Rabu, 07 Desember 2016

Sinopsis Undang-Undang Cinta Sugianto, S.Pd.I.

Sinopsis Undang-Undang Cinta Sugianto, S.Pd.I.
Sugianto, S.Pd.I
Sinopsis Undang-Undang Cinta Sugianto, S.Pd.I. Undang-undang adalah sebuah peraturan yang mengikat siapapun dan dalam hal apun. Mengenai judul di atas, yaitu “Sinopsis Undang-Undang Cinta” membahas tentang percintaan remaja masa kini. Tujuan dibuatnya Undang-Undang Cinta ini adalah untuk mengantisifasi banyaknya cinta yang kandas sebelum kejenjang perkawinan. Semua itu diebabkan karen ketidaktahuan remaja dalam hal pergaulan dan mengetahui hati dan perasaan pasangannya, baik itu bagi perempuannya atau pun bagi laki-laki tersebut.

Undang-undang Cinta membahas tentang pergaulan remaja, baik dari saat pacaran, antar-jemput pacar, saat pacar ngambek, jika pacar hamil, jika pacar selingkuh, jika pacar dijemput orang lain, jika kita bertamu ke rumah pacar, jika pacar masih sekolah, jika pacar mau ujian sekolah, jika pacar latihan, jika pacar masih sd/smp/sma, jika pacar satu sekolah, saat pacaran, saat mau tidur, jika pacar lebih muda, jika pacar lebih tua, jika pacar sudah bekerja, keuangan, perlakuan terhadap orang tua pacar, perlakuan terhadap keluarga pacar, salah paham/marah dan minta maaf, jika pacar marah, jika pacar melakukan kesalahan, jika melakukan kesalahan pada pacar, jika terjadi salah paham, jika pacar minta maaf, dan banyak lagi yang lainnya.

Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan kepada manusia atau makhluk lainnya. Cinta itu bisa dialami oleh semua makhluk ciptahan Tuhan Yang Maha Esa. Kata-kata cinta dipengaruhi oleh perkembangan masa atau waktu. Perkataan cinta senantiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman, dan penggunaan dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda.

Undang-undang Cinta ini dibuat terdiri dari 25 BAB, 78 Pasal, dan 362 ayat, 23 sub bagian. Itulah bagian dari Undang-undang Cinta buat kita semua khususnya para remaja baik putra dan putri. Membahas hal cinta, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi pada lain jenis. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang sesama makhluk ciptaaan Tuhan. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti/patuh, dan mau melakukan apa-pun yang diinginkan objek tersebut. Itulah Cinta.... “Undang-Undang Cinta”


“Sugianto, S.Pd.I”

Rabu, 30 November 2016

Doa Menyatukan Hubungan Suami Istri

Doa Menyatukan Hubungan Suami Istri, Manusia adalah makhluk yang paling sempurna Tuhan ciptakan. Semua makhluk yang Tuhan ciptakan di dunia ini semuanya berpasang-pasangan. Baik itu manusia itu sendiri, tumbuhan, hewan, alam dan lain sebagainya. Mengenai judul di atas, “doa menyatukan hubungan suami-istri” akan penulis bahas di bawah ini. Mengapa kita perlu doa untuk menyatukan suami istri yang bertengkar? Karena kita ingin membantu merukunkan kerukunan keluarga mereka. Mereka sudah lama mendirikan masjid tersebut dengan cinta dan kasih sayangnya. Kasihan anak-anak mereka tidak punya orang tua. Kenapa mereka dengan semudahnya untuk merobohkan masjid yang telah dibangun dengan cinta tersebut? Lebih baik kita bantu mereka dengan doa. Diantaranya ialah sebagai berikut:

Berdoalah setelah sholat hajat dengan cara-cara:
-                 Istighfar dulu 100 x
-                 Baca shalawat nabi 10x
-                 Berdoa mohon diberi ketenangan hati
-                 Berdoa dengan doa pengikat kasih sayang menggunakan ayat-ayat al-Qur’an berikut ini: “Kul ingkuntum tuhibbu nallah fattabi’uni, yuhibbukumullahu wayarfirlakum zunubakum wallahu rofururrohim”. (QS. Ali-Imran: 31).

Bisa juga dengan membaca mantra “pantan asam garam” misalnya: ashaduanta fatimah hasam, tarung taraf tarung madure, gunne sunnak dimate ... gunne sunnak di matemu, tunduk kasih sayang si .... dengan aku, berkat aku makai kate lailahailalah muhammad rasulullah”. Mantra tersebut dibaca paling sedikit 3 kali, paling banyak 21 kali. Tiupkan ke air dan minumkan insyaAllah rukun. Semua datangnya dari Allah dan kebali kepada Allah semata.


Terima kasih, wasalam. Sugianto, S.Pd.I

Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Asal Usul Kampung Hangus"

Ilustrasi Kampung Hangus
Asal Usul Kampung Hangus, Selama dua abad kesultanan Sambas berdiri, selalu dirongrong oleh berbagai kekacauan baik yang datangnya dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kedaulatan sering dilanggar sehingga menimbulkan beberapa kali peperangan. Sampai penutup abad ke- 18 Belanda dan Inggris hanya berhasil melakukan perniagaan yang tidak mengikat.
Hubungan antara kesultanan Sambas dengan Belanda dan Inggris tidak terlalu akrab.
Inggris dan Belanda selalu berusaha menuntut pembagian tanah yang lebih luas untuk kantor dagang dan benteng (loji) sehingga timbul pertengkaran antara Sultan Sambas dan Inggris yang meminta tidak hanya hak monopoli dalam perdagangan, juga meminta tanah pemukiman didaerah Paloh “Tanjung Datuk”. Permohonan mereka ditolak oleh Sultan Sambas.
Alexander Hare, wakil pemerintah Inggris yang datang menemui Sultan Sambas pada tahun 1812 mengira akan dengan mudah mendapat beberapa bidang tanah di Sambas,mereka merasa kecewa atas sikap tegas Sultan terhadap mereka.
Pada masa itu Negeri Sambas dalam keadaan sangat lemah, karena secara berturut turut sejak tahun 1789 sampai dengan tahun 1791 diserang oleh pasukan Siak Sri Indrapura. Di dalam negeri mendapat gangguan dari Kongsi-kongsi pertambangan emas orang Cina.
Pada tahun 1811, Sultan Abu Bakar Tajudin I menerima laporan dari rakyatnya (nelayan penangkap ikan), bahwa dikuala Sungai Sambas Kecil telah berlabuh sebuah kapal asing milik East Idian Company kepunyaan Inggris yang amat mencurigakan. Kedatangan kapal Inggris itu ternyata untuk menuntut tanggung jawab dari Pangeran Anom yang telah menyerang kapal Inggris diperairan Banjarmasin dalam tahun 1789. Inggris memberitahukan agar Sultan Sambas mau memenuhi permintaan Inggris terhadap daerah Paloh.
Dalam upaya Sultan Sambas mempertahankan negerinya dari serangan pasukan Inggris itu, diperintahkan kepada panglima dan rakyatnya bersiap siaga membuat kubu pertahanan di sebelah kiri dan kanan Sungai Sambas Kecil dan dan menimbun batu batu besar ke dalam sungai tersebut untuk menghadang kapal kapal Inggris yang berusaha masuk menelusuri alur sungai Sambas Kecil. Karena timbunan batu tersebut kapal Inggris yang besar tak bisa masuk melalui sungai Sambas Kecil sehingga sampai sekarang daerah tersebut diberi nama kampung Sebatu (karena alur sungainya dipenuhi batu).
Bagaimana kisah serangan Inggris terhadap Sambas? Mayor William Thorn menjelaskan, serangan pertama dilakukan pasukan Inggris terhadap kerajaan Sambas adalah pada bulan Oktober 1812 dipimpin oleh Kapten Bowen dari kapal perang Inggris bernama Phoenix namun mereka tak dapat masuk sungai Sambas kecil karena terhalang batu yang ditimbun di sungai. Dalam serangan kedua pada tanggal 22 Juli 1813, dipimpin oleh Kapten Watson, mereka bergerak masuk melalui kampung Kartiasa di sungai Sambas besar.
Pada tanggal 23 Juli 1813, mereka menurunkan senjata dan pada tanggal 25 Juli 1813 tentara Inggris bergerak maju menuju kota Sambas. Sebelum bergerak masuk, mereka mengirimkan sepucuk surat kepada Sultan Sambas yang ditanda tangani oleh Kapten Sayer dan disampaikan oleh Kapten Bayley. Isi surat tersebut meminta kepada Sultan agar menyerahkan Pangeran Anom beserta pengikutnya kepada pasukan Inggris, surat yang disampaikan tersebut tidak ditanggapi oleh Sultan. Karena ia bersama rakyat telah bertekad tidak akan menyerah sebelum berlumur darah melawan penjajah.
Merasa dilecehkan,pada malam 26 Juli 1813 pasukan Inggris bergerak maju menyusuri Sungai Betung dan hutan rimba menuju Sambas. Gerakan pasukan Inggris ini dapat dihadang oleh pasukan Sambas, sehingga Inggris harus membagi pasukanya menjadi beberapa bagian agar dapat menembus pasukan Sambas. Di bawah pimpinan Kapten Morris dari resimen 14 juga tidak berhasil menaklukkan Sambas. Sedangkan pada kelompok lain di bawah komando Kapten Brookes dari Batalyon Sukarela Bengal 3, yang terdiri dari angkatan laut Inggris dengan 100 orang India harus mendaki jalan pintas yang terjal untuk sampai ke Sungai Sambas kecil.masing masing divisi diiringi oleh sekelompok kelasi bersenjata yang membantu membawa perbekalan dan membuat jalan perintis melewati hutan rimba.
Pasukan Inggris di bawah komando Watson diberangkatkan pada jam 03.00 pagi dan setelah melewati berbagai rintangan alam, sampai di daerah pertahanan pasukan Sambas pada jam 09.30 pagi. Pasukan Ingris menyerang dan menghujani Negeri Sambas dengan peluru meriamnya.
Pada saat saat yang genting itu sebenarnya Pangeran Anom beserta keluarganya tidak berada di Sambas. Ia sedang berkelana bersama pasukanya ke negeri lain. Ketika di dalam pelayaran ia menderita penyakit malaria. Kejadian itu terjadi pada tahun 1812. Karena penyakit malarianya yang lumayan parah, ia dan pasukanya menetap sementara di Lunduk (sekarang daerah tersebut masuk wilayah Sarawak atau Malaysia).
Karena penyakit tersebut Pangeran Anom tak mungkin pulang dan memimpin pasukanya. Oleh karena itu, diperintahkanlah Puteranya Pangeran Muda berangkat ke Sambas memimpin pasukanya untuk mengusir serangan pasukan Inggris.
Kubu pasukan Sambas ditepi sungai Betung tidak mungkin lagi dipertahankan. Lalu mereka berpindah mengundurkan diri disebelah timur daya, yaitu di Kampung Pendawan. Pasukan Inggris pun menggempur pertahanan di Kampung Pendawan karena pada saat itu pertahanan pasukan Sambas di Sebatu dan Sungai Betung telah berhasil mereka hancurkan.  Menghadapi serangan musuh yang serba lengkap senjatanya itu, pasukan Sambas bergabung menjadi satu maju kemedan perang di bawah komando Pangeran Muda (Putera Pangeran Anom). Terjadilah pertempuran yang sangat sengit dan hebat dalam hutan belantara. Oleh karena persenjataan yang tak berimbang, peperangan berubah menjadi perang gerilya dan berlangsung hingga berbulan bulan.
Di dalam pertempuranya ini, Pangeran Muda atas keberanianya yang luar biasa, ia  terkepung dalam lingkaran pasukan musuh sehingga ia gugur dimedan laga. Dengan kejadian tersebut semangat pasukan Sambas semakin menipis. Beberapa hari kemudian pasukan Inggris bergerak maju ke barat laut mengepung Pasukan Sambas sehingga tak berdaya dan terpaksa menyerah.
Kira kira 150 meter menyusur tepi sungai Sambas kecil hingga kesungai Teberau, pasukan musuh membakar sebuah kampung hingga hangus dan menjadi abu. Tempat itu hingga sekarang diberi nama “Kampung Angus”.
Ketika Pangeran Anom mendengar kabar bahwa Negeri Sambas telah kalah berperang dengan Inggris dan gugurnya Pangeran Muda (Putranya) dalam mempertahankan negeri Sambas naiklah darah pahlawanya. Ia amat marah walau dalam keadaan sakit keras, ia sangat merasa sedih atas gugurnya putranya serta penderitaan yang dialami rakyat Sambas. Tapi menyadari penyakitnya yang masih belum sembuh, ia berfikir lebih baik menetap saja di kampung Lunduk untuk sementara waktu dari pada kembali ke negeri Sambas.
Setelah Negeri Sambas dikuasai Inggris, datanglah berkunjung keistana Sultan komandan pasukan inggris dengan maksud untuk berkenalan dengan Sultan Abu Bakar Tajudin I dan Pangeran Anom.
Karena Pangeran Anom masih di kampung Lunduk, komandan tersebut mohon bantuan Sultan agar segera memerintahkan menterinya pergi ke kampung Lunduk membawa Pangeran Anom kembali ke Sambas.  
Sultan Sambas memerintahkan 4 orang Datuk Kyai serta berpuluh orang penggiring berangkat menjemput Pangeran Anom beserta keluarganya ke kampong Lunduk.
Setelah Pangeran Anom beserta keluarganya berada kembali di Sambas. Pangeran Anom pergi dengan Bedar menemui komandan pasukan Inggris di kapal perangnya. Pada hari berikutnya datang pula komandan perang pasukan Inggris ke istana Sambas membalas kunjungan Pangeran Anom yang telah dating ke kapalnya. Dan ia berjanji akan melaporkan segala perbincanganya dengan Sultan dan Pangeran Anom kepada atasanya di Batavia (Jakarta). Ia berjanji pula akan mendatangkan suatu utusan khusus ke Sambas untuk mengikat tali persahabatan dan perjanjian dagang dengan Sultan dan Pangeran Anom.
Demikianlah riwayat Negeri Sambas dan asal usul “Kampung Hangus”, setelah kalah perang melawan Inggris. Tiada berapa lama Pangeran Anom berada di Sambas ia diangkat mengantikan Sultan Abu Bakar Tajudin I.
Dalam penyerangan Inggris ke Sambas tahun 1812-1813, Inggris telah mengerahkan Resimen ke 14 Batalyon Sukarela Bengal 3 dan Artileri Bengal dengan kapal 3 perang yaitu: Kapal Perang Ratu Inggris, Leda dan Hussen. Menurut catatan Inggris, pasukan mereka yang tewas 15 orang diantaranya beberapa perwira Inggris dan 58 orang luka. Jumlah pasukan Sambas yang tewas: 12 orang Pangeran, 150 orang prajurit.

Sultan Abu Bakar Tajudin I meninggal dunia pada 20 hari bulan Ramadhan 1229 Hijriyah. Dan digantikan pada hari Jum’at 14 September 1814 M oleh Pangeran Anom dengan gelar Sultan Muhammad Ali Syafi’uddin I.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Sambas Di Serang Siak SRI INDRAPURA 1789-1791"

SAMBAS DISERANG SIAK SRI INDRAPURA 1789-1791 (PANGERAN ANOM MEMPERTAHANKAN SAMBAS)

Serangan Pertama Kerajaan Siak Sri Indrapura ke Sambas.
Tidak lama ketika Pangeran Anom memerintah di Sambas, pada bulan Desember tahun 1789 Kesultanan Sambas diserang pasukan Siak Sri Indrapura yang dipimpin oleh Raja Ismail. Penyerangan dari Siak ini adalah karena persaingan dagang dan ekonomi diantara kedua Kesultanan. Dua keerajaan salin berebut kekuasaan dilaut serta berusaha menguasai wilayah antara pulau Sumatra dan Kalimantan. Armada Siak Sri Indrapura bergerak maju disekitar perairan Sungai Sambas kecil menembakan meriam ke arah pasukan dari kesultanan Sambas.
Ketika pasukan Siak Sri Inderapura hendak mendarat maka pasukan Sambas berenang mendekati kapal musuh dan membocorkan kapal mereka hingga tenggelam. Tenggelamnya kapal dari Siak diiringi pula dengan tembakan meriam dari halaman istana. Hampir menjelang malam, namun pertempuran di antara kedua pasukan semakin sengit. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Namun lagi-lagi strategi dan kepiawaian pasukan Sambas yang dipimpin Pangeran Anom dapat memukul mundur pasukan dari Siak Sri Indrapura. Sebagian kapal mereka ditenggelamkan dan sebagian berhasil meloloskan diri dan keluar dari perairan Sambas.
Serangan kedua Kerajaan Siak Sri Indrapura ke Sambas.
Pada tahun 1791 pasukan Siak Sri Indrapura menyerang kembali untuk kedua kalinya dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar dan dipimpin langsung oleh Sultan Ali Said sendiri. Pertempuran berlangsung cukup lama, pasukan Siak Sri Indrapura menyerang dengan keberanian yang luar biasa tanpa memperhitungkan korbanya yang gugur di medan laga. Pertahanan pasukan kerajaan Sambas sudah goyah karena serangan bertubi tubi dari pasukan Siak Sri Indrapura yang gagah berani.
Memperhatikan keadaan yang sangat genting itu beberapa orang menteri Kerajaan Sambas, Wazir serta Hulubalang berunding dengan Sultan Abubakar Tajudin I dan Pangeran Anom supaya diadakan perundingan damai dengan Sultan Said Ali dari Siak Sri Indrapura. Usul tersebut ditolak oleh Sultan dan Pangeran Anom, karena Pangeran Anom merasa yakin atas kekuatan pasukanya.
Maka diperintahkanlah oleh Pangeran Anom kepada beberapa pengawal setianya untuk menjemput pasukan mereka yang lain yang terdiri dari orang orang Dayak Sungkung, dan orang orang Dayak Saribas. Maka tak beberapa lama pasukan bala bantuan Pangeran Anom telah terkumpul dan dengan pasukan tersebut Pangeran Anom berhasil memukul mundur pasukan dari Siak Sri Indrapura.
Tapi rupanya Pasukan Siak Sri Indrapura tidak kembali kenegerinya mereka bertahan dilaut menunggu bala bantuan tiba dari garis belakang,mereka menghimpun kekuatan baru untuk menyerang Sambas.
Serangan Ketiga Siak Sri Inrdapura ke Sambas 1792.
Pada tahun 1792 pasukan Siak Sri Indrapura menambah dan memperkuat pasukanya yang ada diperairan Sambas, dipimpin Sayyid Ali Mustafa dan didampingi oleh seorang panglima dari Aceh yang terkenal keberanianya bernama Panglima Aru. Aru adalah nama dari suatu kampung di daerah Aceh, dalam penyerangan itu ikut serta juga permaisuri Sayyid Ali Mustafa yang sakti dan gagah berani.
Pucuk pimpinan perang pasukan Sambas dipegang oleh Pangeran Anom dan didampingi oleh Panglima Awang Tandi (Lawang Tandi) yang khusus dijemput dari tempat pertapaanya dikeramat Bantilan (letaknaya sekarang dalam wilayah kecamatan Sejangkung).
Pertempuran antar pasukan Sambas dan pasukan Siak Sri Indrapura disertai adu kekuatan dan ketangkasan antara panglima Aru dengan Panglima Awang Tandi. Pertarungan yang memakan waktu cukup lama itu adalah beradu kesaktian dan kekuatan. Namun kesaktian yang dimiliki Awang Tandi tak dapat ditandingi oleh Panglima Aru. Awang Tandi berhasil mengalahkan Panglima Aru hingga ia tewas di tangan Awang Tandi. Melihat kejadian tersebut Permaisuri Sayyid Ali Mustafa menjadi geram dengan tangkas ia turun ke medan perang (dihalaman istana Sambas) ibarat seekor singa yang haus darah ia membunuh prajurit dan panglima pasukan Sambas satu persatu hingga parajurit Sambas kelabakan dan menjadi kocar kacir.
Permaisuri Sayyid Ali Mustafa menjadi beringas, siapa saja yang berada di depan atau di belakangnya langsung dibunuh dan dipenggalnya. Melihat keadaan yang mencemaskan itu, Pangeran Anom segera terjun ke medan pertempura menahan gerak maju pasukan musuh dan diperintahkanya kepada Panglima Awang Tandi untuk menyerang langsung tubuh permaisuri tersebut.
Namun penyerangan sulit dilakukan karena permaisuri kebal terhadap senjata tajam dan dia diapit oleh pasukanya yang berlapis lapis. Untuk menghentikan dan mengatasi ketangkasan serta keberanian dan kesaktian permaisuri Sayyid Ali Mustafa tersebut, Pangeran Anom segera memasukan “Peluru Petunang” kedalam Meriam. Sambil mengucapkan mantera diarahkanya meriam tersebut tepat kepada tubuh permaisuri Sayyid Mustafa. Kemudian, dengan tembakan “Peluru Petunang” tersebut tubuh permaisuri yang kebal terhadap senjata tajam tersebut roboh seketika. Tubuhnya bersimbah darah dan seketika itu pula ia gugur di medan laga.
Melihat kejadian itu Raja Sayid Ali dan Sayid Mustafa beserta pasukanya dengan rasa kesal dan sedih memutuskan mundur dari pertempuran dan kembali ke negerinya. Sebagian dari panglima panglimanya yang menyerah kepada pasukan Sambas dan bersedia setia menjadi penduduk Negeri Sambas diberikan tempat oleh Sultan Abubakar Tajudin I sebuah kampung yang diberi nama “Kampung Tanjung Rengas” untuk kediaman orang-orang dari Zulu disediakan suatu kampung yang diberi nama “Kampung Nagur”, dan untuk kediaman orang orang dari Sulawesi disedikan suatu kampung yang diberi nama”Kampung Bugis”.
Sultan Sambas dan rakyatnya selalu membuka pintu selebar lebarnya menerima pendatang baru dari seluruh pelosok Nusantara, sehingga turun temurun tinggal di Sambas sampai sekarang. Rakyat Sambas merasa bangga mempunyai seorang Panglima seperti yang telah di contohkan Pangeran Anom dalam mempertahankan negeri dan rakyatnya dari gangguan orang orang Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan dari kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Catatan:
Keruis adalah perahu layar Pangeran Anom.
Fenes adalah sebuah perahu layar ukuran kecil atau lebih kecil dari Keruis.
Menurut dugaan Keruis dan Fenes berasal dari bahasa Portugis atau Spanyol.

Peluru Petunang adalah peluru yang didalamnya berisi jisim halus atau sahabat “Mu’akal” Pangeran Anom yang bernama”Bujang Danor”.
Cerita ini telah menjadi cerita rakyat masyarakat Kabupaten Sambas sampai sekarang.



 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Dongeng Hubungan Padi dengan Gasing"

Padi
Konon pula menurut versi cerita suku melayu Kalimantan Barat khususnya Kabupaten SAMBAS, timbulnya permainan gasing yang dilaksanakan setiap tahunnya menurut cerita atau dongengnya adalah sebagai berikut:
Seorang putra khayangan yang turun ke bumi sedang melihat anak manusia yang bermain dan ia tertarik dengan permainan ini yaitu memainkan sepotong kayu yang berputar-putar dihalaman rumah anak manusia tersebut. Anak bangsa khayangan ini merasa heran campur senang sepotong kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa dapat berputar dengan cara dilempar dengan menggunakan seutas tali. Kemudian dengan kekagumamannya, ia mengajak anak manusia naik kekhayangan dengan membawa benda yang dimainkan tersebut.
Sesampainya di khayangan, dimintanya anak manusia untuk memainkan permainan itu dihadapan anak-anak bangsa khayangan. Semua anak bangsa khayangan terkagum-kagum dengan permainan tersebut. Setelah mereka bermain-main, dan mereka semua telah merasa lelah, anak manusia tersebut diberi makan oleh anak bangsa khayangan. Pada saat diberi makanan tersebut, giliran anak manusia yang terheran-heran dan kagum. Karena belum pernah ia makan makanan yang berbiji putih dan nikmat sampai perutnya merasa kenyang dan kenyangnyapun lama.
Melihat anak manusia yang makan dengan banyak dan senang sehingga tergugahlah perasaan anak bangsa khayangan lalu ia pun berkata:
“Nanti akan saya bawakan benda ini ke bumi, dengan sarat kamu harus selalu memainkan benda ini”, kata anak khayangan tersebut.
“Baiklah, aku janji. Aku akan selalu memainkan benda ini”, kata anak manusia itu kepada anak bangsa khayangan.
Kemudian anak manusia diantarkannya pulang ke bumi. Sesuai dengan permintaan anak bangsa khayangan, anak manusia tadi selalu memainkan permainan ini di bumi.
Setelah sekian lama, anak bangsa khayangan hampir lupa dengan apa yang telah diucapkannya pada waktu mereka bermain dikhayangan. Tidak lama kemudian datanglah anak bangsa khayangan ke bumi dengan membawa sebutir biji benda yang dikeluarkannya dari kemaluannya. Biji atau benda tersebut disimpan dikemaluannya, karena ia takut dimarahi oleh orang tuanya. Makanya biji tersebut disimpannya dalam kemaluannya.
Kemudian, benda atau biji tersebut diminta oleh anak bangsa khayangan kepada anak manusia di bumi untuk segera ditanam.
Anak manusiapun menuruti apa yang dimintakan oleh anak bangsa khayangan. Biji tersebut ditanam di tanah yang gembur dan subur serta basah. Kemudian, dari hari ke hari biji itu makin menampakkan pertumbuhannya. Biji itu semakin banyak pula tumbuhnya.
Sesuai dengan permintaan anak bangsa khayangan agar selalu memainkan permainan yang pernah mereka mainkan di khayangan waktu yang lalu. Anak manusia di bumi selalu memainkan permainan itu.  
Biji-biji itu terus berkembang, dan biji yang ditanam tadipun akhirnya telah layak untuk diambil karena telah menguning. Dari satu biji yang ditanam hasilnya berlipat ganda beribu-ribu banyaknya. Maka biji tanaman ini terus dikembangkan oleh anak-anak manusia di bumi.
Sejak saat itulah tanaman ini dikenal oleh manusia sebagai makanan pokok yang dapat mengenyangkan dan tahan lama, yaitu “padi”. Padi ini diolah menjadi “beras”. Kemudian oleh anak manusia permainan yang berputar serta berpusing tersebut diberilah nama dengan sebutan “gasing”.
Sampai saat ini permainan gasing selalu dimainkan oleh anak-anak manusia mulai musim bertanam padi sampai masa panen. Dengan turunnya padi kepada manusia ke bumi, maka Pangkak Gasing (bermain gasing) selalu dimainkan turun-temurun bagi masyarakat melayu dan dayak Kalimanatan Barat pada umumnya, dan khususnya masyarakat Kabupaten Sambas. Permainan Pangkak Gasing hingga sampai sekarang ini terus dimainkan, dari tingkat pedesaan sampai tingkat provinsi Kalimantan Barat. Dari anak usia Sekolah Dasar hingga orang tua. Kegiatan Pangkak Gasing tersebut dimainkan dalam acara peringatan hari-hari besar agama, gawai Naik Dangau, pesta ulang tahun kerajaan maupun peringatan hari-hari besar Nasional, pesta demokrasi, dan lain sebagainya.
Padi dengan gasing berhubungan sangat erat sekali, sehingga di dalam kehidupan orang Dayak dan Melayu Kalimantan Barat, padi dibuatkan tempat khusus (dangau padi atau tamping). Pada lumbung padi dimasukkan sebuah gasing yang namanya gasing gantang. Ukuran gasing yang disimpan ke dangau (lumbung) padi tersebut ukurannnya sama dengan pengukur padi atau beras sebagai alat timbangan tempo dulu yaitu “gantang”. Sedangkan di dalam tempayan tempat menyimpan beras disimpan gasing cupak, yang ditutupkan pada mulut tempayan, dan pasu untuk ukuran beras.


 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "MAK MIDDING"

     
Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "MAK MIDDING"
Midding/Pakkok Dayak
Tersebutlah sebuah kisah di sebuah desa terpencil di Kabupaten Sambas, tinggallah seorang perempuan tua bersama seorang anaknya yang bernama Mahoni yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, atau sama juga dengan anak dara tua. Nama ibunda Mahoni adalah Timmah. Orang-orang kampung di tempat tinggal mereka menyebutnya dengan sebutan Nek Timmah. Tidak jauh dari kediaman Mahoni ini tinggal seorang anak bersama ibunya yang bernama Mak Midding, sedangkan anaknya itu bernama Mohyani. Sebenarnya hubungan antara Mahoni dengan Mak Midding itu bukanlah orang lain, mereka masih bersaudara. Perbedaannya hanya terletak dalam hal kekayaan. Mahoni yang tinggal bersama ibunya itu hidup di dalam suasana yang serba berkecukupan. Rumahnya bagus, ternak peliharaannya pun banyak. Demikian juga dengan kebunnya yang selalu menghasilkan buah-buahan yang melimpah. Untuk hidup yang hanya dua beranak, kekayaan Mahoni itu dapat dikatakan lebih dari cukup.

Sebaliknya Mak Midding bersama anaknya Mohyani hidup di dalam suasana kehidupan yang serba kekurangan. Apa yang diperolehnya hari ini, tidak cukup untuk makan berdua. Syukur-syukur jika hasilnya hari ini bisa cukup untuk makan pada hari itu juga. Terkadang apa yang diperolehnya itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk menyisihkan sedikit penghasilan demi hari esok.
Perbedaan lain antara kedua keluarga ini adalah bahwa bibinya ini terkenal dengan sifat pelit dan kikir. Lain halnya dengan ibunya, Mak Midding lebih terkenal dengan kemurahan hati dan keramah-tamahannya. Bagi Mahoni, apa-apa yang telah diperolehnya jarang sekali atau boleh dikatakan tidak pernah dibaginya dengan tetangganya. Sedangkan Mak Midding walaupun penghasilannya pas-pasan, masih sanggup juga untuk menyisihkan hasil jerih payahnya untuk tetangga.
Setiap hari Mak Midding, kerjanya hanyalah pergi ke hutan belukar mencari dan mengumpulkan sejenis pakis yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama midding. Pakis ini ia kumpulkan untuk dijual ke rumah-rumah tetangga di sekitar tempat tinggalnya dan hasil penjualan pakis itu mereka pergunakan untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari. Oleh sebab itulah, sehingga masyarakat di kampungnya menyebut namanya dengan sebutan “Mak Midding”.
Pada suatu hari, Mak Midding memanggil anaknya lalu berkata kepada Mohyani.
“Oi ….. Ni ….. Nii, Umma’ nak paggi dolo’, kau jage rummah i …..”, kata sang ibu dengan penuh percaya diri.
“Aok be Mak, ati-ati jak, Ummak e care’ midding e … biar aku yang jage rummah”, sahut Mohyani. Nama Mohyani lebih dikenal orang dengan sebutan Yani.
Ibunya pun pergilah ke dalam hutan dengan membawa perlengkapan seperti yang sering dipergunakannya untuk mencari pakis. Capel di kepala, tangkin di gendong di belakang dan tidak lupa pula membawa bekal kapur sirih dan tembakau untuk ia menyugi. Berjalanlah Mak Midding perlahan-lahan di antara pepohonan sambil sesekali memetik tangkai midding (pakis) yang masih segar. Sudah merasa cukup dengan hasil midding yang diperolehnya dan kelihatannya matahari pun sudah mulai tinggi pertanda hari sudah siang. Lalu Mak Midding pun pulang menuju rumahnya. Midding tidak langsung dibawanya pulang ke rumah, tetapi dijualnya dulu ke rumah tetangga dengan harapan dapat ditukar dengan beras dan garam. Demikianlah pekerjaan Mak Midding dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun. Waktu terus berlalu, hingga kini Yani sudah mulai menginjak usia sekolah. Kalau nasib kurang mujur, kadang-kadang Mak Midding pulang tanpa membawa beras dan garam.
Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, pada suatu pagi Mak Midding jatuh sakit. Mak Midding memanggil Mohyani.
“Nii ….. Ni”, panggil Mak Midding kepada Mohyani.
“Iya, Mak. Ada apa, Mak …?”, tanya Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Aduuuuh ….. aduuuhhh ….., aku sakit, Ni, ndak rabbah aku na’ midding ari to’ ke uttan, Ni”, kata Mak Midding kepada Mohyani sambil merintih kesakitan.
“Mane barras kite udah abis, Ni. Bagaimane carenye kitte nak makan to’, Ni?”, tambah Mak Midding kepada Mohyani.
“Ooh Mak, bagus aku paggi ke rumah Mak Ussu. Aku na’ minjam barras barang dua’ canting”, kata Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Aok beh Nong, mun dipinjamme’-‘eng, cobe we kau paggi dolok ke rummah Mak Ussumu e”, kata Mak Midding kepada Mohyani.
“Aoklah Mak, aku paggi dolok Mak i?”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok, ati-ati dijalan e”, kata Mak Midding berpesan kepada anaknya.
Jadi berangkatlah Mohyani menuju rumah bibinya Mahoni, dengan harapan akan mendapatkan pinjaman beras barang (sekitar) secanting atau dua canting (sekaleng atau dua kaleng). Langkah demi langkah yang kadang-kadang diselengi dengan berlari-lari kecil tibalah Yani atau Mohyani di rumah bibinya.
“Oi Mak Su, Mak Su”, panggil Mohyani dari luar rumah Mak Su nya (bibinya).
“Kau ke Ni … ade ape …? Naiklah Ni …..”, sahut bibinya dari dalam rumah.
“Duddok, Ni”, kata bibinya kepada Mohyani.
“Iye, Mak Su … Mak Kaseh”, jawab Mohyani.
“Kak, ye …ade ape, Ni?”, tanya bibinya kepada Mohyani.
“Ummak be sakit, sedangkan kamek uddah kehabissan barras. Rasenye be, nak minjam barras, rang si canting atau dua’ canting”, sambung Mohyani.
“Eh … ndak jarreh be nak minjam ye. Kallak kau ku barrek barras rang sicanting, asalkan maok nguttu aku”, kata Mohani.
“Bagaimane Ni, maok ke?” tanya bibinya.
 “Aok we Mak Su. Ape salahnye we”, jawab Mohyani kepada bibinya.
Mohyani pun dudukah di belakang bibinya sambil mencari kutu di kepalanya. Lama juga menghilangkan kutu yang ada di kepala bibinya itu. Setelah beberapa jam berlalu, selesailah sudah tugas yang dilakukan oleh Mohyani, yaitu menggutu bibinya.
“Dah sek age’ macam nye tok e, Mak Su guttunye. Tang ndak ade age’ yang ku liat tok e” kata Mohyani kepada bibinya.
“Ye ke … Mun dah dissek agek e, uddahlah. Kau balik udek”, jawab bibinya.
Kemudian, pulanglah si Mohyani ke rumahnya dengan membawa secanting beras. Setibanya di rumah, Yani pun segera memberi tahu kejadian itu kepada ibunya.
“Oh Mak, Mak. Ade mak e barrasnye, tappi cume secanting na-‘ang, Mak”, kata Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Tak apelah, syukor bannar Mak Ussumu maok minjammek, biar sicanting” jawab ibunya.
“Cobe kau masak barras iye”, tambah Mak Midding kepada anaknya Mohyani.
“Aok Mak. Aku ke dapor lok i”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok”, jawab ibunya singkat.
Beraspun segera dimasak oleh Yani, karena ia tahu pasti ibunya sudah lapar. Tanpa dikira dan dibayangkan, dan tanpa permisi kepada Mohyani atau Mak Midding, bibinya Mahoni masuk ke rumah Mak Midding dengan tergopoh-gopoh serta dengan suara yang agak nyaring.
“Oi Ni, Ni, kau be mbulaek aku. Jimmu be guttu di kepalak ku uddah abis, nyatenye be maseh ade tok e … waktu ku sisser, ade nang belabbik. Kaccik-kaccik kau dah pandai nak bullak i”, kata sang bibi kepada Mohyani.
“Mun gayye, aku ndak jadi nak marrek kau barras”, lanjut si Mahoni marah.    
Rupanya dengan adanya kutu yang jatuh dari rambutnya Mahoni menjadi sangat marah sehingga keluarlah kata-kata dari mulut Mahoni yang tidak sedap didengar telinga. Lebih-lebih beras yang telah diberikannya kepada Yani akan diambilnya kembali. Dengan muka yang agak pucat berbaur dengan perasaan yang sedih, Mohyani berkata kepada bibinya.
“Oh Mak Su, Mak Su, barras nang Mak Su barrekkan uddah kumasak, sadangkan kencengnyepun maseh tijarang di atas tungkok nun we”, kata Yani menjelaskan kepada bibinya.
Dengan tanpa merasa kasihan, bibinya terus menuju dapur mengangkat belanga’ yang masih tijarang seraya mengeluarkan isinya. Isinya (nasi) diletakkan di atas daun pisang, yang kebetulan pula ada daun pisang di atas kayu api. Nasi itu lalu dibungkus oleh Mahoni, dan tanpa bicara lagi langsung ia bergegas pulang ke rumahnya. 
“Saggal lalu Mak Ussu, cume gare-gare sekkok guttu sampai ati die ngambek nasek nang udah dijarangkan. Mudah-mudahan die dapat hukuman, dapat balla yang setimpal dangngan perbuatanye”, guman Mohyani. 
“Uddahlah Nong, Nong…mungkin uddah nasseb kitte. Nang panting kitte ndak boleh bebuat jahhat dangngan urrang”, kata ibunya menentramkan hati anaknya, Mohyani.
Sisa-sisa nasi yang masih melekat di dalam belanga itu dikumpulkan oleh Mohyani, tetapi apa hendak dikata lagi, nasi yang melekat di dalam belanga itu satu dua sendok saja. Itupun dalam bentuk kerak nasi yang agak hangus. Nasi hangus itulah yang mereka makan.  
Selang beberapa hari kemudian, melihat keadaan yang semakin memprihatinkan berkatalah Yani kepada ibunya yang terbujur di pembaringan karena sakit.
“Mak, Mak, bagaimane mun aku ajak yang incarek midding ke uttan. Ummak kan maseh sakit. Nak minjam dangngan mak Ussu, gayyelah rupenye die, Mun ndak ade nak dimakan, badan Ummak kallak mangkin lammah. Yani takut Ummak kallak kenape-nape”, kata Mohyani kepada Mak Midding dengan sedikit nada memohon.
“Mun kau dah maok, paggilah Nak, tappi ati-ati di jalan, ati-ati di uttan. Di uttan banyak ullar, lippan, kale, intiggik, dan macam-macam agek”, kata Mak Midding perlahan-lahan berbicara kepada anaknya Mohyani.
Mohyanipun pergilah ke hutan sambil menggendong bakul dan membawa sebilah parang. Waktu itu hari sudah agak sore. Tidak seperti biasanya, kali ini Mohyani mencari midding di sore hari selepas sembahyang Asyar. Dipetiknya midding satu persatu, sehingga terkumpullah untuk makan sore itu. Asik sekali Mohyani memetik midding di sore itu. Ketika ia lagi asik-asiknya memetik midding. Tiba-tiba Mohyani dikejutkan oleh seekor ular besar, ular phiton (ular sawak). Namun, dilihatnya ular phiton itu terjepit disebuah pohon. Oleh karena ular itu sudah terjepit dengan keadaannya yang demikian, Mohyani tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berkata kepada ular tersebut dengan suara yang lemah lembut.
“Oi ….. Sawak, mun kau nak makan aku, makanlah ….. Aku jak urrang miskin, ummak ku sakit. Aku incarek midding jak kan ummakku, kan kamek makan”, kata Mohyani kepada si ular sawah.
Di luar dugaannya, dikiranya ular itu setiap saat dapat saja membelit dan menelannya. Akan tetapi sebaliknya, ular itu membalas kata-kata Mohyani dengan lembut pula.
“Ndaan, aku jak ndaan nak makan kau, malah aku nak mbantok kau”, ujar ular sawah tersebut.
“Tappi maok ke kau nullong aku. Mun kau maok, bawaklah aku ke rumahmu”, lanjutnya.
“Bagaimane carenye”, tanya Mohyani kepada si ular phiton atau ular sawah tersebut.
“Gampang ye be, tarik ajak we ekokku. Aku jak daan barrat. Cobelah …..!”, kata si ular kepada Mohyani.
Mohyanipun pelan-pelan dengan perasaan agak takut mulai menarik ekor ular tersebut hingga datang ke rumahnya tanpa merasa lelah sedikitpun. Setelah tiba di rumahnya, ular sawah tersebut disuruh oleh Mohyani melingkar di bawah rumahnya. Kemudian Mohyani menyiangi midding yang didapatnya untuk makan malam bersama ibunya tercinta. Setelah selesai memasak midding, merekapun memakan sayur midding dengan lahapnya. Maklum hanya midding saja yang tersedia pada saat itu. Untunglah tidak seorangpun yang tahu bahwa Mohyani membawa ular besar itu ke rumahnya, sehingga keadaan tetap tenang dan aman. Namun setelah makan dan hampir tiba waktu sholat Isya, Mohyani berkata kepada ibunya.
“Mak ….. tade’ we waktu aku incare’ midding, aku be meliat ullar bassar innyan, Mak. Ullar sawak, Mak”, kata Mohyani kepada Mak Midding.
“Mane diye?”, tanya ibunya kepada Mohyani. 
“Ndak ke die ngi’git kau”, tanya ibunya lebih lanjut kepada Mohyani.
“Ndak be Mak, katenye die jak nak nullong kitte. Die nak tinggal same-same dangngan kitte, katenye Mak”, kata Mohyani menjelaskan kepada ibunya.  
Setelah Mohyani dan Mak Midding makan malam, terdengarlah suara yang begitu pelan namun sangat jelas terdengar dari bawah rumah Mak Midding. Suara itu memanggil-manggil Mohyani. Suara itu tiada lain adalah suara si ular phiton atau ular sawah yang berada di bawah rumah Mohyani.
“Ooooooi Ni, Ni, dah lama aku terbaring di bawah rumahmu. Tapi, sampai kin itto’, aku ballom mendengar kau masak nase’. Nang kau makan dangngan ummakmu cume sayok midding nak ‘ang. Ape ke kitta’ se’ be barras?”, tanya si ular sawah yang berada di bawah rumah Mak Midding.
“Jak dah innyan sawak e. Dah lamak kamek ndak merase barras, sibuttekpun ndak ade nak dimasak”, ujar Mohyani kepada si ular sawah atau ular phiton.
“Berape ari yang lalu be, aku paggi ke rumah Mak Ussuku, aku nak minjam barras. Tappi, kate Mak Ussuku, die maok marrek sicanting, tapi dangngan syarat, aku harus nguttu die dolok. Dah lakkaklah aku nguttu Mak Ussuku, barroklah aku dibarreknye barras sicanting. Tappi be, taggal maseh ade sekkok guttu yang belabbik dari kepalaknye, barras nang sicanting iye diambeknye agek”, lanjut Mohyani kepada si ular sawah.
“Kajjam lalu Mak Ussumu i. saggal lalu diye dangngan kittak” kate si ular sawah kepada Mohyani.
“Sek lalu ke barras kittak? Cobelah liattek, kallu-kallu ade di timpayan marrassan dua tigge igek”, lanjut si ular sawah kepada Mohyani.
Memang sebelumnya di dalam tempayan itu sudah ada sebiji keminting, sebuah batu kecil, dan sebatang paku. Ketiga benda tersebut ditemukan oleh Mak Midding sewaktu dia mencari midding disekitar rumahnya. Karena dianggapnya aneh, lalu disimpannya ketiga benda tersebut di dalam tempayan tempat menyimpan beras. Orang Sambas biasanya menyebut barang tersebut dengan sebutan “pekarras“ buat beras agar tidak didatangi oleh hantu sarrau (boros).
Kemudian Mohyani melihat tempayan tempat mereka menyimpan beras.
“ ‘A … ade tige buttek, Wak”, kata Mohyani kepada sang ular sawah.
“Maok di apekan to’ e, dimasak ke?”, tanya Mohyani pula.
“Eh mane cukup we”, jawab si ular.
“Buatkan aku kassai lager”, pinta si ular sawah kepada Mohyani.
“Untokkan ape, Wak?”, tanya mohyani keheranan.
“Ehh, ndak usah ditanyakkan ‘age’. Cumme passanku, mun kittak bangun tangngah malam, ussah nak tikajjut ajak i”, kata sang ular sawah kepada Mohyani.
Mohyanipun mengambil ketiga beras tersebut dan menumbuknya di dalam lesung batu. Kemudian diberinya air sedikit sehingga menjadi agak kental. Kemudian Mohyani mengikis-ngikis kulit pohon lager. Setelah kikisannya dirasa Mohyani cukup, maka disatukannya dengan tepung beras tersebut. Dan diletakkannya kassai lager (tepung beras dicampur kikisan kulit kayu lager) tersebut di atas sehelai daun dan diserahkannya kepada sang ular.
Ketiga butir beras yang ditemukan Mohyani dicelah buah keminting itulah, oleh ular diminta agar Mohyani membuatnya menjadi tepung. Dan tepung itu diberi sedikit air sehingga menjadi cairan kental, ditambah sedikit kikisan kulit kayu lager, yang disebut dengan kassai langger. Oleh sang ular, kassai langger itu nantinya akan dipoleskan di sekeliling keningnya seperti layaknya seorang pengantin wanita agar tampak cantik dan berseri.
Setelah semuanya beres, Mohyanipun masuk ke kamarnya mendampingi ibunya yang sudah sejak dari tadi berbaring melepaskan lelah. Keadaan semuanya hening, dan tidak lama kemudian merekapun tertidur. Sang ular sawah mulailah dengan rencananya. Kassai langger yang sudah ada di dekatnya, diambil dan dipoleskan disekeliling keningnya sambil membaca mantera dan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga dirinya dikembalikan kepada wujud aslinya. Dengan kekuasaan Tuhan yang telah mengabulkan do’a sang ular. Perlahan-lahan wujud ular itu berubah menjadi manusia. Berkat do’a sang ular, rumah Mak Middingpun berubah menjadi sebuah bangunan yang indah seperti istana raja. Memang sang ular sebelumnya adalah seorang putera raja. Tetapi karena suatu kesalahan yang diperbuatnya, ia disumpah berubah menjadi wujud seekor ular sawah yang besar. 
Begitu kokok ayam pertama terdengar, sang putera raja kembali menjadi ular. Kemudian Mak Midding dan Mohyanipun terbangun dari tidurnya yang lelap. Alangkah kagetnya mereka berdua, karena rumahnya yang tadinya reot sekarang telah berubah menjadi seperti istana. Tidak hanya itu, semua pakaian yang melekat di badan mereka semuanya telah berubah menjadi baru dan indah. Mereka juga mempunyai perhiasan-perhiasan yang indah gemerlapan melingkari pergelangan tangannya dan jari mereka. Mak Midding dan Mohyani menjadi bingung dan keheranan. Mereka saling pandang, dan Mohyani berkata kepada ibunya, Mak Midding.
“Ittok di barangkali Mak, nang dikatekan Sawak e, kittak ussah nak tikajjut, kate si ular kepade kitte simalam e”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok di Nong kallinye, kitte jak miskin. Ittok juak barangkali Tuhan Yang Maha Kuase nak nullong kitte, tapi lewat si Sawak”, sahut Mak Midding pula.
Teringat akan sang ular sawah, mereka berdua bergegas mendatanginya dan memanggilnya. Kali ini sang ular sudah berada di tempat tidur yang indah.
“Oi ….. Sawak, trima’ kaseh i, atas bantuanmu ngan kame’. Mun ndak gayye ndak mungkin kame’ na’ gai-tok”, kata Mak Midding kepada si ular sawah atau ular phiton.
“Mak kaseh atas bantuannye i ngan kame”, tambah si Mohyani kepada si ular.
“Aok be, yang namenye kitte iddup tantulah saling membantok”, jawab sang ular.
“Mun kittak ndak kebarattan, aku be rase nak minta’ tullong buatkan kelambu tujjoh lapis. Lapis pertame warnenye ittam, lapis kedua’ warnenye putteh, lapis ketige warnenye kunning, lapis keempat warnenye ijjau, lapis kelimma’ warnenye putteh agek, dan lapis keannam warnenye kunning agek, yang terakher ke tujjoh warnenye ittam agek”, pinta sang ular sawah kepada Mak Midding dan Mohyani.
Oleh karena telah dibantu, tanpa banyak bicara Mak Midding beserta anaknya Mohyani dengan senang hati menerima permintaan itu untuk membuat kelambu tujuh lapis dengan warna-warna yang sudah disebutkan oleh si ular sawah tersebut. Dengan kehidupan mereka seperti itu, Mak Midding dan anaknya Mohyani semakin merasa dekat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka juga dekat kepada orang-orang kampung apalagi kepada tetangga-tetangganya mereka tidak segan untuk memberikan bantuan.
Pada suatu hari, berita tentang kekayaan dan kemurahan hati Mak Midding terdengar di telinga Mahoni, bibinya Mohyani.
“O, Mak!, Aku rase nak nyumpaek cuccokmu dolok. Dah lamak aku ndak ke rumahnye. Ummak tinggal i?”, kata Mahoni kepada ibunya, Nek Timmah.
“Aok …”, jawab ibu Mahoni singkat.
Setelah memberitahukan keinginannya, Mahonipun berangkatlah menuju rumah Mak Midding saudaranya itu. Setelah Mahoni tiba di tempat saudaranya Mak Midding, Mahoni begitu kaget dan terbengong-bengong menyaksikan di tempat rumah Mak Midding dan Mohyani itu telah berdiri sebuah bangunan indah bagaikan istana raja.
“Tang bagus innyan i, ittok ke rumah Mohyani”, kata Mahoni dengan suara yang agak keras keheran-heranan menyaksikan rumah yang begitu indah. Rumah yang selama ini tidak pernah dilihatnya sama sekali. 
“Ohhh … Mak Ussu ke?”, tanya Mohyani.
“Naiklah Mak Su, silekan naik”, lanjutnya kepada bibinya. 
Dengan perasaan gembira, Mohyani segera melayani bibinya dan menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi terhadap mereka. Seolah-olah Mohyani telah bersuamikan seekor ular sawah yang besar. Setelah agak lama berada di rumah keponakannya itu, Mahonipun pulang. Namun sebelumnya, ia berpamitan dengan Mak Midding dan Mohyani keponakannya. Setibanya di rumah, apa yang telah didengar dan dilihatnya, diceritakannya lagi kepada ibunya Nek Timmah. Sehingga Mahonipun ingin mencoba berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh keponakannya, si Mohyani.
“Mak …. Mak, aku be tang carrat innyan nak incarek midding juak”, kata Mahoni kepada ibunya.
“Ussah nak berani gillak, Ni. Banyak ullar di uttan ye. Ape age’ ari dah sore to’ e”, bantah Nek Timmah.
“Tappi, Mak. Aku kan carrat juak nak macam Mohyani. Masak die bisse, aku ndak bisse”, rengek Mahoni meminta izin kepada ibunya.
“Aoklah dah mun gayye maokmu e. ati-ati ajak di uttan e”, kata ibunya mengizinkan.
Oleh karena niat dan hasrat Mahoni yang kuat, sehingga ia berkeinginan untuk meninggalkan rumahnya pergi ke hutan rimba untuk mencari midding (pakis). Namun yang ada di dalam hatinya hanya untuk mencari atau untuk menjumpai ular yang besar seperti keponakannya. Setelah sekian lama berjalan masuk hutan belantara yang lebat. Tidak lama kemudian Mahonipun melihat seekor ular yang sangat besar. Besar ular itu sama persis sebagaimana apa yang diceritakan oleh Mohyani kepadanya. Mahoni mencoba berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh Mohyani. Namun, apa yang terjadi? Kejadiannya tidaklah sama sebagaimana yang diharapkan oleh Mahoni. Apa hendak dikata, niat dan harapan Mahoni tidak pernah kesampaian. Ular yang ditarik ekornya itu, serta merta berbalik langsung mematuk badan Mahoni. Sehingga dengan seketika itu juga ia pingsan dan akhirnya meninggal dunia.
Setelah kejadian itu, ular yang berada di rumah Mohyani dan Mak Midding dengan seketika berubah wujud menjadi seorang putera raja. Seorang manusia yang gagah perkasa dan ganteng rupanya. Putera raja tersebut akhirnya mempersunting Mohyani menjadi istrinya yang sebenar, tidak seperti waktu ia menjadi ular. Mereka kini tinggal serumah tidaklah sama dengan waktu ketika ia menjadi seekor ular sawah. Sejak hari itu mereka hidup dengan damai dan dalam suasana yang bahagia. Kejadian yang menimpa Mahoni adalah pembuka kutukan atau sumpahan yang dialami oleh si putera raja.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...