinya.
 “ada yang bisa dibantu, Pak?”, tanya Long Latip lagi.
“Maaf, Pak. Saya mengganggu sebentar. Perkenalkan nama saya Kader, dan istri saya bernama Halimah. Serta anak sulung kami namanya Dare. Kami datang dari jauh, Pak. Dari Ngadang, Ngadang Laut. Kami ingin membuka lahan untuk berladang atau pun bertani ke arah hulu. Mungkin disekitar sini ada hutan atau lahan yang masih bisa untuk dibuka dan digarap, Pak”, ucap orang tersebut kepada Long Latip.
Ternyata orang tersebut seorang musafir yang berasal dari Desa Ngadang Laut. Ia mempunyai hajat untuk membuka lahan atau hutan untuk berladang maupun bertani. Orang itu bernama Kader, dan istrinya bernama Halimah, sedangkan anak sulungnya bernama Dare. Dare merupakan seorang gadis yang amat cantik dan rajin. Sebenarnya si Dare sudah layak untuk diberi seorang suami. Saat ini Dare masih menunggu pacarnya untuk datang melamar. 
“Ooo begitu ya, Pak. Jika begitu bagus sekali. Kami ada tempat yang sesuai untuk bapak garap bersama keluarga. Itu... itu di sana!”, ucap Long Latip sambil menunjukkan lokasi muara tersebut ke arah timur.
“Yang mana, Pak? Kok tidak kelihatan?!”, tanya Pak Kader.
“Tidak apa, Pak. Nanti akan saya antar bapak ke sana. Setelah saya membereskan ikan-ikan saya ini. Bapak akan kami antar ke lokasi tersebut”, ucap Long Latip sambil membereskan ikan dan jaring serta tajur-tajurnya.
“Iya, Pak... Tanahnya subur dan ikan disungainya juga banyak, Pak”, tambah istrinya.
Saat itu Nek Linnah sedang memasukkan ikan ke dalam koncong ikan. Banyak sekali ikan yang didapat oleh Long Latip dan istrinya.
“Ooo begitu, ya”, jawab Pak Kader.
“ayo, Pak. Saya antar ke sana”, ajak Long Latip mulai mendayung sampannya ke muara tersebut.
“Mari, Pak”, jawab Pak Kader sambil mengikuti sampan Long Latip.
“Tapi, ngomong-ngomong nama bapak ini, siapa? Dari tadi kita bicara bapak belum meperkenalkan diri kepada kami”, kata Pak Kader kepada Long Latip.
“O iya... Saya lupa. Maaf Pak Kader. Maklum sudah tua. Jadi pelupa”, jawab Long Latip.
“Nama saya, Latip. Tapi, orang-orang kampung memanggil saya “Long Latip”. Sedangkan istri saya bernama Linnah. Biasanya ia dipanggil Long Linnah atau Nek Linnah. Kami hanya suami istri, hingga saat ini kami masih belum dikarunia anak oleh Yang Maha Kuasa”, tambahnya.
Base Pak Kader ni apa, ya?”, tanya Long Latip.
Base adalah gelar atau panggilan dalam bahasa daerah Kabupaten Sambas (atau Singbebas = Singkawang, Bengkayang, dan Sambas).
“Ohhh, gelar saya ke “anggah”, sedangkan istri saya “ussu”. Tapi biasanya istri saya pun dipanggil “anggah” oleh orang-orang di kampung kami”, jawab Pak Kader kepada Long Latip.
“Oh begitu. Jika demikian, saya akan memanggil Pak Kader dengan base “Bang Ngah” saja, biar lebih akrab seperti keluarga. Dan “Bang Ngah” memanggil saya dengan “Bang Long atau Allong”, kata Long Latip kepada Pak Kader.  
“Cocok itu, Long”, jawab Pak Kader.
“Cocok tu, Pak”, tambah anak dan istri Pak Kader.
Pak Kader dan Long Latip mendayung sampan sambil ngobrol. Begitu juga dengan istri mereka. Entah apa yang mereka bicarakan. Terkadang si Dare menimpali pembicaraan ibunya dan Nek Linnah. Kini mereka semakin saroh (akrab). Sudah sekian jauh mereka mendayung sampan, tibalah mereka pada tempat yang dituju. Saat itu, terlihat ada orang yang sedang ngadang ikan di muara sungai tersebut.
Long Latip dan Pak Kader permisi kepada orang tersebut karena mereka ingin lewat. Setelah mereka lewat, mereka pun menuju ke dalam sungai kecil mencari tempat yang cocok untuk membuka lahan. Setelah mendapatkan tanah yang cocok untuk membuka lahan. Maka Long Latip dan Pak Kader menambatkan sampannya dipohon singkel.
Kurang lebih satu kilo-an mereka masuknya ke dalam sungai tersebut baru mereka mendapatkan tanah yang bagus. Karena di muara tersebut banyak pohon sagu yang tumbuh. Setelah pohon sagu mereka lewati baru lah tanahnya subur.
“Nah, sekarang mungkin disini kita bisa membuka lahan. Tanahnya pun sepertinya subur. Sekarang saya akan mendirikan pondok disini Long!”, kata Pak Kasem kepada Long Latip.
“Iya, aku dan istriku akan membantumu membuat pondok Ngah”, kata Long Latip.
“Bagaimana, Bu”, tambahnya pula kepada Nek Linnah. 
“Iya, Pak. Kita akan membantu saudara baru kita ini!”, jawab istrinya.
. “Terima kasih lah, Pak Long dan Mak Long sudi membantu kami yang datang dari jauh. Kami tidak bisa membalas budi baik dari Pak Long dan Mak Long. Hanya Tuhanlah yang dapat membalas semuanya”, ucap si Dare kepada Long Latip dan istrinya.
 “Tidak apa-apa, Dare. Dengan membantu kalian, kami berdua sangat senang. Serasa kami mendapatkan keluarga baru. Jadi kami sekarang mempunyai teman. Nanti kan kita bisa bersilaturahmi. Kalian bisa main ke kampung kami”, kata Nek Linnah kepada Dare.
“Mak Long pun senang jika ada kamu. Seolah-olah kamu ini anak Mak Long sendiri. Karena selama ini Mak Long sangat merindukan seorang anak”, tambahnya pula kepada Dare. Pak Kader dan istrinya tersenyum mendengarnya.
“Sekarang hari sudah siang. Lebih baik kita makan dulu. Setelah makan, kita mencari kayu yang bisa dijadikan tiang, kasau, dan lain sebagainya”, kata Long Latip.
“Iya lah jika begitu. Sekarang siapkan makan siang, Bu. Dare, keluarkan bekalan yang kita bawa itu”, ucap Pak Kader kepada istri dan anaknya si Dare.
Kemudian Dare pun menyiapkan makanan. Begitu juga dengan Nek Linnah mengeluarkan makanan yang telah dibawanya dari rumah. Kini makanan sudah tersaji dan siap untuk disantap. Makanan banyak sekali, maklum makanan dua buah rumah disatukan. Ada sayur kacang masak santan dan sayur bayam yang dioseng. Ada ikan gabus pindang dan ikan pari sambal goreng serta sambal terasi asam jeruk kecil.
“Ayo, tunggu apa lagi. Kita makan sekarang, Bang Long, Kak Long, Dare, Bu”, ajak Pak Kader.
“Iya sabar, Bang Ngah”, jawab istrinya sambil membasuh tangannya.
“Baiklah... Ayo, Bu”, kata Long Latip sambil mengajak istrinya.
“Iya, Pak”, jawab istrinya.
Kemudian mereka berlima makan dengan lahap sekali. Pak Kader melahap sayur dengan nikmatnya. Begitu juga dengan Dare, ia makan ikan gabus dengan lahap. Mungkin ia sudah lama tidak makan ikan gabus. Begitu juga dengan Long Latip, mungkin ia sudah lama tidak makan ikan pari. Dua keluarga itu semakin akur. Seolah-olah mereka dua keluarga yang sudah lama terpisah. Kegembiraan di hati Long Latip dan istrinya sangat terlihat sekali. Wajah mereka berseri-seri tanda hati mereka sangat senang dapat teman baru dari kampung yang jauh dari mereka.  
Kini selesai sudah mereka makan. Setelah makan, mereka pun istirahat sebentar. Setelah matahari agak sedikit condong ke arah barat, barulah mereka bekerja mencari kayu untuk membuat pondok. Nek Linnah dan istri Pak Kader (Halimah) serta Dare juga ikut membantu mengangkat kayu atau mengumpulkannya. Kini kayu untuk membuat pondok sudah banyak terkumpul. Kayu yang mereka ambil adalah kayu yang lurus dan besar serta bagus. Kayu-kayu itu seperti labban, nyarum, batang jambu merekan, dan batang kayu yang lainnya.
“Nah, sekarang kayu kita pun sudah banyak. Sekarang kita mulai untuk membuat pondok. Bu, tolong ambil peralatan kita di sana”, ucap Pak Kader kepada istrinya Ngah Halimah. Istrinya pun mengambil peralatan tukang suaminya. Kemudian memberikannya kepada suaminya.
“Ini, Ngah”, kata istrinya sambil memberikan peralatan tukang.
“Long, lebih baik Allong dan Kak Long bemalam juga dengan kami disini. Karena kami belum hapaldengan daerah ini. Dan duate tempat ini pun masih belum kenal dengan kami. Aku pun belum permisi sama datok daerah ini. Daerah apa ini, Long? Apa nama daerah ini?”, tanya Pak Kader kepada Long Latip.
“Entahlah, aku pun juga tidak tahu. Sejak aku ngadang ikan di muara atau pun nogok, menjala ikan, atau pun memancing udang. Aku belum tahu apa nama daerah ini. Karena disini belum ada orang yang datang. Ya, baru kamu, Ngah”, ucap Long Latip. 
“Aku dan teman-temanku dari kampung lain juga belum tahu apa nama daerah ini”, tambahnya pula. 
“Biasanya Allong ngadang ikan itu menggunakan apa, Long?”, tanya Pak Kader kepada Long Latip.
“Ya, langgianlah Ngah. Langgiankan terbuat dari bulluh (bambu) dan kain kasa”, jelas Long Latip kepada Pak Kader.
Pak Kader termangut-mangut tanda mengerti. Sesaat ia merenung, entah apa yang dipikirkan oleh orang tua itu. Kemudian ia pun permisi ke pojok hutan. Sepertinya ia akan memberi tahukan kedatangan mereka ke datok penghuni hutan, yaitu Datok Panglima Hitam. Pak Kader akan menyampaikan keinginannya untuk membuka hutan. Hutan yang dibuka sebenarnya digunakan untuk lahan pertanian maupun perkebunan.
“Bang Long, sebentar ya. Aku permisi dulu. Aku ingin menyampaikan hajatku kepada Datok Panglima Hitam. Dan, sebelum matahari tenggelam pondok kita harus sudah berdiri, Bang Long”, kata Pak Kader kepada Long Latip.
“Iya, silakan Ngah”, jawab Long Latip.
Mulut Pak Kader komat-kamit membaca do’a dan mantra serta serapah-jampi. Do’a yang dibaca oleh Pak Kader adalah do’a Nur Buah dan do’a Mahkota Sulaiman. Sedangkan mantra yang dibaca oleh Pak Kader adalah; “Ya rasi narasi, ashaduan narasi”, sedangkan serapah jampi yang dibaca oleh Pak Kader ialah; “Assalamualaikum Datok Panglima Hitam, datok penunggu hutan ini. Ha paya, paya saya, cium bau kelare ruppe, kami ini anak cucu Datok Sebangkau. Anak cucu Datok Sultan Syafiuddin, Datok Sultan Sambas. Datang kemari untuk membuka hutan atau lahan pertanian serta lahan perkebunan. Tolong izinkan anak cucu untuk membuka lahan disini. Jika ada pantang larangnya ditempat ini, tolong bilangkan kekami. Agar anak cucu tidak melakukan hal-hal yang dapat mencelakan anak cucu selama disini”, ucap Pak Kader kepada datok penunggu hutan tersebut.   
Itulah mantra yang diucapkan oleh Pak Kader. Sedangkan Long Latip dan istrinya serta Mak Halimah dan si Dare memperhatikan tingkah Pak Kader. Kemudian Pak Kader pun mengambil rumput disekitar lokasi pondok mereka. Kemudian ia pun kembali membaca mantra “Kun jat kun Allah, Muhammad akan payungku. Selisih kau setan dan iblis, harimau allah nak lalu”, ucap mulut Pak Kader.    
Kini selesai sudah ritual yang dilakukan oleh Pak Kader. Kemudian ia pun melanjutkan pekerjaannya membuat pondok bersama dengan Long Latip. Long Latip dengan semangat yang tinggi membantu saudara barunya itu. Sedangkan Nek Linnah dan Mak Halimah membantu sebisanya. Lain halnya dengan si Dare, ia menyiapkan makanan untuk nanti malam. Sebenarnya Long Latip pun bisa melakukan ritual berdialog dengan mahkuk astral. Akan tetapi, karena yang mempunyai hajat adalah Pak Kader, maka ialah yang menyampaikan hajatnya. Kebetulan Pak Kader pun sudah tahu akan mantra atau pun do’a-do’a tersebut.   
Waktu terus berjalan, detik berganti dengan menit, menit berganti dengan jam. Kini pondok Pak Kader sudah mau selesai, tinggal bagian atasnya lagi yang masih belum rampung. Kasau-kasau yang sudah tersedia dinaikan oleh Nek Linnah ke atas pondok. Kemudian diberikannya kepada suaminya yang berada di atas. Kasau-kasau tersebut dipasang oleh Pak Kader dan Long Latip. Kasau-kasau tersebut digunakan untuk menggantung atap.
Sore ini, untuk memasang atap mungkin mereka tidak mempunyai waktu. Jadi bagian atap hanya ditutup dengan plastik atau tarpal. Semua itu hanya untuk sementara saja, agar mereka terlindung dari embun dan dinginnya udara malam. Lagi pula, mereka belum meyiapkan atap sama sekali. Mungkin esok pagi Pak Kader akan mengambil daun sagu untuk membuat atap rumah. Tidak jauh dari pondok mereka banyak sekali daun sagu dan batang bemban untuk membuat atap rumbia.
Tidak lama kemudian hari pun mulai gelap. Si Dare pun sudah selesai memasak nasi dan masak sayur. Pelita dan lentera pun dipasang oleh Mak Halimah. Malam itu mereka habiskan untuk mengobrol, saling curhat dan cerita-cerita. Cerita apa saja selagi mata mereka belum mengantuk. Nyanyian burung malam membuat suasana semakin seram. Si dare mendekati ibunya karena takut mendengar suara burung hantu dan bunyi-bunyi yang aneh dari luar pondok.
Mungkin makhluk-makhluk astral tersebut ingin berkenalan dengan mereka. Karena selama ini tempat mereka belum pernah dijarah oleh manusia seorang pun. Seolah-olah mereka terganggu dengan kedatangan manusia ketempat mereka. Sebenarnya makhluk astral tersebut memang merasa terganggu dengan kedatangan Pak Kader dan keluarganya serta Long Latip. Mereka coba untuk menakut-nakuti agar Pak Kader dan Long Latip tidak kerasan tinggal ditempat itu. Akan tetapi, Pak Kader sudah bertekad akan membuka lahan ditempat tersebut.
Malam semakin larut, udara malam semakin dingin. Kini Long Latip dan Pak Kader pun sudah mengantuk. Sedangkan si Dare sejak dari tadi sudah tidur di samping ibunya. Nek Linnah dan Mak Halimah pun sudah berlayar ke pulau impian. Tubuh ketiganya membulat seperti tidurnya seekor kucing ataupun tringgiling.
“Long, mataku sudah berattt sekali ni. Aku mengantuk, Bang Long”, kata Pak Kader kepada Long Latip.
“Iya, Bang Long juga ni. Mata ini sudah tidak tahan lagi untuk berjaga. Ayolah kita tidur saja. Esok kita mau kerja lagi. Esok Bang Long pulang dulu untuk mencari ikan dan melihat rumah kami”, ucap long Latip kepada Pak Kader.
“Iya Long... Esok biar aku dan istriku yang membereskan atap pondok ini. Insya allah esok pasti sudah selesai”, jawab Pak Kader.   
“Ayo kita tidur”, ajak Long Latip sambil membaringkan tubuhnya.
“Iya, Long”, jawab Pak Kader sambil merebahkan tubuhnya yang masih terlihat kekar dilantai pondok.
Tanpa menunggu banyak waktu, kini Pak Kader dan Long Latip pun sudah tertidur dengan pulas. Bunyi-bunyi yang menyeramkan pun sudah tidak mereka dengar lagi. Mereka tidak perduli dengan bunyi-bunyian yang menyeramkan. Kini mereka sudah pasrah segalanya. Mereka menyerahkan hidup dan mati mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hidup dan mati ditangan Allah Subhanahu Wata’ala.
Waktu terus berputar. Malam terasa sebentar. Dikejauhan terdengar suara kokok ayam jago. Semua itu menandakan hari sudah siang. Si Dare sudah bangun bersama ibunya untuk membuat sarapan pagi dan membuat air kopi. Sedangkan Pak Kader dan Long Latip membasuh muka di sungai. Setelah sarapan pagi, mereka melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Long Latip dan istrinya kembali ke sungai untuk mencari ikan. Setelah itu mereka pulang ke rumahnya untuk melihat apakah rumahnya aman dari pencuri.              
Sedangkan Pak Kader dan istrinya mencari daun sagu dan bemban untuk membuat atap rumbia. Si Dare juga ikut membantu kedua orang tuanya agar pekerjaan mereka cepat selesai. Daun sagu kini sudah banyak yang terkumpul. Dare dan ibunya mengikat daun tersebut dan dibawa ke pondok. Sesampainya di pondok, daun tersebut pun dianyam oleh Pak Kader dan istrinya. Sedangkan si Dare memasak nasi dan masak sayur pakis. Tumbuhan pakis sangat banyak disekitar pondok mereka. Dare tidak susah-susah lagi untuk membeli sayur. Kini sayur sudah di depan matanya, ada sayur pakis, ada singkel, simpor, ada kangkung, ada sawi rusa, ada selada, ada genjer, dan banyak lagi yang lainnya.   
Setelah semuanya beres. Pak Kader mulai membuka lahan. Dengan mengucapkan “bismillahirohmanirrohim” hutan pun dirimba oleh Pak Kader dengan dibantu oleh Long Latip sahabatnya.
Waktu terus berputar, tidak terasa satu purnama telah berlalu. Kini hutan sudah menjadi lapang. Sepertinya lahan Pak Kader dan Long Latip tersebut sudah siap untuk ditanami. Selain menggarap tanahnya, Long Latip dan istrinya tetap ke sungai untuk mencari ikan. Mereka masih ngadang di muara sungai tersebut jika tidak didahului oleh teman-temannya. Selain itu mereka juga masih memasang jaring atau pun menjala ikan buat makan sehari-hari serta dijual pada tetangga. 
Kini Long Latip sudah mempunyai lahan untuk bertani atau pun berladang. Lahan yang sudah mereka buka itu mereka tanami dengan padi dan palawija serta tanaman tumpang sari. Beberapa bulan kemudian tanaman mereka sudah menghasilkan buah. Hasil dari pertanian atau pun ladang mereka sangat banyak. Pak Kader dan istrinya membawa keluarga dan tetangganya yang lain yang tidak mempunyai tanah di Ngadang Laut. Mereka ingin mengadu nasib pada lahan yang baru dibuka oleh Pak Kader dan dibantu oleh Long Latip.
Kini dimana tempat mereka itu semakin ramai. Diperkirakan terdapatlah sebelas pondok yang berjejer tidak jauh dari tepian parit. Sebelas pondok itu terdapat sepuluh kepala keluarga yang hijrah dari Ngadang Laut. Sedangkan satu pondoknya lagi kepunyaan Long Latip yang berasal dari kampung lain. Tujuan mereka sama, yaitu untuk membuka lahan pertanian ataupun untuk perkebunan. Suatu tempat dimana dulu sangat angker dan menakutkan, kini sudah menjadi tempat mata pencaharian. Tempat itu tidak lagi seangker dulu. Meskipun terkadang masih ada makhluk astral yang mengganggu mereka. Karena di hutan tersebut terdapat hantu “Butte Berantai”. Hingga kini hantu “Butte Berantai” tersebut masih ada.  
Masyarakat ditempat tersebut semakin ramai. Sedangkan nama tempat itu masih belum diketahui oleh masyarakatnya. Apa nama tempat tinggal mereka? selain mereka bertani, terkadang mereka juga pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Ikan yang mereka peroleh hanya untuk lauk akan siang atau pun malam. Ikan-ikan tersebut tidak mereka jual seperti Long Latip dan istrinya. Para nelayan itu membuat langgian dari batanng buluh untuk ngadang ikan di muara tersebut. Long Latip sering ngadang ikan di muara tersebut.
Setiap orang yang lewat biasanya menyapa Long Latip dengan “Ngadang ke Long?”, ucap mereka. Atau pun “ade ke boleh, Long?”, tanya mereka yang lewat. “Banyak ke boleh ngadang, Long?”, biasa juga seperti itu pertanyaan mereka. kini muara tersebut sudah banyak orang yang lewat ke dalam, karena di dalam terdapat sepuluh pondok. Alat transportasi yang mereka gunakan adalah sampan. Jadi muara sungai tersebut tempat mereka keluar masuk untuk belanja atau pun mencari ikan serta ke kampung sebelah.
Setiap orang yang lewat, pasti mulutnya ngomel (marah) “bulluhmu yo ngadang aku nak lewat”, kata meraka. Karena ada orang yang sedang melanggian atau ngadang di muara tersebut. Sedangkan orang mau lewat ke dalam kampung atau ke luar kampung (pedukuhan). Lama kelamaan nama tersebut menjadi “bulluh ngadang” karena buluh menghalangi orang yang mau lewat di muara tersebut. Jadilah nama pedukuhan kecil tersebut menjadi “kampong bulluh ngadang”, jika ejaan Indonesia menjadi “Buluh Enggadang”.
Pada suatu hari di pondok Pak Kader orang-orang pada kumpul. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang amat penting. Pak Long Latip dan istrinya juga turut kumpul di pondok Pak Kader.
“Bang Long, sepertinya kita tinggal di tempat ini sudah cukup lama. Kurang lebih enam purnama sudah kita menetap di tempat ini. Tempat kita ini sudah layak untuk disebut sebagai padukuhan. Karena dipadukuhan ini sudah terdapat 11 kepala keluarga. Sedangkan padukuhan kita ini belum mempunyai nama. Bagaimana menurut Bang Allong?”, ucap Pak Kader memulai pembicaraan.
“Iya, benar Pak Long”, ucap salah satu dari mereka.
“Iya memang, kita sudah lama berdomisili ditempat ini. Akan tetapi tempat ini, atau padukuhan ini, seperti yang Anggah bilang, harus mempunyai nama. Tapi, kita harus memberi nama padukuhan ini dengan nama yang sesuai. Dengan nama yang cocok, agar kelak dikemudian hari anak cucu kita dapat menceritakan kisah ini kepada generasi berikutnya”, ucap Long Latip.
“Benar juga tu, Long”, jawab yang lainnya.
“Nah, bagaimana jika padukuhan ini aku beri nama dengan “Bulloh Ngadang”. Karena bulloh di muara, selalu menghalangi kita mau keluar atau masuk ke mari (dalam). Lagi pula yang membuka lahan ini, atau padukuhan ini adalah orang yang berasal dari “ngadang”, yaitu Pak Kader. Pak Kader dan kalian semuanya kan berasal dari “Ngadang Laut”. Bagaimana menurut kalian?”, kata Long Latip kepada porum rapat.
Mereka saling pandang dan termangut-mangut. Entah apa yang mereka pikirkan. Belum sempat mereka menjawab pertanyaan dari Long Latip. Long Latip mun kembali bicara.
“Begini kawan-kawan, Bang Ngah... Dikarenakan pula, aku juga sering ngadang di muara bersama dengan istriku. Serta orang dari kampung luar pun sering ngadang di muara tersebut. Sehingga di muara tersebut tempatnya orang melanggian atau ngadang ikan. Sip kan... Bang Ngah?”, ucap Long Latip.
“Benar tu, Bang Long... cocok ke aku tu. Itu sebuah ide yang bagus. Aku setuju...!”, ucap Pak Kader.
“Lalu,bagaimana dengan yang lain. Setuju...?!”, tambahnya pula.
“Kami sih, mengikut apa saja kata Pak Long dan apa kata Anggah. Jika kata anggah baik,maka baik pulalah bagi kami. Jika kata Anggah tidak baik, maka kami menurut saja. Saya setuju.... dan amat setuju sekali”, ucap salah satu dari mereka, yaitu Pak Amir namanya.
“Setujuuuu...! kami setujuuuu...!”, jawab yang lainnya.
“Alhamdulillah, selesai sudah masalah kita. Sekarang padukuhan kita sudah mempunyai nama, yaitu “Bulloh Ngadang”. Yang membuka lahan pertama sekali orang “Ngadang” dan yang ngadang di muara adalah “bulloh”, jadi nama lengkapnya “Bulloh Ngadang”.
Begitulah hikayatnya dari asal-usul nama Kampung Buluh Enggadang. Dari mulut ke mulut nama Bulloh Ngadang semakin tersebar. Semua itu dikarenakan banyak orang yang melanggian atau ngadang ikan di muara tersebut serta yang membuka tanah di daerah tersebut adalah orang “Ngadang”. Lama kelamaan nama sebutan “Bulloh Ngadang” disempurnakan menjadi “Buluh Enggadang”.
Sekarang Buluh Enggadang menjadi salah satu dusun di Desa Serumpun Buluh, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Sebenarnya Desa Serumpun Buluh mempunyai dua dusun, diantaranya ialah Dusun Buluh Parit dan Dusun Buluh Enggadang yang terdiri dari 12 rukun tetangga (RT). Sekarang yang menjadi bapak kepala desa di Desa Serumpun Buluh adalah Bapak Aspian.   
Demikianlah cerita dari “Asal-usul Nama Kampung Buluh Enggadang”, segala sesuatunya hanya Allah yang mengetahuinya (Wallahu A’lam Bissawab). Yang benar datangnya dari Allah, yang salah dari kita pribadi. Kita manusia hanya bisa merangkum dan menyimpulkan dari kisah tersebut serta mengambil hikmahnya. Semoga cerita rakyat “Asal-usul Nama Kampung Buluh Enggadang” ini dapat bermanfaat buat penulis dan siapa saja yang dapat merasakan manfaatnya. Salam Penulis “Sugianto, S.Pd.I”.